fatima: "prabowo punya cita cita, tidak ingin ada anak anak indonesia tidur dalam perut lapar"
"nah tapi mbg ini kan dibagiin (sekali) di siang hari di sekolah. jadi ketika dia pulang ya lapar lagi" 😂
gara gara pemadaman listrik tanpa pemberitahuan. gimana nasib umkm yg ngandelin listrik untuk produksi setiap harinya gini. gagal ngembang, gagal ngoven, gagal di jual.
Cuma bisa nelongso
rakyat desa gak pake dollar bgst
Sedih dan trauma nggak sih guys?🥲
Kasian banget banyak UMKM yang terdampak
Ini PLN nggak ada pemikiran kah bakal ada dampak ke warga gitu😭
Tau nya malak doang🤡
sc:threadssafirayundap
motor kang ojol asal Bekasi di bawa Dishub DKI saat parkir mengambil order makanan di kawasan jakarta Timur
Pilu
Kang Ojol Sampai harus memohon untuk motornya bisa dilepaskan :
Tolong pak, Saya orang miskin , saya butuh motor buat antar makanan , saya butuh makan
@txtdrimedia Emang sebelum ada mbg, ibu hamil ga makan?
Emang makan harus banget nungguin mbg?
Emg rakyat mu semanja "aku belum makan karena belum dikasih mbg" ? Keburu kurgiz nungguin mbg doang mah.
Hellooo, dia aja yang ga mau lahan korupsi nya bubar.
Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
@indepenSumatera Gila, reaksi santainya kebangetan melihat orang dalam bahaya yang beresiko hilang nyawa. Minus empati. Otaknya mereka ga nyampe kebanyakan main hp kyknya, jadi bego.
Kisah ironis dan menyesakkan dada ini dialami oleh seorang Guru Besar Universitas Indonesia bernama Profesor Raldi Artono Koestoer.
Melihat tingginya angka kematian bayi prematur dari keluarga miskin yang tidak mampu membayar biaya sewa inkubator rumah sakit yang sangat mahal, ia menggunakan kecerdasannya untuk merakit inkubator bayi portabel berteknologi canggih namun sangat hemat listrik.
Hebatnya, ia sama sekali tidak mengomersialkan alat penopang kehidupan tersebut, melainkan meminjamkannya secara gratis kepada ribuan ibu miskin di berbagai pelosok daerah.
Namun bukannya diberi medali penghargaan atau dana bantuan riset oleh negara, gerakan mulia sang profesor justru mendapat tamparan keras dari sistem birokrasi.
Pada tahun 2016, pemerintah melalui kementerian terkait mendadak menegur dan mencoba menghentikan operasional peminjaman inkubator tersebut.
Alasannya sangat kaku, alat penyelamat nyawa itu dianggap melanggar aturan karena belum memiliki sertifikat izin edar dan Standar Nasional Indonesia layaknya produk alat medis komersial buatan pabrik raksasa.
Tuntutan untuk mengurus perizinan yang memakan biaya sangat mahal dan proses yang rumit tentu tidak masuk akal untuk sebuah proyek amal yang dijalankan secara swadaya.
Ironi menyedihkan ini sempat memancing kemarahan publik secara luas, memperlihatkan bukti nyata bagaimana sebuah inovasi jenius anak bangsa yang murni bergerak untuk misi kemanusiaan justru nyaris dicekik mati oleh aturan kertas di negerinya sendiri.