tbh menurut gw magang2 begini malah ngerusak market untuk freshgrad.... you should've gotten a fulltime job after graduating instead of magang2 6 bln... izin🙏
Allah tuh sesuai prasangka hambaNya guys. dan salah satu kunci agar doa dikabulkan adalah kita yakin kalo Allah akan mengabulkan doa kita!
contohnya : yaAllah, hamba yakin tahun ini bisa beli laptop baru, motor baru, mobil baru, rumah, dan umroh sekeluarga. gatau uangnya dari mana tapi Engkau Maha Kaya yaAllah aamiinnn🥺
26 Juli 2026, di Jakarta:
1. Adrian Yunan di Rumah Dalam Gang
2. VIXTAPE KONEK(T) di Brickhall
3. The Altar III, Pelatar, di Illua Bar Menteng
4. Eleventwelfth di Krapela
5. Dive Collate di Studio51
6. 10 Tahun White Shoes and the Couples Company di Cikini di Coma
SINTING.
26 Juli 2026, di Jakarta:
1. Adrian Yunan di Rumah Dalam Gang
2. VIXTAPE KONEK(T) di Brickhall
3. The Altar III, Pelatar, di Illua Bar Menteng
4. Eleventwelfth di Krapela
5. Dive Collate di Studio51
6. 10 Tahun White Shoes and the Couples Company di Cikini di Coma
SINTING.
menurut gue kalimat ‘not a good husband but he’s a good father’ gabisa diromantisasi, karena sebenernya itu miris sih. lo kalau cuma mau jadi bapak tapi gamau jadi suami ya adopsi anak aja anjing gausa nikahin org wkwkwkwkwkwkw
Ada yang aneh deh sama managerial di tweet ini, maaf ya aku bakal sampaikan otokritik ini dengan point out hampir semua hal yang bikin orang-orang juga muak.
Managerial masnya ini memang aneh banget dan jelek parah.
Dari awal cerita soal milih 3 intern (2 UI, 1 UPH, semua IPK >3.7), terus cerita achievement pribadinya waktu kuliah ke Prancis-Jerman meski bidikmisi. Satu yang belum pernah ke luar negeri disuruh bikin paspor biar “punya mimpi”, katanya itu diajarkan sama pengurus asrama bidikmisi ITB.
Well, bagus sih kedengarannya, tapi kemudian langsung kasih contoh kepemimpinan yang bikin orang geleng-geleng kepala.
Di situ masnya ada kasih tugas ke salah satu intern.
“Tugas lu weekend ini nonton film ini” (film 9 Summers 10 Autumns).
Dikasih Jumat malam. Intern balas: Sabtu-Minggu coba cari filmnya, ternyata cuma ada di Netflix yang dia nggak punya akun. Dia coba alternatif lain, nggak ketemu, akhirnya baru Senin sore pinjem akun temen dan rencana nonton malam itu.
Eh langsung dibalas, “SP 1 bro. Will give you chance 2x lagi.”
Padahal internnya udah minta maaf dan bilang “Baik kak Luca”. Tapi tetap diunggah ke publik sebagai bahan olokan.
Terus habis itu masnya nunjukin flowchart “high agency vs low agency” yang super duper kaku.
Di mana low agency = diam nunggu ditanya, ga eskalasi, akhirnya SP.
Kalau high agency = cek ketersediaan film duluan, chat temen, pinjem akun, nonton Sabtu malam, lapor lebih awal.
Terus bilang “Common sense. Gue kenal yang punya film dan gue tau valuenya, makanya gue taruh ke lu dulu, tapi lu missed.” dan “Berlaku buat semua, framework simpel.”
Hal yang paling bikin aku muak adalah pas banyak otokritik masuk soal “kasih tugas weekend”, “kasih SP tanpa prosedur jelas”, “maksa anak magang kerja di hari libur”, malah responnya sengak banget:
“Pasti kamu bukan top 3 uni jadi dikasi tugas weekend nangis.”
Like—What?!!
Argumentasinya sebatas degrading orang lain doang.
Terus di thread lain juga ada bilang “Lah gue business owner bukan HR”.
Kayaknya mindsetnya cuma “gue owner, gue yang atur, lo pada ga usah banyak bacot” doang ya?
Terus yang aneh dari masnya juga keliatan di sini: suka positioning diri sebagai mentor yang “ngajarin resilience” dan “ngasih mimpi”, tapi begitu ada sedikit delay atau ga sesuai ekspektasi “high agency”-nya, langsung kasih SP formal.
Framework high agency-nya secara teori oke, tapi diterapin ke anak magang/intern yang baru, dengan tugas yang bisa dibilang debatable (nonton film doang di weekend), plus dikasih pas Jumat malam, itu rasanya lebih ke power trip daripada leadership.
Belum lagi di post utamanya dia bilang “Gapake babibu cuk gue SP” sambil nyebutin “baru tau juga LK21 udah musnah dan filmnya gaada bajakan 😂”.
Seolah-olah mengharapkan internnya pake cara pintas ilegal.
Like—okay???
In conclusion, ini bukan contoh leadership yang bagus sih mas. Ini lebih ke boss yang suka kontrol, suka kasih warning formal buat hal kecil, suka dismiss kritik dengan “lo bukan dari top uni” atau “gue owner”, dan suka bikin teman-teman yang lagi magang merasa harus selalu “on” bahkan di weekend.
Power imbalance-nya itu loh gede banget, dan cara mengajarnya malah bikin orang takut salah daripada bener-bener berkembang.
It will only bring you compliance, not trust.
Oh God—may this kind of leader never find me.