Guys lu ingat gk beberapa hari yang lalu
prabowo pamer uang sitaan yang triliunan
tapii kata mantan Eks Pimpinan KPK
itu adalah sesuatu yang aneh.....
Menurut Amin, praktik pamer uang sitaan itu bukan cuma salah secara teknis tapi juga menyimpang dari prinsip global.
- Uang hasil sitaan itu seharusnya tidak berbentuk cash
- Harusnya cukup dipindahkan via rekening (transfer ke negara)
- Bukti hukumnya? Slip transfer, bukan tumpukan uang
Tapi yang terjadi?
- Uang dicairkan
- Ditumpuk
- Dipamerkan ke publik
Dan di sinilah kritik paling pedas itu muncul:
Law enforcement berubah jadi law entertainment.
Alias… penegakan hukum berubah jadi konten tontonan.
Masalah Besarnya Bukan Sekadar Gimmick
Ini bukan cuma soal gaya.
Ini soal logika hukum yang rusak dari akar.
Amin bilang:
- Aparat sering tidak paham konsep “mens rea” (niat jahat)
- Semua hal yang “merugikan negara” langsung dicap korupsi
- Bahkan keputusan bisnis bisa dikriminalisasi
Padahal dalam hukum modern:
- Rugi ≠ Korupsi
- Salah keputusan ≠ Kejahatan
- Tanpa niat jahat = bukan pidana
Tapi yang terjadi di lapangan?
Pokoknya ada kerugian → cari pasal → jadikan tersangka
Kasus LNG: Contoh Nyata yang Dibilang “Ngaco”
Dalam kasus LNG Pertamina:
Ada transaksi jangka panjang (2019–2039)
Dalam beberapa tahun → rugi (karena COVID)
Tapi tahun lain → untung
Kalau dihitung total?
Masih untung
Tapi oleh aparat?
- Diambil bagian ruginya saja
- Dicap sebagai korupsi
- Bahkan disebut “menguntungkan pihak asing”
Padahal secara logika bisnis:
- Harga turun karena pasar global (COVID)
- Kontrak sudah disepakati jauh sebelumnya
- Tidak ada bukti “niat jahat”
Dan di sini kritiknya makin pedas:
Penyidik, jaksa, bahkan hakim…
tidak paham bisnis LNG.
Dampaknya Gak Main-Main
Ini bukan cuma soal satu kasus.
Ini efek sistemik:
Orang yang ambil keputusan jadi takut
Salah sedikit → bisa dipenjara
BUMN gak berani ekspansi global
Karena risiko hukum lebih besar dari risiko bisnis
Investor luar bisa ketawa
Logika hukumnya dianggap gak masuk akal
Amin bahkan bilang:
Kalau begini terus,
Indonesia mainnya bukan di liga 3…
tapi non-liga.
Pedas? Iya.
Tapi juga… mengkhawatirkan.
Ironi Paling Ngena
Di saat:
Pemerintah klaim pemberantasan korupsi meningkat
Popularitas naik karena “terlihat tegas”
Data global justru bilang:
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia turun
Artinya?
- Secara citra naik, tapi substansi turun
Ini yang bikin miris:
Yang pinter ambil keputusan → bisa dikriminalisasi
Yang bener-bener korup → belum tentu kena
Yang ditampilkan ke publik → lebih ke “drama” daripada substansi
Dan pertanyaan paling akhir diucapkan beliau:
Kita lagi memberantas korupsi… atau lagi membangun panggungnya?
Yaa Allah… 😭😭💔
I’m speechless. I’ve no more words, but hurts…
Prabowo:
Perdamaian akan datang bila semua menghormati, menjamin keamanan IsraHell.
Loh? Memangnya keamanan IsraHell terusik?
Yang dijajah siapa?
Pada tahun 1980-1990an, preman-preman buas dari Timor Timur semakin membludak di Jakarta.
Preman-preman ini berkhianat terhadap bangsanya sendiri. Mereka menjadi anjing peliharaan ABRI di Timor Timur.
Akibatnya, mereka tak punya rumah untuk pulang.
Kalau begitu, apa yang mereka lakukan?
Mereka menjadi seperti karma bagi Indonesia: giliran kita yang dijajah dan dirampok.
Faksi ABRI yang beroperasi di Timor Timur sangat berhasil membentuk suatu mesin penindasan dan pemalakan buas. Saking berhasilnya, ketika mereka menyebar dan menginfeksi kota-kota Indonesia seperti hama tikus, kita kewalahan.
Preman-preman asing ini menetap di kota besar seperti Jakarta. Mereka kemudian memungli, memalak, dan memukuli rakyat kecil di Jakarta, terutama di Tanah Abang.
Oleh preman-preman ini:
- Pedagang pasar dirampok.
- Pembeli pasar dirampok.
- Orang yang parkir dirampok.
- Ruko dirampok.
- Perumahan cluster dirampok.
- Rumah-rumah kumuh dirampok.
- Perkapalan dirampok.
- Pelabuhan kontainer dirampok.
- Truk dirampok.
- Gudang dirampok.
- Pabrik dirampok.
- Gedung-gedung kantor dirampok.
- Perusahaan di dalam gedung-gedung itu dirampok.
Mereka kerap tawuran dengan gerombolan preman lain yang tidak kalah jahat dan buasnya untuk memperebutkan daerah rampokan. Secara jumlah mereka kalah dengan gerombolan preman dengan seragam warna luar biasa norak, sehingga mereka lebih fokus ke kekejaman dan kebengisan.
Warga Jabodetabek sangat resah. Malam hari sangat mencekam.
Punglinya sangat mahal. Pedagang yang tidak bayar dipukuli sampai mampus sebagai percontohan.
Orang yang bilang bahwa "zaman Orde Baru lebih enak" jelas belum pernah dipukuli preman-preman buas peliharaan rezim ini karena tidak punya uang untuk setor pungli, sebagai percontohan untuk pedagang-pedagang lainnya.
Argumen bahwa "Orde Baru membasmi preman" dipatahkan dengan keberadaan gerombolan-gerombolan preman ini.
Kriminalitas bukannya dibasmi, melainkan dilembagakan.
Bukan hanya dilembagakan, setoran punglinya juga dilembagakan. Supaya tidak dipetrus, para preman ini menyetor ke beking-beking mereka di atas.
Beking-beking rezim ini, in turn, melindungi preman-preman itu dan bahkan senang apabila pedagang kecil dipukuli sampai mampus. Semakin banyak pedagang yang diperas, semakin banyak uang yang terkumpul untuk disetor ke beking.
Beking-beking rezim ini kemudian memakai uang setoran hasil merampok pedagang dan pembelinya itu untuk berjudi, bermabuk-mabuk, menyewa prostitusi, atau (dan terutama) menyetor ke atasan mereka. Dan seterusnya.
Megawati naik menjadi pemimpin oposisi melawan Orde Baru pasca Kudatuli karena narasi sederhana: rezim Orde Baru adalah rezim preman. Rezim mafia kriminal, dengan Soeharto sebagai ketuanya seperti Don Corleone dalam film "The Godfather".
Kudatuli bukan disebabkan "preman kiriman rezim Soeharto". Melainkan, Soeharto, keluarganya, dan seluruh anak buahnya *adalah* preman.
Media AsiaWeek misal mencatat bagaimana preman-preman Timor terlibat langsung menyebabkan Kerusuhan Mei 1998. Saat itu, preman-preman Timor didatangkan dengan pesawat ke Yogyakarta lalu dibawa ke Jakarta pakai kereta api oleh beberapa oknum jenderal yang memelihara mereka sebagai semacam gerombolan tukang pukul (dan tukang bunuh) pribadi.
---
Gerombolan-gerombolan preman berkostum Betawi dan berkostum Islam garis keras sebenarnya muncul sebagai reaksi terhadap kegagalan negara membasmi preman-preman buas semacam ini dari pasar dan ruang-ruang hidup rakyat kecil di daerah kumuh Jakarta.
Debutnya terjadi pada akhir 1990an, yaitu ketika gerombolan-gerombolan preman yang berkostum etnis Betawi berhasil menggulingkan dominasi preman Timor dari Tanah Abang.
Gerombolan baru ini tetap memungli dan memalak ekstrem, tetapi dengan rate yang lebih masuk akal untuk dibayar pedagang dan dengan kekerasan yang jauh lebih dikurangi.
Daripada kekerasan murni, mereka memakai etnopopulisme sektarian Betawi untuk melakukan pendekatan yang politis, tidak seperti para preman Timor dan preman tua lain yang hanya bisa memukul dan membacok.
Preman-preman baru yang lebih efektif ini kemudian merapat dengan rezim Orde Baru dan bahkan bergabung dengan preman lama dalam suatu koalisi besar Pam Swakarsa untuk memukuli dan meneror para aktivis Reformasi.
Beberapa dari mereka bahkan membantu keluarga Cendana melakukan aksi teror dan bom terhadap usaha pengusutan kasus-kasus korupsi Orde Baru, sebagaimana diungkap Gus Dur pada September 2000.
Dalam serangan bom mobil yang mereka lancarkan pada Bursa Efek Jakarta, 15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil tubuh manusia.
Keluarga Cendana dan kroni-kroninya sendiri memiliki uang dengan jumlah sangat banyak yang mereka rampok dari berbagai sumber, seperti monopoli ekspor impor migas di Petral.
Uang rampokan itu kemudian menjadi sumber dana aksi-aksi teror preman untuk menghalangi orang-orang Reformasi yang berusaha mengusut mereka.
NO VIRAL NO JUSTICE
Seorang pedagang aksesori kendaraan di Bekasi memberanikan diri mengungkap tragedi yang dialaminya pada tahun 2024.
Ia mengaku menjadi korban perampokan dan penyanderaan yang diduga dilakukan oleh oknum salah satu Polsek di Bekasi.
Tak hanya kehilangan harta, ia bahkan mengaku dimintai uang tebusan.
Berharap ada keadilan, ia melapor ke Propam Polres Metro Bekasi. Namun, kenyataan pahit justru ia terima. Bukannya laporan diproses, ia mengaku malah ditakut-takuti dengan ancaman pasal pidana agar segera mencabut laporannya.
Kini, setelah setahun terdiam dalam ketakutan, ia hanya meminta satu hal: Keadilan.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
Remaja bernama Rizki Nur Fadhilah dari Pasigaran, Citeureup, Dayeuhkolot, diduga menjadi korban TPPO setelah awalnya diajak seseorang untuk mengikuti seleksi sepak bola PSMS Medan melalui SSB bernama Sparta FC. Alih-alih menuju seleksi yang dijanjikan, keluarga justru menerima kabar bahwa Rizki telah dibawa ke Kamboja, dipaksa bekerja, dan mengalami penyiksaan, sementara ia masih bisa menghubungi orang tuanya secara diam-diam sambil terus meminta bantuan untuk bisa kembali pulang.