patut dicurigai permainannya:
pertama, stok batubara masih sangat melimpah, tapi stoknya sengaja diekspor ke luar negri.
kedua, hasil ekspor batubara mendatangkan banyak dollar ke dalam negri, akhirnya rupiah mulai menguat.
ketiga, pemerintah jadi pahlawan karena bisa mengatasi lemahnya rupiah.
kesimpulan, rakyat tetaplah jadi korban blackout, industri rumahan terganggu, dan ekonomi macet.
mafia tambang menang, yang kalah seluruh rakyat indonesia, dan embege akan masih jalan.
jaejin wasn’t the type to express love with big words or grand gestures. he showed it through consideration and jooyoung was the one who saw it 🤍
#singlesinferno5
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
I now understand why Chorong said "bc it's you (rado) oppa, I can send Bomi off with peace of mind."
I know it’s just a peek at their relationship, but watching their interactions & listening to their stories, Rado seems to be very patient with Bomi and their tempers match well.
Klo mau satu pintu skalianin bikin commodity exchangenya.
50% perdagangan coal seaborne itu dari Indonesia
70% nikel dunia dari Indonesia
60% produksi minyak sawit dari Indonesia
Top 2 produsen timah dunia
Tapi kita gak punya price mechanism mandiri dan ngikutin pricing London, US, China, Malaysia, dan Australia.
Nah masuk akal.... kita cuma liat di dalam.
Sementara kalo liat big picture, memang keliatan sistematis. Kasus MSCI, dana hot money yg keluar terus, pemberitaan luar negeri yg keliatan sistematis jg keluar bareng2 disaat growth justru lagi bagus2nya.
bomi & rado’s wedding vcr!!! ✨ (rough trans
q: when you first started dating, who confessed first?
rado: 11 years ago, i told bomi, “bomi, you have to be with me to be happy.” that’s what I said back then. you still remember that line, right?
bomi: i remember. he suddenly confessed out of nowhere, so i asked, ‘oppa… are you writing lyrics or something?’ but he confessed so sincerely that…
🤣😭😭
#yoonbomi #윤보미
proposal clip??? 😭 (rough trans again
from rado to bomi!
“to my beloved princess, bomi.
after 10 years together, i think this may be the most heart-fluttering and nerve-racking letter i’ve ever written to you.
exactly 10 years ago today, i told you, “you can only be happy if you’re with me.”
as if i were bewitched by something, the words came out before I even realised it.”
OH MY GOD 🥹😩😭🤏🏻
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya.
Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.