Jadi gaes, dapet julukan blue chip chungmuro itu big deal banget buat Park Jihoon ya.
Chungmuro kan katanya kasta tertinggi perfilman Korea ya, dan blue chip itu sebutan buat aset emas.
Artinya, sutradara, produser dan kritikus top sepakat kalo Jihoon adalah aktor muda yang jadi masa depan bioskop Korea.
Industri film Korea itu terkenal cukup sinis dan susah banget ditembus, apalagi ada stereotip kalo idol yang banting setir jadi aktor itu biasanya cuma modal tampang atau bawa nama besar fandom aja.
So, kita wajib bangga karena ini bukti nyata Jihoon sukses matahin stigma idol-actor yang biasanya diremehkan. Gelar ini murni pengakuan atas skill aktingnya yang gacor.
Jurnalis aja sampe bilang kalo sekarang semua skrip bagus di chungmuro itu pasti mampir ditawarin ke Jihoon duluan sebelum ke yang lain. Itu penegasan betapa berharganya nama dia sekarang di mata industri.
Ke depannya kita bakal makin sering lihat Jihoon jadi incaran utama buat film gede berbudget fantastis atau kolaborasi bareng aktor dan sutradara top.
Plus, ini jaminan karier jangka panjang. Jadi kemungkinan kita bakal bisa lihat Jihoon akting dalam waktu yang lama. Amin 🫶
Yg bikin gedeg dari kasus komisaris BUMN ini tuh bukan cuma soal siapa yg diangkat, tapi pesan sosial yg dikirim ke publik.
Di saat (((RATUSAN RIBU))) fresh graduate berjuang cari kerja, ikut seleksi berlapis, ditolak berkali-kali, ada orang2 yg kariernya melesat bukan karena kapasitas, tapi karena kedekatan, loyalitas politik, dan kemampuan menjilat.
Akhirnya yg rusak bukan cuma tata kelola BUMN, tapi juga kepercayaan anak muda bahwa kerja keras punya tempat yg adil di negeri ini.
pengen jadi tipe ideal mingyu -> harus semangat kerja -> motivasi kerja berawal dari gaji yang layak -> gaji layak harus dijamin pemerintah -> presidenmu p word -> gaji tidak layak -> tidak semangat kerja -> bukan tipe ideal mingyu
alasan gw dulu berusaha banget buat kuliah di tempat terbaik adalah karena gw pengen living with the giants, ketemu, terbiasa, dan belajar dari orang-orang kayak mba fatimah ini.
cara ngomongnya ga tergesa-gesa, ga gampang kepancing emosi, dan tetap on the track ke substansi pembahasan. padahal lawan bicaranya jelas berusaha mainin psikologis dengan menunjukkan superioritas, terutama pas bilang, “jadi dek... saya pernah mahasiswa yang merasa paling benar.”
kalimat itu seolah-olah mau menempatkan lawan bicara sebagai orang yang harus tunduk, nurut, dan dianggap belum paham apa-apa hanya karena berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Sakit sakit ya Pak, semoga segala kesusahan/kesengsaraan banyak orang jadi tanggung jawabmu.
Dan semoga hukuman atas banyaknya kesengsaraan tidak hanya diberikan waktu di akhirat, tetapi juga saat dirimu masih di dunia.
foto ketiga tuh lucu bgt jir kayak "is he deadass?" saking ngaconya contoh yang dikasih narasumbernya, tf u said anak ke sekolah naik perahu belum makan jadi lapar butuh mbg, BENERIN dulu akses ke sekolahnya lil bro, gitu aja gak nyampe, baca skala prioritas aja gagal😭
Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester. Omongannya tajem, kritis, dan selalu based on data. Tentu tidak disukai kaum-kaum boikot UI dan UGM.