Sepakat sama statement di bawah.
Sebagai orang Bandung, saya beberapa kali dapat tawaran untuk kerja di Jakarta medio 2015-2018. Tapi selalu ditolak karena Bandung itu comfort zone meski penghasilannya gitu-gitu aja. Hidup di kota kelahiran, banyak teman, dekat dengan keluarga, bahkan dulu pertimbangannya sempet takut gak bisa buat main bola atau ngelatih.
Sampai akhirnya kemudian karena keterpaksaan kerja di Jakarta. Sekarang sudah bekerja di Jakarta selama 7 tahun, saya selalu menyesal…. menyesal gak dari dulu kerja di Jakarta. 😌
Benar. Aku juga melihat orang yang menikah dengan cowok yang agamanya kuat poll. Jago ngaji, rajin sholat, ceramahnya jangan diragukan deh. Istrinya lebih sering dilayani sama suaminya. Apa-apa dibantuin. Minum pun diambilkan. Pas sang suami ditanya kenapa gitu, dia bilang dalam—
Pantas saja orang-orang yang intuisinya tinggi dan empatinya besar cenderung sedikit temannya. Atau bahkan seperti ga punya teman sama sekali.
Pola-pola berulang ia rekam dalam Bawah Sadarnya. Dan itu membuat mereka cepat mengenali orang toxic walau di muka tampak baik.
Akhirnya ga mau berteman. Makin ga bisa didekati makin dicap sombong dan freak. Plus problematik.
Sebenarnya yg problematik bukan orang intuisi tinggi. Tapi lingkungannya kebetulan toxic
Gimana sih cara ngasih tau ke teman yang udah terlanjur kecanduan judi online😖, punya 2 motor udah kejual semuanya, hp udah gajelas merk nya apa, penampilan udah ga karuan, hutang dimana-mana, ditagih sana sini, udah dibilangin pake cara apapun tetep aja gamempan.😭😭😭
Dia tuh teman kecil, gatega liatnya, tapi susah banget dikasih taunya, semakin kita nasihatin semakin dia ngerasa dibenci sama kita😭😭😭
"Ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan hidup, maka
Allah akan membayar tuntas semua
kecewa dengan beribu-ribu kebaikan. Belajarlah untuk
mengerti bahwa segala sesuatu yang baik untukmu tidak akan Allah
ijinkan pergi kecuali akan diganti
yang lebih baik lagi." - (Ali bin Abi Thalib)