Kekuasaan terus berdiri megah di atas suara-suara yang sengaja dibungkam. Namun tak ada singgasana yang benar-benar aman, dari amarah yang tumbuh perlahan dalam diam.
Kalian sebut ini kemajuan, tapi bumi menyebutnya luka yang menganga.
Di antara batang-batang hangus, harapan mencoba bernapas meski tersiksa.
Kami menjadi nadinya, berdetak keras menuntut dunia yang kalian renggut paksa.
Akar-akar yang tercabut melolong dalam sunyi yang mencekik. Malam menangis hitam, menyelimuti tanah yang ditinggalkan terkoyak. Satwa tak lagi bersuara, hanya meninggalkan jejak yang memudar ke dalam kegelapan.
Tidak ada yang lebih kejam dari keserakahan yang dibungkus rapat oleh hukum. Mereka merobek tanah, memenjarakan sungai, dan menenggelamkan masa depan. Dan para anak-anak menulis perlawanan di udara, agar langit tahu siapa musuhnya.
Tanah menangis, langit murka, dan laut menelan hasil keserakahan. Satwa berlari, manusia berpura-pura buta. Tak ada kemajuan dalam dunia yang membunuh paru-parunya sendiri.
Bulldozer berteriak lebih keras dari burung yang dulu bernyanyi di pagi hari. Mereka menggali emas di tanah yang dulu hidup dengan tenang, dan menanam kebohongan di atas kuburannya. Kami menolak tunduk pada dunia yang menjadikan akar sebagai korban keserakahan.
Mereka bukan penguasa gedung bertingkat,
bukan pemilik meja panjang penuh kuasa,
tapi setiap ruang yang selalu ia jaga,
adalah medan tempur melawan lapar dan nestapa.
Setiap keluhan yang terucap adalah jejak waktu, meninggalkan cerita tentang hidup yang terjaga dalam bayang-bayang angan yang tak pernah tercapai. Lantas apakah setiap kita mengeluh itu akan memperpendek umur kita?