Fhatima Azzahra: DIAM!!!!
Ada rasa kecewa yang sangat dalam di balik kemarahannya seperti seseorang yang sudah berkali-kali disuruh diam, diabaikan, dihadang, dan akhirnya tidak sanggup menahan unek-unek lagi.
Bukan marah yang kosong, tapi marah yang lahir dari rasa frustasi dan kepedihan karena pemerintah (dan aparat) dianggap tidak pernah benar-benar mau mendengar suara masyarakat.
Polisi bilang Bundaran HI itu “center of gravity” Indonesia, pusat ekonomi, transportasi, sampai konsulat asing, jadi kalau dipakai demo bakal lumpuhkan Jakarta sampai Patung Kuda, Semanggi, Sudirman, bahkan Slipi-Gatot Subroto.
Kalian mau menyampaikan kalo aspirasi mahasiswa lebih berbahaya daripada kemacetan harian yang sudah jadi rutinitas ya?
Mahasiswa datang buat nanya soal kemerdekaan yang dirayakan sehari sebelumnya, tapi malah dikunci di depan UOB dengan barikade tebal.
Padahal mereka sudah kasih pemberitahuan resmi. Yang terjadi malah akses ditutup, long march dihentikan.
Soal temuan senjata:
Satu pisau di tangan oknum berinisial AM masih “didalami”. Satu orang.
Satu golok di ambulans yang lewat. Bukan milik mahasiswa.
21 orang yang bawa petasan, flare, dan botol molotov sudah diamankan sebelum aksi, dan polisi sendiri bilang mereka bukan mahasiswa demonstran.
Jadi yang bikin “bahaya” justru pihak luar, tapi yang dihadang dan dibatasi justru mahasiswa yang orasi dengan tertib. Mahasiswa AF sampai pingsan di lokasi, tapi yang disorot malah pisau dan golok.
Gayanya kan sllu begitu “kami jaga ketertiban” sambil menutup ruang aspirasi di tempat yang paling terlihat. Padahal yang diminta cuma didengar, bukan bikin Jakarta lumpuh.
Kalau memang takut macet, kenapa dari awal tidak disediakan lokasi alternatif yang layak dan transparan, bukan malah dihadang di tengah jalan?
Intinya, pernyataan polisi terkesan lebih sibuk melindungi “arus lalu lintas dan pusat ekonomi” ketimbang melindungi hak warga negara (termasuk mahasiswa) untuk menyampaikan pendapat.
Cekcok antara mahasiswa asal Seram Utara (bernama Wili Ropena) dengan pengawal pribadi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang bernama Rohim (oknum TNI).
Kronologi singkat
Mahasiswa itu ingin menyampaikan surat dari Tua Adat/Kepala Desa di Pulau Seram (Negeri Manusela) kepada Gubernur.
Rohim mencegat, menahan tangan, mendorong, dan berusaha mengambil surat yang dibawa (dalam sampul bambu).
Saat emosi, Rohim bilang:
“Kau dengar ka seng (tidak), ada aturannya monyet ee. Hargai orang sedikit.”
Mahasiswa menjawab santai:
“Beta manusia Pak bukan monyet. Hargai kami menghargai dan kami hanya ingin kasih ini saja.”
Fhatima Azzahra: DIAM!!!!
Ada rasa kecewa yang sangat dalam di balik kemarahannya seperti seseorang yang sudah berkali-kali disuruh diam, diabaikan, dihadang, dan akhirnya tidak sanggup menahan unek-unek lagi.
Bukan marah yang kosong, tapi marah yang lahir dari rasa frustasi dan kepedihan karena pemerintah (dan aparat) dianggap tidak pernah benar-benar mau mendengar suara masyarakat.
Adu argumen antara aktivis mahasiswa PMII UPI Sumenep dengan pejabat/penanggung jawab Pusat Informasi KKKS Sumenep dari BUMD PT Wira Usaha Sumekar (PT WUS)