@pinkishru Inginnya sih bilang rindu, tapi jelas tidak mungkin ia berucap demikian. Kau paham betul seperti apa kepribadiannya bukan?
“Aku tidak mencium bau ‘tikus’ itu di sini. Apa dia sudah tewas?”
@pinkishru Sudah berapa hari kiranya tiada jumpa, ya? Mengingat Kyō sibuk berlatih bersama sang guru di Dojo. Kebetulan pula sedang libur sekolah.
“Ya, kupikir aku perlu kembali untuk memastikan sesuatu—” ia menjawab sebelum kemudian mendudukkan tubuhnya di atas lantai ruangan. »
@pinkishru “Pft—” menahan tawa sebab gengsi yang menyelimut diri. “Oi, itu berlebihan. Kau seperti sedang melihat hantu saja..” ujarnya mengembuskan napas, meluruh bersama satu senyum tulus. “Tadaima.”
‹ memasang kuda-kuda. Dengan dua jemari yang mengepal kuat di depan dada, perlahan namun pasti tubuhnya bergerak maju dan mencoba mendaratkan tendangan keras pada wajah Yūki.
“Berhenti mengataiku lemah karena yang lemah itu adalah dirimu, brengsek!” [@philvnthrope]
‹ sekalipun sang kucing mampu menjatuhkan si tikus.
Ah, inilah mengapa dia sangat muak dengan keberadaan seorang Yūki. Bukankah anak itu terlalu banyak diberi keberuntungan? Dewa sungguh berpilih kasih.
“Hah—?! Bicaramu sungguh memuakkan, tikus sialan!” dan Kyō kembali ›
@stsilvergold ‹ “Cih— Jaga mulut busukmu itu, brengsek!” untungnya masih mampu menjaga keseimbangan, jadi dia tak sampai jatuh tersungkur.
“Jangan bicara seolah kau mengerti soal hidupku!” sambar Kyō dengan raut garang khas seekor kucing yang hendak memangsa lawannya.
@stsilvergold Benar saja. Sosok yang paling dia benci di muka bumi ini dengan mudahnya menghindari serangannya. Kesal, sungguh kesal.
Meski terbiasa dengan kekalahan yang terus menerus dialaminya, tapi tetap saja Kyō tidak akan pernah menyerah untuk berusaha menjatuhkan si tikus ini. ›
@pinkishru ‹ Kau memang selalu seperti ini.” ujarnya kembali seraya menenggerkan satu tangannya pada pinggang.
“Kalau begitu, biarkan aku membantumu.” menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi dengan si gadis rasanya bukan masalah. Dalam benak, dia merasa senang lagipula.
@pinkishru “Omae sa—” tidak tahu harus berkata apalagi. Nampaknya larangan untuk melakukan hal ini dan itu tidak akan pernah diindahkan oleh Tohru.
Kyō tahu, gadis itu sebenarnya bukan memaksakan diri. Dia selalu melakukan segala sesuatunya dengan tulus. “Baiklah. Mau bagaimana lagi. ›
@pinkishru ‹ Terlebih, seharian ini Tohru sudah banyak melakukan pekerjaan rumah. Ini disebabkan Shigure yang selalu bermalas-malasan dan mengandalkan keberadaan Tohru.
“Di samping itu, kau juga harus beristirahat bukan? Walaupun besok hari libur kau tidak boleh mengabaikan jam tidurmu.”
@pinkishru “Hah? Tidak usah—” sontak menjitak pelan kepala Tohru. Dia tidak setuju bila Tohru harus repot-repot menyiapkan sesuatu untuk Shishō.
“Kau hanya perlu datang bersamaku saja besok, ahō.” timpalnya, berharap kali ini sang gadis tidak keras kepala dan menuruti ucapannya.›
@pinkishru ‹ sih?” ujarnya selagi menenggerkan satu tangannya di pinggang. Lagi dan lagi, melihat riangnya wajah Tohru selalu berhasil menghangatkan relung hatinya.
@pinkishru Meski telah terbiasa dengan sisi keantusian Tohru yang selalu berkesan tiba-tiba, tapi tetap saja Kyō masih belum bisa mengontrol rasa kejutnya.
Terlihat dari iris matanya yang melebar sesaat. Namun, setelahnya dia tersenyum kecil. “Ttaku, kenapa kau sangat bersemangat begitu ›