Karyawan tetap/PKWTT yang udah kerja 3 tahun kerja ++ kalo di PHK
Harusnya dapet : 6x Gaji
1. Pesangon 4x gaji
2. UPMK 2x gaji
Total 6x gaji, semua ini bisa di dapat kalo di PHK ya bukan Resign. Jadi kalo ada perusahaan mau PHK tapi suruh ttd resign itu mereka lagi menghindari tanggung jawab bayar pesangon full.
**pengkali total pesangon + UPMK ini di pengaruhi oleh alasan PHK
Lo lagi Interview di suatu perusahaan
Pas HRD tanya: "Ceritakan tentang diri kamu."
Kebanyakan orang langsung jawab: "Nama saya [nama], saya lulus dari…"
Langsung ilang minatnya HRD pas denger kata "lulus."
Mending coba yang ini aja:
DULU MALAYSIA MURID KITA, SEKARANG KITA KETINGGALAN 25-35 TAHUN
KOK BISA?
Baca ini sampai selesai.
Karena ini bukan soal iri.
Ini soal introspeksi.
Tahun 1957.
Malaysia merdeka dari Inggris.
Saat itu, Malaysia masih sangat muda sebagai negara.
Infrastruktur belum matang.
Sumber daya manusia terbatas.
Dan tahukah Anda, ke mana mereka mengirim pelajar-pelajar terbaik mereka untuk belajar?
Ke Indonesia.
Bukan ke Eropa.
Bukan ke Amerika. Tapi ke Indonesia.
Indonesia yang merdeka 12 tahun lebih awal dari Malaysia. Indonesia yang pada era 1950-an dan 1960-an sudah punya Universitas Indonesia, ITB, UGM, dan IPB yang diakui sebagai universitas kelas Asia. Indonesia yang pada waktu itu punya profesor, dokter, insinyur, dan ilmuwan yang diakui dunia internasional.
Ratusan pelajar Malaysia dikirim ke Bandung, ke Yogyakarta, ke Jakarta, untuk belajar teknik, kedokteran, pertanian, hukum, dan ilmu sosial. Mereka tinggal di Indonesia, bergaul dengan rakyat Indonesia, belajar dari dosen-dosen Indonesia.
Bahkan bahasa Melayu modern yang digunakan di Malaysia hari ini memiliki akar dan pengaruh kuat dari Bahasa Indonesia.
Guru kita. Murid mereka.
SEKARANG, LIHAT ANGKA INI
Malaysia:
Rata-rata gaji Rp 12 sampai 14 juta per bulan
Bensin RON 95: Rp 8.500
Pajak mobil: Rp 400 ribu
Indonesia:
Rata-rata gaji Rp 3,29 juta per bulan
Bensin RON 92: Rp 16.250
Pajak mobil: Rp 4 juta
Biarkan angka ini berbicara sendiri.
Di Malaysia, orang bergaji empat kali lebih besar dari kita.
Tapi bensin mereka separuh harga kita. Pajak kendaraan mereka sepersepuluh dari kita.
Artinya daya beli rakyat Malaysia untuk kebutuhan transportasi sehari-hari jauh jauh lebih ringan dibanding rakyat Indonesia.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana murid bisa melampaui gurunya sejauh ini?
KENAPA MALAYSIA BISA MELESAT?
Pertama, mereka punya visi jangka panjang yang konsisten. Mahathir Mohamad, Perdana Menteri Malaysia yang menjabat dari 1981 hingga 2003, membangun Wawasan 2020, sebuah cetak biru pembangunan nasional 40 tahun ke depan. Semua kabinet, semua birokrasi, semua BUMN, semua mengacu ke satu arah. Tidak berubah setiap ganti pemimpin.
Kedua, mereka investasi besar di pendidikan tanpa kompromi. Petronas, perusahaan minyak negara Malaysia, bukan hanya menghasilkan uang. Petronas membiayai ribuan beasiswa mahasiswa Malaysia ke universitas-universitas terbaik dunia: Oxford, Cambridge, MIT, Imperial College, hingga Universiti Teknologi Petronas yang mereka bangun sendiri. Hasilnya adalah generasi eksekutif, insinyur, dan ilmuwan berkaliber dunia yang kembali membangun negerinya.
Ketiga, Petronas dikelola dengan disiplin dan jauh dari jangkauan politik partisan. Pendapatannya diinvestasikan kembali ke rakyat melalui subsidi BBM yang kuat, infrastruktur, dan pendidikan. Di Indonesia? Pertamina yang jauh lebih besar dari Petronas justru bertahun-tahun menjadi ladang politik dan korupsi.
Keempat, Malaysia membuka diri pada investasi asing secara strategis. Proton boleh jadi tertinggal, tapi kawasan industri di Penang, Johor, dan Selangor menjadi magnet manufaktur elektronik global. Intel, AMD, Infineon, dan ratusan perusahaan teknologi kelas dunia membangun pabrik di Malaysia. Hasilnya adalah lapangan kerja berkualitas tinggi dengan upah yang sepadan.
Kelima, reformasi birokrasi mereka lebih cepat dan lebih tuntas. Korupsi ada di mana-mana, termasuk di Malaysia, tapi eksekusi proyek infrastruktur, izin usaha, dan kepastian hukum untuk investor di Malaysia secara konsisten lebih baik dari Indonesia selama puluhan tahun.
INDONESIA TERTINGGAL BERAPA TAHUN?
Ini pertanyaan yang menyakitkan tapi wajib dijawab.
Dalam hal pendapatan per kapita, Malaysia saat ini berada di kisaran USD 13.000 sampai 15.000 per tahun. Indonesia masih di kisaran USD 4.500 sampai 5.000. Selisihnya tiga kali lipat lebih.
Para ekonom menyebut Indonesia setidaknya tertinggal 25 sampai 35 tahun dari Malaysia dalam hal kesejahteraan rakyat dan kualitas hidup rata-rata.
JAWA-BALI TERANCAM REAL KEGELAPAN !!!
BUKAN KARENA BATUBARA INDONESIA SUDAH HABIS,
BUKAN KARENA SEMUA BATUBARA DI EKSPOR
TAPI KARNA TIDAK LAIN DAN TIDAK BUKAN,
KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG AMBURADUL
- RKAB DIPOTONG 60% (VOLUME BATUBARA TURUN JAUH)
- HARGA DMO YANG HAMPIR 50% DIBAWAH HARGA PASAR
- KEBIJAKAN YANG BERUBAH-UBAH
LALU, DARI CERITA INI ADA PERTANYAAN JUGA
APAKAH INI SERANGAN PARA KONGLO BATUBARA?
PLTU Pacitan, salah satu tulang punggung kelistrikan Jawa-Bali, dilaporkan hanya memiliki stok batubara untuk dua hari operasi. Bukan cuma Pacitan.
Sejumlah PLTU besar di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) sudah masuk lampu merah, termasuk Paiton, Rembang, Indramayu, Tanjung Awar-Awar, Cilacap, hingga Celukan Bawang.
Standar aman PLN itu 26 hari operasi (HOP). Kenyataannya, banyak PLTU hanya punya stok 11-12 hari,
bahkan ada yang tinggal 2 hari.
Pertanyaannya: Kenapa bisa sampai separah ini?
Pertama, DMO harga murah diabaikan produsen.
Batubara untuk PLTU dijual dengan harga DMO hanya USD 70 per ton. Sementara untuk pabrik semen, harganya USD 90 per ton. Untuk smelter dan ekspor, harga pasar jauh lebih tinggi.
Jelas, produsen lebih pilih jual ke luar negeri atau ke industri lain ketimbang pasok PLTU.
Akibatnya, pembangkit listrik jadi "pelanggan prioritas terakhir" para produsen.
Kedua, RKAB batubara dipangkas drastis. Di awal 2026, pemerintah memotong kuota produksi batubara nasional dari 790 juta ton (realisasi 2025) menjadi hanya 600 juta ton, alias dipangkas hampir 24%. Beberapa perusahaan tambang bahkan kena potong 40% hingga 70% dari kuota yang mereka ajukan. Alasannya stabilisasi harga global dan efisiensi SDA.
Volume batubara yang tersedia untuk pasokan dalam negeri ikut menyusut.
Ketiga, persetujuan RKAB lambat dan berlarut-larut. Di awal tahun 2026, banyak perusahaan tambang belum mengantongi persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM. Artinya mereka tidak bisa produksi penuh.
Pasokan batubara ke PLTU pun ikut tersendat.
Keempat, royalti batubara dinaikkan progresif. Sejak April 2025, berlaku PP No. 18/2025 yang menaikkan royalti batubara secara progresif berdasarkan harga acuan (HBA). Jika HBA di bawah USD 70 per ton, royalti 15%. Jika HBA mencapai USD 180 per ton ke atas, royalti bisa sampai 28%. Bagi produsen kecil dan menengah, beban ini sangat berat, sehingga banyak yang memilih kurangi produksi atau alihkan pasokan ke sektor yang lebih menguntungkan.
Kelima, ekspor batubara kini wajib lewat Danantara.
Pemerintah menetapkan bahwa mulai Juni 2026, semua ekspor batubara harus disalurkan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Sistem satu pintu ini masih dalam transisi dan memunculkan ketidakpastian bagi eksportir. Di tengah masa peralihan ini, rantai distribusi batubara domestik ikut terganggu.
Ada narasi yang beredar, krisis stok batubara ini sengaja diciptakan untuk menekan pemerintah agar mencabut atau melunak soal kebijakan DMO, RKAB, royalti, dan DSI.
Logikanya, jika listrik padam, pemerintah panik, dan akhirnya produsen batubara bisa "negosiasi ulang" syarat yang lebih menguntungkan mereka.
Kalau dilihat, nama-nama besar di balik tambang batubara Indonesia memang bukan orang sembarangan. Grup Bakrie (BUMI), Grup Indika (INDY), Grup Barito (PTRO), hingga pemain PKP2B lama lainnya punya pengaruh politik dan ekonomi yang sangat besar.
Ketika RKAB dipangkas hingga 70%, wajar jika ada tekanan balik.
Tapi apakah ini benar-benar "serangan terkoordinasi"?
Belum ada bukti eksplisit.
Yang jelas, kombinasi kebijakan yang menghantam semua sisi produksi dibatasi, royalti dinaikkan, ekspor diatur ulang membuat produsen enggan prioritaskan pasokan dalam negeri yang harganya paling murah.
Lampu listrik yang redup di Jawa-Bali bukan sekadar soal stok batubara. Ini cerminan dari tarik-menarik kepentingan antara negara, konglomerat tambang, dan kebutuhan rakyat akan energi yang murah dan andal.
Kebijakan dengan implementasinya kacau dan rantai pasok tidak dijaga, rakyatlah yang paling merasakan
Jujur ya.. Jakarta itu mahal buat SEMUA orang!
Gak peduli tinggal di Senopati atau di pinggiran Jaktim. Bedanya cuma di apa yang kamu korbankan buat bisa bertahan di sini.
3 "mata uang" yang biasa dikorbankan orang Jakarta:
- Uang: bayar lebih demi waktu/kenyamanan
- Waktu: komuting jam-jaman demi ngirit sewa
- Kewarasan: tinggal numpang demi nabung, tapi bayar pakai stres
Ada yang rela komuting 4 jam PP naik angkutan umum dari Pinggiran Jkt ke kantornya di Jakarta Selatan, demi nggak perlu ngekos di tengah kota.
Ada juga yang udah 40-an tahun tapi masih tinggal di rumah orang tua, bukan karena nggak mampu ngekos, tapi karena dia hitung-hitung sendiri dan itu emang lebih masuk akal secara finansial. Cuma "bayarnya" pakai kesehatan mental.
Buat yang udah berkeluarga, mainnya beda lagi.
Kalau masih single, struggle-nya soal kos vs komuting. Tapi buat yang udah punya anak, ceritanya soal berapa persen gaji yang abis buat kebutuhan sosial anak, sekolah, kegiatan, pergaulan.
Salah satu temen bilang dia alokasiin sampai 80% gajinya ke rekening keluarga, dan tetap ngerasa kerja keras tapi nggak pernah kerasa "kaya" .. yang ada cuma mode survival terus.
Yang bikin capek bukan cuma harga, tapi rasa "kurang" yang nggak pernah abis.
Jakarta didesain buat bikin orang terus ngerasa kurang: gaji harus lebih gede, lingkungan harus lebih oke, gaya hidup yang "dikit lagi" keraih.
Makin ngejar standar orang lain (atau standar yang muncul di linimasa), makin jauh juga rasa "cukup" itu kekejar.
Jadi strategi paling realistis buat hidup di Jakarta bukan nyari cara biar nggak ngorbanin apa-apa, karena emang nggak ada caranya.
Tapi nyari tau: dari uang, waktu, atau kewarasan, mana yang paling worth buat LO korbanin?
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀
Di hari Arafah nanti, jangan cuma sibuk meminta pasangan yang saleh atau salehah.
Masukkan juga doa-doa kecil yang diam-diam paling dibutuhkan hati:
— minta hati yang tenang
— minta dipertemukan dengan lingkungan yang baik
— minta rezeki yang cukup dan berkah
— minta dijauhkan dari hubungan yang melelahkan
— minta kesehatan untuk diri sendiri dan orang tua
— minta dikuatkan saat hidup tidak berjalan sesuai harapan
— dan minta agar tetap bisa bersyukur meski belum memiliki semuanya.
5 skill biar lo enak diajak bergaul & nggak bikin orang ilfeel:
1. Hindarin nanya soal umur, gaji, nikah, atau hal-hal pribadi. Itu basic attitude kalau mau temenan. Mending lempar pertanyaan yang umum aja, jangan yang sensitif.
cont-
ga sengaja liat kebelakang, ternyata banyak doa yang pelan-pelan terkabul. ga selalu sesuai timing aku, tapi selalu tepat. sampai akhirnya aku sadar, hidup yang lagi aku jalani ini adalah doa yang dulu selalu kuucapkan.
WOMEN'S CRISIS CENTER (WCC)
Jika ada perempuan & anak (kamu, keluarga, teman, orang lain) jadi korban kekerasan, segera hubungi lembaga2 berikut untuk dapatkan pertolongan & pendampingan:
1. @kpp_pa : Hotline 129 atau https://t.co/FkfvTcDt9S
2. @KomnasPerempuan : https://t.co/vHzef7B9IE
3. Cari WCC sesuai domisili di web @carilayanan : https://t.co/4l9xyvSnbQ
Daftar WCC se-Indonesia kami tulis di utas ini secara bertahap. Bantu RT ya, makasih 🙏💜
Temen gue namanya Raka. Kerja di Jakarta Pusat, kos di Tangerang.
Senin sampai Jumat hidupnya di jalan dan di kantor. Tapi begitu Jumat sore dateng dia berubah jadi orang yang beda.
Ritual dia dimulai sebelum pulang kerja.
Sebelum cabut dari kantor, dia mampir dulu ke tempat langganannya snack kiloan. Beli banyak. Stok buat dua hari. Camilan asin, manis, apapun yang bikin betah. Katanya itu bagian dari "persiapan."
Persiapan buat apa?
Buat nggak kemana-mana sama sekali.
Jumat malem sampai kos, dia langsung beberes. Bukan karena disuruh tapi karena dia mau pulang ke tempat yang enak diliat. Kasur dirapiin, lantai disapu, semuanya ditata biar pas dia rebahan, rasanya beda.
Sabtu. Minggu. Dua hari itu kasur sama kamar mandi doang destinasinya.
Drakor yang udah ditabung dari minggu lalu? Dihabisin. Makanan yang udah distok? Diicip pelan-pelan. HP? Ada tapi nggak ngerasa dikejar notifikasi.
Gue pernah sekali main ke kosnya pas weekend.
Dan ini yang bikin gue aneh dia keliatan beda. Lebih santai. Lebih gampang ketawa. Lebih... jadi dirinya sendiri.
Padahal dia nggak ngapa-ngapain. Literally cuma rebahan.
Dan gue rasa banyak orang Indonesia yang relate sama ini tapi nggak pernah ngomong.
Kita hidup di kultur yang nganggep diem di rumah itu mager, itu males, itu nggak produktif. Padahal buat sebagian orang terutama yang kerja di kota besar, commute jauh, ketemu orang seharian — kesendirian itu bukan pelarian.
Itu pengisian ulang.
Raka bukan antisosial. Dia bukan introvert yang takut dunia.
Dia cuma udah tau apa yang bikin dia pulih dan dia nggak minta izin siapapun buat ngelakuinnya.
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Hy moots... Mimin baru sadar sesuatu setelah lihat CV orang yang tembus top-tier company 👀
Ternyata problem kita bukan “kurang pengalaman”, tapi cara nulisnya salah. Lo nulis CV kayak lagi cerita kegiatan :
“Bertanggung jawab atas…”
“Membantu tim dalam…”
Kedengeran sibuk, tapi gak kedengeran impactful.
CV itu bukan catatan harian. Itu alat jualan diri. 🧠💼
Mimin kasih tips bikin struktur CV yang bener, berdasarkan CVnya Jonathan Javier (Product ops-snapchat) 👇
Sifat asli seseorang jarang terlihat saat semua baik-baik saja.
Tapi perhatikan ini:
• Anak → saat orang tua menua
• Istri → saat suami jatuh miskin
• Suami → saat istri sakit
• Saudara → saat harta dibagi
• Teman → saat urusan hutang muncul
Ujian hidup itu seperti lampu sorot. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk memperlihatkan siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya ada saat senang.
hal yg dikira "privilege" padahal bare minimum waktu kerja :
1.Upah Minimum💰
2.BPJS Ketenagakerjaan & Kesehatan⚕️
3.Kerja 8 jam - kerja 5 hari seminggu.🕐
4.kerja 7 jam - kerja 6 hari seminggu, 5 jam di hari ke 6🕐
5.PKWT selesai kontrak dapat uang kompensasi 💸
6.THR untuk pekerja minimal 1 bulan kerja.💵
7.Lembur di bayar😇
8.Kerja di hari libur nasional & hari istirahat mingguan Upah 2x lipat.🤑
9.Sakit tetep di bayar upahnya.😷
10.Slip gaji di berikan tanpa harus minta📃
Tempat kerja kalian udah lolos bare minimum blm?👀📸‼️
Relasi wajib luas, tapi soal kawan dekat cukup tiga jenis circle aja:
1. Sohib (Kawan dekat yg udah kenal bertahun-tahun. Udah tau plus minus diri. Bisa ditelpon kapan aja)
2. Friends for growth (Kawan yang kehadirannya bikin kita semangat punya mimpi. Tiap ketemu belajar sesuatu dan bisa saling sharing)
3. Friends for faith (Kawan yg bikin kamu inget Tuhan & kebaikan-kebaikan duniawi)
Kita gak bisa memilih terlahir di lingkungan seperti apa, tapi bisa memilih hidup di lingkaran yg mana aja.