LSE bukan kampus yang megah dengan halaman luas. Ia menyatu dengan kota London. Gedung-gedungnya berdiri di antara jalan-jalan yang sibuk, seolah mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di sudut kampus berdiri patung globe, simbol yang terasa tepat bagi sebuah universitas yang sejak awal melihat persoalan dunia sebagai ruang belajar bersama. Beberapa langkah kemudian ada Sir Arthur Lewis Building, sebuah penghormatan kepada ekonom peraih Nobel yang mengubah cara kita memahami pembangunan dan transformasi ekonomi di negara berkembang.
Di lorong Department Of Economics , terpajang wajah-wajah yang telah membentuk sejarah pemikiran ekonomi: Friedrich Hayek, John Hicks, Arthur Lewis, James Meade. Kampus ini juga pernah menjadi tempat dari Ronald Coase, Amartya Sen, Christopher Pissarides, George Akerlof, dan banyak lainnya. Mereka mengingatkan bahwa gagasan besar lahir dari keberanian untuk mempertanyakan, bukan sekadar menerima. Senang dan terhormat menjadi bagian dari LSE
Sulit dicerna nalar mengapa orang Indonesia diasumsikan akan lebih siap atau hebat membangun negerinya jika sudah lulus pendidikan pascasarjana di Amerika, Eropa, dan Australia.
https://t.co/ahNX1B63dF
@aparatur_spill izin share, selain circle AusAID, jg banyak circle development lainnya seperti: World Bank, ADB, IMF, ERIA, Asean Secretariat, UNDP, JPAL-Sea, dll.
Networking itu ada pajaknya.
Setiap kali lo masuk ke conference atau event industri, lo bayar. Ada tiket, transport, waktu, energi. Itu biaya juga. Tapi ada biaya lain yang lebih mahal dan jarang diperhitungkan: biaya sosial dari show up tanpa kredibilitas.
Tanda-tandanya:
- lo minta jabat tangan, orang balas dengan senyum sopan, lalu cari alasan pindah ke orang lain.
- lo follow up lewat email, jarang yang reply.
Dan itu sebenernya bukan karena mereka jahat, tapi karena lo belum punya alasan yang cukup untuk mereka investasikan waktu.
Inilah networking tax yang sesungguhnya. Dan kalau lo bayar pajak ini terlalu awal, terlalu sering, efeknya bukan cuma buang duit. tapi juga kepercayaan diri yang pelan-pelan terkikis.
Kenapa? karena networking bukan cuma aktivitas. Networking adalah output dari kredibilitas yang sudah ada. Orang connect dengan lo bukan karena lo hadir di tempat yang tepat, tapi karena lo seseorang yang worth dikenal.
Dan "worth dikenal" itu butuh bukti. project yang pernah lo ship, pengalaman, hal menarik yang pernah lo lakukan, tempat lo kerja, atau tulisan2 yang pernah lo publish.
Kredibilitas adalah mata uang networking. Kalau lo datang tanpa modal, nggak ada transaksi penting yang bisa terjadi.
Ini bukan berarti lo harus terkenal dulu. tapi memang ada urutan yang lebih efektif: bikin satu proof of work yang nyata dulu sebelum lo invest serius di ruangan-ruangan mahal itu.
Karena begitu ada sesuatu yang bisa ditunjukkan, lo bukan lagi stranger yang minta perhatian. Tapi seseorang dengan konteks.
Dan orang jauh lebih mudah terkoneksi klo udah ada konteks.
Event2 mahal itu punya tempatnya. tapi tempatnya bukan di chapter satu. Kecuali klo lo hanya ingin exposure.
Dari sini kepopuleran soto Ambengan dimulai.
Banyak yang mengira "Soto Ambengan" adalah genre soto ayam tersendiri asal Kota Surabaya.
Sebenarnya nama tersebut populer dari sebuah depot soto di Jalan Ambengan Surabaya yg didirikan oleh Alm Pak Sadi pada tahun 1971.
Asal dari soto seperti yg disajikan Pak Sadi dan banyak penjaja soto lainnya adalah dari Kota Lamongan, soto Ayam Lamongan. Pak Sadi memang asal Lamongan dan merantau ke Surabaya menjajakan soto ayam keliling dari kampung ke kampung.
Baru pada tahun 1971 lah beliau "mangkal" dan membuka depot pertamanya di Jalan Ambengan, dari depot sederhana ini kepopuleran soto Ambengan tersebar ke seluruh Indonesia, bahkan pernah didapuk sebagai street food master of the year di tahun 2013 versi World Street Food Congress dan membawa sotonya ke ajang bergengsi festival tersebut di Singapura.
Beri rekomendasi soto ayam khas Lamongan favoritmu, di kota mana saja, luar nagreg juga boleh😄
#KulinerSurabaya
#KulinerLamongan
makanya gak usah guys, for newly weds sewa apartemen aja, murah2 kok apartemen semi2 rusun gitu, kalo gak cocok tinggal pindah
gak usah hoarding barang, itu kuncinya
kenapa kok sewa apartemen bisa murah?
nah untuk soal yang ini mesti summon admin lama yang udah banyak makan asam garam apartemen/rusun wkwkwkwk
Bisa jadi. Saya pribadi merasa Maudy Ayunda misalnya, tak layak menerima beasiswa LPDP. Saya kira banyak anak Indonesia yg pintar tapi karena akses info atau IELTS/TOEFL yg kurang lalu gagal dapat beasiswa LPDP. Lebih baik mereka diterima dulu, lalu LPDP meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka dulu sblum berangkat. Kayak beasiswa AAS atau ADS yg buat skema pre departure training.
Ada sahabat yg ambil KPR, baru jalan dua tahun, kena PHK. Cicilannya macet total, dan akhirnya rumah disita.
Punya KPR (mortgage) dengan durasi 15 thn adalah salah satu ujian kehidupan sesungguhnya :)
Kalau kata komedian Chris Rock : mortgage bakal bikin hidup seseorang lebih tertib dan disiplin dalam bekerja.
Sebab jika telanjur punya KPR, lalu tiba2 kena PHK, ya bakal wasalam, spt nasib teman kita tadi.
Dampak punya KPR :
- orang jadi dipaksa lebih tertib kelola keuangan agar mampu cicil selama puluhan tahun
- orang jd kerja di kantornya lebih rapi dan rajin - tidak pernah mau neko-neko. Sebab sekali kinerjanya dianggap jelek, maka bisa kena putus kontrak kerja.
- tapi pada sisi lain, akan bikin seseorang takut ambil risiko finansial. Dia pasti akan takut memulai usaha sendiri yg kemungkinan bisa rugi. Dia butuh pendapatan stabil yg aman demi cicilan KPR-nya.
Namun pada sisi lain, tak mudah ambil KPR jika penghasilan mendang mending.
Rumah ukuran 80M2 di Summarecon Bekasi harganya sd Rp 1,3 milyar.
Summarecon Bekasi salah satu cluster bagus di kota Bekasi (semua perumahan sumarecon selalu bagus di tiap kota).
Jika harga rumah Rp 1,3 milyar :
- Uang DP 10% atau Rp 130 juta
- Cicilan durasi 15 tahun
Maka cicilan sekitar Rp 10 juta/bulan.
Artinya hanya keluarga dengan penghasilan Rp 30 jutaan yg akan sanggup cicil. Asumsi cicilan maks 30% dari total penghasilan.
Jika suami usia 30an bisa dapat gaji Rp 20 juta.
Istri juga kerja dengan gaji Rp 15 juta.
Maka mereka berdua baru anggup cicil rumah di Sumarecon Bekasi.
Apakah bisa diusia mid 30 dapat gaji Rp 30 juta/bulan; dan istri juga kerja dengan gaji yg juga double digit?
Kemungkinan bisa, asal lulus S1 dengan jurusan yg dibutuhkan pasar (dan saat fresh grad bisa kerja pertama kali di big company).
Perusahaan pertama tempat kerja after wisuda adalah game changer yg akan menentukan masa depan.
Jika setelah lulus, bisa kerja di company spt Mayora, Wings, Bank Mandiri, Nestle atau sekelasnya; maka punya penghasilan Rp 30 juta/bulan pd usia 30an adalah hal yang masih possible.
Itupun harus doble income, maksudnya sang suami dan istri juga harus sama-sama kerja. Kalau hanya single income; mungkin akan lebih berat lagi untuk ambil KPR.
Alhamdulillah, silahkan di sebarkan url https://t.co/4z9ZCOl6mF , https://t.co/6IJWlMk0IO , dan https://t.co/EtnIshB4q4 supaya bangsa ini bisa tambah pandai ...
Unpopular kan?
1. Koridor Tunjungan itu koridor komersial yang paling bagus di antara kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Trotoar lebar, muka bangunan aktif, dan ragam fungsi bangunan, berpadu sama skyline Surabaya, bikin Tunjungan jadi vibrant.
2. Kalo kita bicara apa yang dibangun Belanda di Indonesia, Surabaya punya tata kota yang lebih baik daripada Batavia (Jakarta).
Bahkan, di akhir abad ke-19, Surabaya bersaing dengan banyak kota global dan menjadi kota terbesar Hindia Belanda.
Belanda juga mampu memanfaatkan sungai di Surabaya dengan lebih baik (dibandingkan Jakarta) yang membentuk tata kota Surabaya.
Sehingga, ketika merdeka, Surabaya itu punya banyak modal untuk jadi kota yang lebih maju daripada Jakarta.
US: “It was a preemptive attack on Iran”
Pentagon: “No sign that Iran was going to attack first”
US: “No but if Israel attacked Iran, then Iran would have attacked us, so we preemptively attacked them first” 🤡
This is beyond satire.
Fakta 2025:
total 4.295 awardee LPDP, Jakarta Selatan 154 orang (3,6%), disusul Jakarta Timur, Bandung, Tangsel. Mayoritas dari Jabodetabek & Jawa.
Jawa Barat sendiri 650 orang (~15%).
'Merit-based' hanya di atas kertas, tapi yang terjadi sebenarnya adalah "privilege-based': ketimpangan regional & akses di Indonesia, yang dari tahun ke tahun semakin tajam.
Anak daerah harus melawan jarak, biaya tes bahasa (bisa jutaan), kuota tes terbatas, & kualitas sekolah/universitas yang timpang, membuat mereka harus mengejar ketertinggalan karena kalah start dari awal.
Respect buat yang lolos afirmasi dari luar Jawa, kalian adalah definisi dari perjuangan sesungguhnya.
Setuju gak sih?
Di kondisi ekonomi sekarang,
punya orang tua yang mandiri secara finansial
itu bukan hal biasa.
Itu BLESSING level tinggi.
Itu privilege.
Karena anak gak harus jadi penopang dua arah.
Gak harus jadi sandwich generation.
Bahkan, saat anak lagi goyah,
masih ada yang bisa bilang,
“tenang nak, kamu butuh dibantu apa?”
Dan itu jujur aja…
kemewahan yang gak semua orang punya.