Super excited to have my first paper published!
https://t.co/hnqvHQGjjs
Semoga bermanfaat untuk peradaban umat manusia.
Terima kasih @LPDP_RI
Thank you @univgroningen
NOPE.
Mereka juga harus merasakan macet yang dialami masyarakat, terutama para pengambil kebijakan.
Lebih baik lagi mereka naik transportasi umum.
Karena dari situlah mereka bisa bikin kebijakan transportasi massal yang manusiawi dan efektif, karena mereka sendiri sudah merasakan
Gw kurang paham ama org2 yg komplain dengan pejabat (mentri pres wapres atau gub dll) yg kl dijalan pake pengawal yg ngebuka jalan, Coba Deh kita duduk berimbang… menurut ge ya, kl itu dilakukan dalam melaksanakan TUGAS rasanya pantas lah. Agenda sebegitu banyak , tanpa pengawalan bgitu WAKTU bs abis dijalan. Kecuali agenda pribadi mau leyeh2 karaokean 😂
Trus kl Mrk telat nyampe lokasi , naik lagi tweet “KALO PEJABAT SUKA TELAT !”
🫢
Kalau benar rem blong, ada 2 pihak yang harus bertanggung jawab:
1. Perusahaan pemilik truk karena lalai dalam perawatan kendaraan
2. Aparat yang berwenang mengawasi tonase truk yang lalai sehingga truk over dimension/over load bisa lolos, entah lalai entah disuap 🤷🏽♂️
Lebih dari 10 kendaraan terlibat dalam kecelakaan beruntun di Jalan Tol Purbaleunyi pada Senin (11/11/2024) | #BreakingNews#Kecelakaan#TolCipularang
https://t.co/dnT8H6vtAh
Kalau mau serius ngatasi macet, subsidi transum jgn diutak-atik, malah ditambah spy gratis, fasilitas diperbaiki.
Dananya dari mana?
Cabut subsidi BBM mobil, naikkan pajak mobil.
Tapi apa pemerintah mau? Pengambil kebijakan aja nggak naik transum, malah dikasih fasilitas mobil 😂
"Kenapa Saya Harus Minta Maaf"
Jika terjadi aksi terorisme atau pelarangan ibadah agama lain yang dilakukan oleh umat Islam, saya selalu merasa malu sebagai muslim.
Namun saya tentu tidak dapat melakukan apapun. Yang bisa saya lakukan secara pribadi hanyalah: meminta maaf.
Meminta maaf karena hal seperti itu masih terjadi. Meminta maaf karena saya secara pribadi tidak bisa melakukan apa-apa selain bersuara di medsos. Dan meminta maaf karena perbuatan itu dilakukan memakai agama yang saya peluk.
Saya ingin sedikit menjelaskan kenapa hal seperti itu terjadi. Dalam Islam, faktanya ada penafsiran dalil (Quran dan Hadis) yang perbedaannya 180 derajat. Itu fakta. Andai saya boleh memaksakan pendapat ke semua muslim, saya akan bilang agar semua melihat mana penafsiran yang logis.
Misal soal dalil yang berisi utusan untuk membunuh kafir. Kalau kita mengartikan:
- membunuh dengan arti "mencabut nyawa"
- kafir dengan arti "non-Islam"
maka hasilnya adalah orang-orang radikal itu.
Mari kita berpikir logis, misal Nabi Muhammad dulu memakai prinsip itu, mungkinkah agamanya diterima jika semua orang non-Islam dibunuh? Mungkinkah?
Misalnya ada fakta bahwa pamannya Nabi tidak masuk Islam hingga akhir hayat. Apakah paman Nabi dibunuh Nabi? Apakah paman Nabi dilarang beribadah sesuai keyakinannya?
Kalau saya: Kata "membunuh" dalam bahasa Arab bisa saja diartikan memerangi. Memerangi buta huruf bukan berarti membunuh orang yang tak bisa baca, kan? Sedangkan kata "kafir" artinya adalah: non-Islam yang memerangi Islam.
Jika mengikuti penafsiran seperti saya tersebut, di negara kita saat ini bisa dibilang tidak ada orang kafir. Misalnya sekarang ada orang-orang yang membenci Islam (misal para atheis ex-muslim yang "benci" Islam dan banyak beredar di Twitter), itu juga karena kesalahan orang Islam sendiri yang salah mengartikan Quran.
Logika saya sederhana: Nabi tidak memusuhi non-Islam, tapi memusuhi orang kafir (yang berarti non-Islam yang memusuhi Islam). Namun sayangnya mayoritas Islam mengartikan kata kafir sebagai non-Islam.
Makanya, saya selalu maklum jika ada atheis (dan juga non-Islam) yang membenci Islam karena faktanya ada yang mengartikan Quran secara tekstual dan jauh berbeda dengan yang saya yakini.
Yang perlu diingat adalah, di negara-negara Islam yang negaranya maju, jelas mereka tidak mengartikan Quran secara radikal seperti itu.
Kita bisa bandingkan negara timur tengah yang maju dan yang terus perang saudara, pasti dasar memahami Islam-nya juga sangat berbeda. 180 derajat.
Tinggal kita di Indonesia ini mau mengikuti penafsiran dari negara Islam yang maju atau yang suka berperang sepanjang zaman?
Masalah di Indonesia adalah: orang-orang radikal itu "dibebaskan" berkembang. Kita bisa lihat ceramah ajaran radikal masih dilakukan oleh ulama yang banyak pengikutnya.
Orang yang radikal itu banyak? Iya, tapi untungnya bukan mayoritas. Kalau yang bersikap seperti itu adalah mayoritas umat Islam, negara ini sudah tidak jalan tentunya.
Orang seperti saya cuma orang biasa yang sering kali tidak bisa apa-apa. Ya cuma bisa bersuara di Twitter supaya orang radikal seperti itu tidak bertambah.
Faktanya, masih ada muslim yang berpikir radikal dan membenci non-Islam.
Faktanya, masih ada muslim yang merasa terganggu dengan ibadah agama lain.
Selain menulis di Twitter, saya jelas tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah orang yang radikal itu.
Saya ini siapa? Ketua ormas bukan. Ustaz bukan. Punya jemaah juga tidak. Pejabat pun tidak. Apa yang bisa saya lakukan di saat ada pelarangan ibadah yang lokasinya bahkan bukan di daerah saya? Sama sekali tidak ada.
Ya saya cuma bisa minta maaf. Sebagai saya pribadi sebagai muslim. Bukan mewakili siapapun.
(Hasyim Muhammad)
#islammasadepan
@PT_Transjakarta saya tap out di halte Benhil 2 bawah di bus 1B, di alat tap out-nya berhasil, tapi kenapa di mesin tap in MRT dibilang belum tap out ya? Saya jadi tidak bisa pakai tarif integrasi. Sudah 2x kejadian seperti ini. Tolong solusinya dari TJ. Terima kasih
BREAKING NEWS:
The 2021 #NobelPrize in Chemistry has been awarded to Benjamin List and David W.C. MacMillan “for the development of asymmetric organocatalysis.”
If you’re in a position of power, stop saying “that’s just how things are” and start asking “how do we actually want things to be?” Then, work to make that happen.