Seolah akhirnya ada yang bilang perasaan itu yang selama ini aku juga sempat rasakan tapi nggak berani untuk ungkapkan. Apa ini artinya aku ingkar ? aku gak setia ? atau aku pembohong ?. aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri “ tulisnya panjang lebar di aplikasi itu
“ tidak ada yang perlu di khawatirkan, tidak ada yang perlu di ceritakan “ gumamnya sambil melihat
Tapi namanya rahasia,mau sekecil apapun, beban mental semakin lama akan semakin berart seiring dengan berjalannya waktu. Dan Rudi, tanpa sadar telah melanggar komitmennya dengan Salma, dimana ia akan menceritakan semuanya ke Salma. Sementara itu, hubungan mereka lewat telepon semakin jarang, menambah lebar jurang kerenggangan. Mereka berdua sudah tenggelam dan sibuk dengan kehidupan barunya masing-masing ditambah dengan kehadiran Wulan dan Fajar diluar apa yang mereka prediksi. Tanpa di sadari, meskipun Rudi bila akan tetap bersikap biasa saja ke Wulan. Namun faktanya ia menjadi lebih canggung setelah kejadian malam itu. Padahal ia selalu ketemuan setiap hari, bekerja setiap hari, dan pastinya berinteraksi lebih intens ketimbang karyawan yang lain. Gak jauh beda dengan kondisi Salma, semakin intens dan sering dengan Fajar. Bahkan diluar jam kerja. Mempersiapkan festival literasi membaut mereka bertemu lebih dari 12 jam setiap harinya.
Tanpa saling memberi tahu, tanpa saling memberi kabar. Mereka mulai merasakan hal yang sama. Rindu yang dulu terasa seperti candu manis, kini perlahan mulai berubah rasa menjadi sebuah kewajiban yang harus dipenuhi setiap harinya sebagai penggugur kewajiban. Sebuah telepon rutin di antara jadwal padat mereka berubah menjadi obrolan yang datar, hambar. Tidak ada rasa candu, rasa deg-degan, rasa gugup. Bahkan dalam hati mereka ingin telepon itu segera selesai.
Malam itu, sepanjang pulang dari kantor ke kos, ia merenung. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan yang cukp aneh. Keraguan yang ada di persimpangan., keraguan yang semakin lama semakin besar. Memang benar, ia berhasil menolak Wulan, ia bangga sama dirinya sendiri karena bisa melawan perasaan anehnya. Tapi di sisi lain hatinya justru membuat keraguan itu muncul. Kenapa ia harus mikir dulu ketika Wulan ngomong seperti itu, bukankan harusnya itu bisa di jawab dengan singkat, padat dan jelas. Tapi pikiran dan hatinya ingin dia diam dan berpikir sejenak. Dan pas mencoba menyebut nama Salma, kenapa rasanya berat sekali. Seolah-olah ia berada di sebuah persimpangan.
Rudi tidak menceritakan kejadian malam itu ke siapapun, apalagi ke rekan kerja. Ia sadar bahwa dia hanya seorang anak magang, tidak lebih dan tidak kurang. Apalagi cerita ke Salma, sesuatu hal yang tidak mungkin. Ia mencoba melihat kembali amplop coklat yang di tas, melihatnya dengan lama.