Jahatnya gak kira-kira emang hakim dan jaksa ini. Mereka masih ngeyel Nadiem ada Kepentingan dengan Google. Padahal, pada saat ditantang oleh Nadiem untuk menghadirkan pihak Google, Jaksa takut terbongkar bohongnya. Lalu, pada saat Nadiem sendiri yang menghadirkan Google di persidangan, dan Jaksa tidak bisa mendebat fakta bahwa Nadiem benar, Jaksa dan hakim tidak mau menerima bukti dan fakta tersebut.
1/3
prabowo lagi lagi masuk media asing karena:
- Bank asing pilih cabut daripada ikut agenda Prabowo
- 11,5 triliun rupiah juta ditarik Citigroup, StanChart, HSBC sejak 2024
- OJK diduga lobi bank untuk biayai MBG & Kopdes
- Sebab takut kebijakan Prabowo terlalu dikuasai negara
- Danantara minta pinjaman $10 miliar bank merasa ditekan
- Rupiah melemah makin tidak menarik simpan uang di sini
- Danantara jual obligasi bunga 2% ke konglomerat
- Danantara dikecualikan dari pengawasan pajak & hukum
- danantara tidak pernah rilis laporan keuangan
- analis khawatir jadi sarang uang kotor
Kalo dilihat-lihat, jabatan yg sering dibagiin ke simpatisan itu komisaris ya. Tau gak kenapa komisaris ini jadi jabatan yg suka dibagiin dengan gampangnya?
Ya, karena jabatan komisaris itu :
> Kerjanya cuma ngawasin & ngasih masukan ke direksi
> gak megang operasional
> gak nentuin keputusan harian
Dan kenapa pada mau dikasih jabatan ini?
> Gajinya gede
> Gak butuh kompetensi teknis spesifik
> modal "dipercaya" aja udah cukup
> Gak ada KPI yg jelas buat dievaluasi publik
> minim risiko keliatan "gagal"
> Bisa diisi tanpa proses seleksi terbuka & gak butuh izin teknis
Beda sama direksi, itu pegang operasional langsung, kalo perusahaan ambruk ketauan siapa yg salah. Makanya posisi ini jarang dipake buat "bagi-bagi kursi".
buat yang belum tahu ini kasus paling gila :
- Lippo jual apartemen ribuan unit, iklan gede-gedean, banyak yang beli & cicil
- Uang sudah masuk ke Lippo konsumen bayar cash atau KPA bank
- Bangunan tidak jadi mangkrak, tower terbengkalai
- Konsumen nagih disuruh sabar, tunggu 2027
- Minta refund ditolak
- Protes di medsos malah digugat pencemaran nama baik
- Sekarang lahannya mau dihibahkan ke pemerintah untuk rusun subsidi
- denger2 sih hibah ini kagak gratis
- dobel cuan dpat dari rakyat , dapat dari pemerintah
tulisan ini bukan tuduhan hanya fiktif belaka
Salah satu kehilangan momentum terbesar bangsa:
Indonesia sedang membuang peluang emas mencetak generasi intelektual terbaik, tepat di depan mata, tepat saat Indonesia Emas 2045 tinggal 19 tahun lagi.
Ribuan anak muda Indonesia berbakat yang seharusnya bisa dikirim kuliah ke luar negeri belajar kecerdasan buatan, nuklir, teknik antariksa, bioteknologi, dan kedokteran canggih justru tidak mendapat beasiswa karena anggarannya sudah habis terserap untuk program MBG + Kopdes
Rp335 triliun APBN 2026 dialokasikan untuk memberi makan siang.
Bukan untuk mengirim satu generasi pelajar terbaik ke universitas terkemuka dunia.
Bukan untuk membangun 100 laboratorium riset kelas dunia.
Bukan untuk mencetak 50.000 insinyur dan ilmuwan yang bisa membawa Indonesia loncat ke era industri maju.
Bandingkan saja: beasiswa LPDP 2026 hanya menyentuh sekitar 5.000–7.000 penerima per tahun dengan anggaran di bawah Rp5 triliun.
Sementara MBG mendapat 67 kali lipatnya.
Dengan Rp335 triliun, Indonesia bisa mengirim 1 juta mahasiswa kuliah S1 penuh selama 4 tahun ke universitas terbaik dunia. Atau membiayai 3 juta mahasiswa S1 di universitas dalam negeri terbaik lengkap dengan biaya hidup. Atau membangun 500 pusat riset dan inovasi teknologi di seluruh Indonesia.
Akhirnya
kita akan sampai di 2045
dengan perut kenyang
tapi
masih mengimpor teknologi,
masih mengimpor insinyur,
masih mengimpor solusi dari bangsa lain yang justru hari ini sedang serius mencetak ilmuwan mereka.
Sejarah 1965 kehilangan satu generasi intelektual karena paksaan politik.
Sejarah 2026 berpotensi kehilangan satu generasi intelektual karena salah prioritas anggaran.
Dua jalur kehilangan yang berbeda. Tapi akibatnya bisa sama besarnya.
masih inget gue bapak Suderajat yang jualan es gabus, tiba-tiba disamperin 4-5 orang aparat mau beli es gabusnya lalu dibejek-bejek, dilempar ke mukanya, ditendang, ditonjok pake cincin gede, dijejelin es gabusnya “biar kamu aja yang modar ya”, disuruh minum air comberan, dipaksa ngaku itu es gabus dari busa, sampe trauma gak jualan lagi takut dikeroyok, beliau dhuafa, punya 5 anak cuman 2 yang sekolah, pedih hati gue. terus ngeliat penangkapan Taufik Hidayat, masih mulus, aparatnya haha hihi sambil selfie bareng, sedangkan korban ngomong aja kesulitan. oalah ternyata “sudah kenal” gatau sih gue ni orang bakal bisa “diapa-apain” oleh napi lain apa nggak yaa, bisa aja ditempatkan dalam sel khusus, tolong banget dikawal dan dikulitin yang terkait juga
Semakin lu berusaha menyembunyikan, menyensor, atau melarang suatu informasi, orang-orang malah bakal makin brutal buat nyari tahu.
Kamera wartawan boleh aja mati, tapi penguasa nggak bisa menghentikan kebocoran informasi dari rekaman suara HP yang disembunyiin di kantong peserta.
Semakin informasi itu dilarang, bocorannya bakal makin liar dan digoreng habis-habisan oleh netizen tanpa bisa dikontrol lagi narasi aslinya oleh pemerintah.
Inti dari pidato kali ini adalah:
- Puja puji peran Guru Besar
- Bahas perang ukraina
- Cerita panjang lebar 4x kekalahan dia di Pemilu
- Kedaulatan rakyat (?)
- Gak suka gaduh2, bakar2, ribut2 karena tidak produktif
- Sering ke kampus minta orang2 pintar (?)
- Nanya kenapa harus impor gandum (?)
- Indonesia 81 tahun tidak bisa buat mobil sendiri (???)
- Kepuasan mendalam ketika sudah dilantik, bisa naik mobil Garuda
- Bahas mobil bocor kalo hujan 😂
Kalimat andalan yang keluar lagi:
- Kita adalah negara dengan kekayaan yang luar biasa
Ditutup dengan ngajak wartawan ngopi2
yg dirasakan warga sekaligus orang tua:
"kami takut, setiap hari kami harus menyebrangi sungai. pagi antar anak, siang kami jemput"
yg dipikirkan pemerintah:
"ahaaa, mereka ini pasti butuh dapur MBG & kopdes merah putih krn lapar abis berenang"
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭