kepala staf kepresidenan soal manajer kopdes yg meninggal:
"dapat informasi gada kelalaian, ya namanya meninggal tidak serta merta krn latihan militer"
ngejawabnya gada ekspresi sedih malah sambil ketawa kecil
rip empati ๐ฅ
bayangin ini jalur resmi masuk Pertamina lewat BPS tesnya puanjanggg dan soalnya susah gila. kalo lu ga pinter, cerdas, kritis, bahasa inggrisnya bagus, paham isu terkini terkait bidang yg didaftarin, dan lainnya ga bakalan mungkin lolos. tiba-tiba ada bocah 27 tahun jalur fast track timses jadi komisaris yg gajinya bisa nyentuh 200jt sebulan like what the hhhh..???
Jangankan pacar, kadang temen juga gini kok. Ada yang sama si a suka foto, main sana-sini dll, giliran sama kita malah gamau dan ga effort.
So, if they're not meant to be for you, they will find way to disappoint you in so many ways, babes...
Juminten berjualan bando rajut Rp10.000 di Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan, setiap hari.
Dari penghasilan itu dia gunakan untuk bertahan hidup bersama kucingnya bernama Bima yang sudah menemaninya selama sembilan tahun.
Kreatif: Rega Almuhtada
Produser: Akhdi Martin Pratama
#Bando #Kucing ##review
Capitalism ruins literally everything ๐ twitter went from daily ranting logs to just a tailored engagement farming app like ppl are just saying anything rn for pennies ๐
Yall think this is funny but itโs truly sad. A man could literally be dying and still have enough energy to sexually assault a woman trying to save his life.
UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta.
Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan.
Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat.
Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS.
UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan.
Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional.
Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital.
Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis.
Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat.
Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah.
Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI :
Menuntut harga BBM jangan naik.
Menuntut penggunaan APBN tidak boros.
Menuntut harga sembako turun.
Menuntut harga hasil panen petani naik.
Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan.
Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik.
Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah.
Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan.
Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang.
Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando.
Sementara mahasiswa BINUS :
Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi.
Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian.
Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru.
Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan.
Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi.
Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana.
Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi.
Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan.
Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas.
Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran.
Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar.
Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi.
Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus.
Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi.
Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi.
Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi.
Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja.
Kultur perlawanan melahirkan tuntutan.
Kultur teknologi melahirkan solusi.
Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan.
Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi.
Pabrik tidak dibangun oleh spanduk.
Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara.
Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru.
Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan."
Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya."
Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.
Padahal jumlah lulusan pendidikan tinggi di Indonesia cuma 11% (data terbaru), jauh di bawah rata-rata OECD (hampir 50%), tapi udah bikin โinflasiโ gelar. Ini tandanya lowongan pekerjaan emang se-sedikit itu kah?
Udah berapa kali akun ini bilang, skema BGN pake yayasan itu sengaja agar tidak bayar pajak penghasilan badan.
Insentif harian tidak dicatat sbg penghasilan. Tp dianggap sbg hibah
Mostly SPPG juga bukan PKP jadi ga mungut PPN
Jadi 335 Triliun uang muter tanpa generate pajak