Awalnya coba-coba, ujungnya cobaan. Awalnya jalanin aja dulu, ujungnya jalan buntu. Awalnya setengah hati, ujungnya makan hati. Emang ya, apa-apa yang dimulai dengan enggak serius harus siap kalau hasil akhirnya bercandaan doang
Minta dihargai, giliran ditanya harga ngamuk. Mau jadi manusia bermanfaat, giliran dimanfaatkan tidak terima. Ingin jadi paling gagah, giliran digagahi bikin thread. Katanya harus jadi guru bagi satu sama lain, giliran digurui malah tidak mau
.
Manusia memang lucu sedari sananya
Hai, hai. Di tahun baru ini, kita udahan yuk julidnya. Mending, kita bahas yang lain aja. Seperti: Kenapa @jek___ belum juga centang biru. Saya yakin karena followers-nya beli
Maaf. Lupa. Enggak boleh ngomong anjay. Eh lupa lagi. Dibilang enggak boleh ngomong anjay. Aduh kesebut. Maaf, ini murni kesalahan saya karena sudah berani bilang anjay. Aduh. Enggak maksud bilang anjay. Ah anying lah pusing aing
Aneh banget. Emot 😊 sekarang berfungsi untuk menyembunyikan kesedihan. Emot 😭 berfungsi untuk menanggapi lawakan. Emot 🤣 bisa dikirim tanpa betulan ketawa. Bukankah kalau begitu ❤️ bisa diucapkan tanpa keseriusan? Lalu, kenapa 💔-nya betulan?
Akhirnya, saya dan istri nyerah. Hari ini kami ngungsi ke rumah sepupu di Lembang. Pas lagi ngeluarin mobil, panitia 17-an ada yang sengaja nyetel lagu saya, terus nyanyi. "Pergi saja engkau pergi dariku ..." Saya sahut, "Iya. Ini mau pergi kok. Enggak usah ngusir!"
.
Ngeeeng
Apalagi, saya pernah baca, anak dalam kandungan juga bisa mendengar. Makanya kita mesti jaga ucapan. Nah kalau terus-terusan dengerin lagu Tiktok, mohon maaf, takutnya pas lahir bukannya nangis, tapi malah ngomong, "Nungguin ya?"