Lagi rame bahas Tan Malaka (lagi), berikut salah satu vidio Mas Zen atau Esai Pendek terkait mengapa Gen Z yang menggandrungi Tan Malaka.
Mas @pangeransiahaan juga bilang bahwa 2011 dirinya sempat membawa banner Tan Malaka dan sebelahnya mengira Tan adalah seorang Caleg.
Itu beneran akunnya ZenRs?
Kalo iya, mestinya respon yang baik adalah: baca, diam, koreksi diri, dan jangan bebal.
Lagipula siapapun lawan bicaranya, responnya sangat tidak STOIK;
Berusaha mengontrol keadaan dengan berputar putar, kayak ga terima dikoreksi 😂😂😂😂
🗣️Kaká mengenang masa sulitnya di Real Madrid. 🥺🥺🥺
Ferdinand: Bagaimana kamu merefleksikan masa kamu di Real Madrid?
Kaká: Aku datang dari Milan untuk menjadi pemain terbaik dunia, untuk bermain di Real Madrid dan kalau kamu Google sekarang "transfer terburuk Real Madrid", aku akan jadi yang pertama, bareng Hazard. Jadi kamu lihat, kalau kamu Google itu, kamu akan lihat.
Ferdinand: Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri.
Kaká: Masalahku di Madrid pertama karena cedera, dan kedua karena pilihan pelatih. Mourinho. Dia lebih memilih pemain lain dan itu sangat bagus, karena pemain yang bisa kusebutkan itu pemain luar biasa. Özil, Di María, Benzema, Cristiano... dan aku. Pemain-pemain itu berebut 1-2 tempat di tim. Jadi sebagian besar waktu dia memilih pemain lain.
Masa itu sangat penting buatku karena aku mencoba melakukan segala yang kubisa untuk menunjukkan padanya bahwa aku bisa dapat waktu bermain lebih banyak, lebih konsisten. Di saat yang sama, aku punya masalah pribadi dengan identitas. Siapa aku ini? Aku pemain terbaik dunia atau aku salah satu transfer terburuk Real Madrid dalam beberapa tahun terakhir?
Dan di masa itu iman sangat penting bagiku juga, karena aku benar-benar sadar bahwa aku bukan pemain terbaik di dunia dan aku bukan transfer terburuk Real Madrid. Tuhan mengasihiku di setiap situasi, di setiap momen.
Kalau aku tampil sangat bagus di Milan, itu sangat bagus. Itu hanya periode hidupku di mana aku bisa tampil baik dan Tuhan memberkatiku di sini. Dan di sini, kalau aku tidak bisa tampil sebaik-baiknya, bahkan kalau aku melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan di sana, aku tidak bisa tampil, aku tidak bisa mengontrol hasilnya. Apa pun yang terjadi, Tuhan tetap bersamaku di situasi itu juga dan aku bersyukur bisa di sini juga.
Setiap kali mereka melihatku, mereka bilang, "Lihat, klub ini milikmu, senang kamu ada di sini."
Hari saat aku pergi dari Madrid, Florentino meneleponku. Aku ke kantornya dan dia bilang, "Lihat, tentu kami tidak dapat hasil yang diinginkan semua orang, tapi kami sangat senang kamu bermain untuk kami. Kamu selalu sangat jujur, profesional, integritasmu luar biasa. Kamu tidak pernah bicara buruk tentang klub, atau pelatih, atau apa pun di sini."
Kalau aku bahagia dengan diriku hari ini, itu karena aku pernah mengalami masa itu.
Rabu, 10 Juni 2026. Satu hari. Dua pernyataan dari gubernur yang sama.
Pertamax baru naik hampir Rp4.000 per liter.
Pramono Anung keluar dengan solusi:
"Dengan kenaikan BBM ini, peluang orang untuk naik transportasi umum juga makin besar."
Di hari yang sama, Pramono juga mengonfirmasi tarif Transjakarta dan Transjabodetabek akan segera disesuaikan ,dari Rp3.500 ke kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Tiga sampai empat kali lipat.
Jadi jalan keluarnya dari BBM mahal adalah naik Transjakarta. Dan Transjakartanya sendiri sedang akan naik tiga kali lipat.
Pertamax naik → pindah ke Transjakarta. Transjakarta naik → pindah ke mana?
Ini bukan soal salah satu kebijakan.
Ini soal pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Rupiah melemah → biaya impor naik → BBM naik → biaya hidup naik → subsidi tertekan → tarif transportasi umum naik.
Setiap domino jatuh ke rakyat.
Tarif Rp3.500 itu bertahan lebih dari 20 tahun , bukan karena pemerintah lupa menaikkan, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa dijangkau jutaan orang yang tiap hari menggantungkan mobilitas hidupnya pada angkutan umum.
Alasan pemerintah menaikkannya sekarang: subsidinya terlalu besar.
Pertanyaannya bukan apakah subsidi perlu diefisiensikan.
Pertanyaannya adalah: di negara yang APBN-nya 3.800 triliun, yang program prioritasnya saja terbukti bocor di mana-mana, kenapa yang pertama dipangkas selalu yang dipakai rakyat , bukan yang dinikmati kekuasaan?
Dari pengumuman ini, menarik untuk membaca analisis Guillermo Rai di The Athletic soal tawaran €150 juta Real Madrid untuk Julian Alvarez.
👉Menurut Rai, ini bukan operasi transfer untuk membawa Alvarez ke Santiago Bernabeu. Tawaran itu hanya pernyataan niat dari Perez yang baru terpilih kembali.
Kalau analisis itu tepat, maka yang sedang dimainkan Madrid bukan mencari striker. Mereka sedang memainkan pasar.
Perez tahu Barca jadikan Alvarez target utama. Jadi, Madrid masuk dengan nilai tinggi. Harga pasar Alvares otomatis naik. Barcelona terpaksa ikut harga pasar yang sudah dipatok Madrid.
Jika Barcelona tetap kejar Alvarez, uang yang disiapkan harus lebih besar. Kalaupun Barca mundur, sudah pasti kehilangan Alvarez. Jika Atletico akhirnya tetap jual Alvarez misalnya, mereka dianggap sudah kehilangan salah satu pemain pentingnya.
Sementara Madrid bisa saja tidak dapat Alvarez, tetapi sudah berhasil ganggu dua rivalnya, ATM dan Barca.
The Athletic sebut situasi ini sebagai Florentino chess.
Salah quote tadi anyiing. Maap min @SeputarMadrid 😭😭
Mau naroh ini ada terjemahan bahasa Indonesianya. Kaget juga waktu Mukmin bawain stand up gimmick absen kayak gini, apakah karena memang terinspirasi di sini atau memang jenius aja kepikiran ngabsen.
Memang banyak yang konteksnya membingungkan untuk orang Indonesia tapi kayaknya kita bisa paham sih sedikit-sedikit.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Mulai Selasa, 26 Mei 2026, seluruh aktivitas pelayanan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) & Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) di Terminal Cicaheum, Kota Bandung ditutup & dialihkan sepenuhnya ke Terminal Leuwipanjang.
Kawasan Terminal Cicaheum nantinya akan dialihfungsikan menjadi depo utama Bus Rapid Transit (BRT).
Meskipun layanan telah dialihkan, masa transisi masih menyisakan sejumlah aktivitas di Terminal Cicaheum. Beberapa calon penumpang yang belum mengetahui kebijakan ini masih datang ke lokasi.
Untuk mengantisipasi kebingungan, pengelola terminal melakukan sosialisasi melalui pengeras suara serta memberikan arahan.
(https://t.co/33JqBzZ8ht)
🗣️ Arda Güler: 'Do you remember Alex Hunter? Some of you are probably too young. But FIFA 17 had this mode called The Journey, and you played as this random kid named Alex.
You started out as a nobody and tried to get signed by the big clubs. If you “made it,” they would show you going out of the tunnel next to stars like Cristiano Ronaldo.
It was more than a game for us. It was our actual dream, on the TV screen. We were so addicted. Every time I came home from my friends’ house, I begged my dad for a PS4.
“I’ll be so good! I’ll study so hard!”
One day when I came home from school, there was a package on the kitchen table. It was a PlayStation shaped box.
I went crazy.
I looked at him like, “Really?!”
He said, “Really.”
When I switched it on, there were lots of games on the PlayStation already. No disc required. It seemed almost too good to be true. I was like, Wait, I had to beg Dad for one game, and now he’s giving me 20?
I asked him, “Hey Dad, did you win the Lottery?”
He was like, “Actually …… I got a deal.”
I was like, “You mean at the store?”
He was like, “No, no, at the market …….”
Then I found out that my FIFA had no Journey mode. I couldn’t find Alex Hunter. Some of the names were weird. When I wanted to be Cristiano Ronaldo, I had to select this club called “MD White.”
I played like this for weeks. I had never tried any other football game except FIFA, so I honestly thought mine was just a different version. But then one day my friends came over to play, and they were like, “Arda ........ what is this?”
I said, “What do you mean? It’s FIFA.”
I said, “No, come on guys, this is the football game.”
They said, “Bro, where is Fenerbahçe? What are all these weird names?
Your dad got scammed.”
They were all cracking up. I was trying to laugh along with them, but I was actually so embarrassed.
But I didn’t care that I had the fake FIFA. I loved it anyway. I don’t need a real pitch or a real goal or a new PlayStation. Even if I have rocks for goalposts, I am happy.
That’s the Turkish mentality.'
Mall rame bukan indikator ekonomi sehat.
Kadang justru sebaliknya, itu tanda orang sedang cari pelarian dari tekanan yang mulai berat.
Lipstick Effect mengajarkan satu hal:
Jangan ukur kesehatan ekonomi dari apa yang kelihatan di permukaan.
Lihat data.
Kalau thread ini bikin kalian mikir, RT biar yang lain juga bisa baca 🙏
6 Reasons Why Fans Are Disappointed With The Boys
- Homelander doesn’t feel scary anymore
- Too much plot armor for The Boys
- The focus shifted from Supes vs Boys to random side conflicts
- Starlight and Hughie Campbell lost their chemistry
- Repetitive powers and boring fight scenes
- Feels more like setup for spin-offs than a proper ending
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
@dhanyindraswara Tentu ada rasa khawatir itu, tapi definisi suksesnya bukan menjadi sesuatu, melainkan membuat/berbuat sesuatu. Lebih khawatir saat dewasa tidak bikin apa2 daripada tidak jadi apa2. :)
Maka, jangan tanya pada anak kalau besar kamu mau jadi apa, tapi tanyakan apa karyamu nanti?
Open trip nostalgia bareng bus klasik Sumber Alam hadir kembali bersama armada Fuso & Dodge, siap menemani perjalanan penuh kenangan.
• Keberangkatan pagi sekitar pukul 08:00 dari Kutoarjo, Jawa Tengah.
• Tujuan Pool PO Sumber Alam, Pondok Ungu, Bekasi.
• Jumat, 15 Mei 2026.
(Instagram: Sumber Alam)