Humility Online: Some Thoughts
Something I constantly remind myself of, especially when online, is that I don’t need to have an opinion on every issue (and I certainly don’t need to express one). In fact, it would be the height of arrogance for me to do so, because I simply cannot know enough. My knowledge is limited. I have much to learn. I am one person.
I am not an expert on military issues, health concerns, legal questions, etc. And reading an article or two, even a book or two, does not make me one.
Wisdom has not been democratized. Some have more, some have less, some have none. There is also a hierarchy of learning and expertise. I strive to learn from those who seem higher on that scale.
For all its good, social media is also an extremely dangerous area. It gives an equal platform to both sages and fools. All too often, it rewards those who are the loudest and most obnoxious. It also allows us to give immediate vent to emotional reactions we may have (never a good idea).
Let us then pray for humility, patience, and discernment when opening FB, Instagram, X, or some other social media. Make it your goal to be positive and encouraging as much as possible. If something negative must be said, first give it 5 minutes. Then, if you still want to say it, do not attack the person but critique an idea.
Social media can be a place we make better or worse. The decision is ours. Let us strive, as much as possible, to leave it better than we found it.
Peace to each of you.
Laporan dari Korea di program KLAB, KBS tentang MBG:
Sejak tahun lalu, siswa, balita, ibu hamil -- sebanyak 83 juta orang menerima 1 kali makan siang gratis.
Keliatannya bagus.
Tapi kata Prof. Youngkyung Ko dari Yonsei University:
"Proyek sebesar ini, tapi dijalankan dengan tergesa-gesa. Padahal anggarannya LUAR BIASA, 320 triliun rupiah. Hampir 18% dari total anggaran negara."
"Tapi program ini dijalankan secara nasional, tanpa persiapan yang matang, pengadaan, SOP, dan rantai pasok yang matang. SEMUA BELUM SIAP. SEMUA BERANTAKAN."
Belum lagi, ternyata operasional program ini berbeda dengan yang biasa kita kenal (di Korea, makan siang dimasak di dapur sekolah).
Bukannya dimasak di sekolah, tapi dipesan dari pihak ketiga. Lalu diantar ke masing-masing sekolah.
Indonesia panas, belum lagi dimasak pagi-pagi, membuat kondisi makanan jadi kurang baik. KERACUNAN DI MANA-MANA.
Koresponden KBS di Indonesia:
"Kalau saya tanya warga sekitar, harusnya MBG bukan prioritas, lebih utama kesejahteraan rakyat dan stabilitas harga dibanding menghamburkan uang untuk program ini."
Pemerintah akhirnya menghentikan sementara program ini selama liburan sekolah. Tapi kontroversi terus berlanjut.
Prof. Youngkyung Ko:
"Pemerintah langsung menggelontorkan dana besar-besaran untuk BGN, sampai terus menerus ada dugaan korupsi. Sampai akhirnya petinggi BGN ditangkap Kejaksaan karena korupsi."
"Belum lagi keterlibatan militer di program ini."
"Sejak Prabowo jadi Presiden, tentara boleh menduduki dan menjalankan jabatan sipil."
"Hasilnya, semua koneksi militer berbondong-bondong masuk ke bisnis program MBG ini."
Mahasiswa dan masyarakat pun turun ke jalan khawatir pemerintahan sipil sejak reformasi, akankah kembali ke rezim militer?
(Kutipan)
PERNYATAAN SIKAP BERSAMA
Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI):
PGI, KWI, PGPI, PGLII, PBI, BK, GMAHK, GOI
"Mengakhiri Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua, Mengedepankan Martabat
Manusia, Dialog, dan Keadilan, Bukan Militerisasi"
Lebih dari lima dekade setelah Papua berintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanah ini masih menyisakan luka kemanusiaan yang belum kunjung dipulihkan.
Konflik bersenjata yang terus berlangsung telah menimbulkan korban jiwa tanpa henti, baik dari kalangan Orang Asli Papua, warga sipil non-Papua, aparat keamanan, maupun pihak-pihak lain yang terjebak dalam pusaran kekerasan.
Di tengah situasi tersebut, perempuan, anak-anak, tokoh agama, tenaga kesehatan, guru, petani, dan masyarakat adat tetap menjadi kelompok yang paling rentan menanggung akibatnya.
Berdasarkan pergumulan tersebut, kami menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Menyatakan keprihatinan yang sangat mendalam atas krisis kemanusiaan yang
tidak kunjung berakhir di Tanah Papua.
Karena itu, kami menyerukan kepada seluruh pihak yang bersenjata, baik aparat negara maupun kelompok bersenjata non-negara, untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan mengutamakan keselamatan warga sipil di atas kepentingan apa pun.
2. Mendesak pemerintah untuk mengevaluasi secara menyeluruh pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan di Papua.
Pengalaman panjang menunjukkan bahwa dominasi pendekatan militeristik tidak mampu menghadirkan perdamaian yang berkeadilan. Sebaliknya, pendekatan tersebut justru terus memunculkan pengungsian, trauma sosial, ketakutan, dan siklus
kekerasan yang berulang.
3. Mendesak pemerintah untuk memberikan prioritas utama kepada penanganan krisis kemanusiaan dan para pengungsi internal (Internally Displaced Persons/IDPs).
Kami mempertanyakan mengapa perhatian negara terhadap mereka masih jauh dari memadai, sementara berbagai kebijakan keamanan terus diperluas. Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi seluruh warga negara, terutama mereka
yang berada dalam situasi paling rentan.
4. Menegaskan kembali bahwa dialog kemanusiaan merupakan jalan yang paling bermartabat untuk menyelesaikan persoalan Papua.
Selama bertahun-tahun, gereja-gereja di Indonesia dan di Tanah Papua, para
pemimpin adat, tokoh perempuan, kaum muda, akademisi, dan masyarakat sipil terus menyerukan dialog yang inklusif, jujur, dan bermartabat. Namun seruan tersebut tidak memperoleh ruang yang memadai dalam kebijakan negara.
Padahal, dialog bukanlah tanda kelemahan negara, melainkan wujud kedewasaan demokrasi.
5. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia beserta seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan penyelamatan kehidupan manusia sebagai prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan di Tanah Papua.
6. Mengajak seluruh gereja di Indonesia untuk semakin memperkuat pelayanan
kemanusiaan bagi masyarakat Papua, khususnya bagi para korban kekerasan
dan para pengungsi.
7. Mendesak pemerintah agar memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi gereja untuk menjalankan panggilan kemanusiaannya tanpa rasa takut dan tanpa stigma.
Pelayanan gereja kepada masyarakat yang menderita tidak boleh dicurigai sebagai bentuk keberpihakan terhadap kelompok tertentu ataupun dikaitkan dengan gerakan separatisme.
Negara justru berkewajiban mendukung, melindungi, dan memfasilitasi
pelayanan kemanusiaan gereja sebagai bagian dari upaya bersama memulihkan
martabat manusia, membangun kepercayaan, dan menghadirkan perdamaian yang berkeadilan di Tanah Papua.
Jakarta, 16 Juli 2026
Berat dari lembaran emas pada nyala api perunggu di puncak Monumen Nasional (Monas) mencapai 50 kilogram.
Dengan kata lain, beratnya tidak sampai 74 kilogram. 🙏
Indonesian President Prabowo Subianto’s $15bn free meals initiative, meant to feed millions of children nationwide, is instead becoming one of Indonesia's largest corruption scandals, with funds allegedly misdirected to affluent regions
🔗: https://t.co/9HA57Ee8z0
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi konflik bersenjata di Tanah Papua yang dalam beberapa hari terakhir menelan korban jiwa warga sipil, tokoh gereja, aparat keamanan, hingga warga negara asing.
Melalui siaran persnya di Jakarta, Jumat (3/7/2026), PGI menyerukan penghentian seluruh bentuk kekerasan dan meminta semua pihak menghormati martabat serta kesucian hidup manusia.
PGI menyebut korban yang meninggal dunia akibat rangkaian kekerasan tersebut di antaranya Pdt. Elianus Agimbau, pelayan Tuhan dan gembala jemaat GKII, Melkiana Duwitau yang sedang mengandung delapan bulan beserta bayi yang dikandungnya, serta Okto Tigau, warga sipil yang ditemukan meninggal dunia dengan dugaan mengalami penyiksaan, lima luka tembak di bagian dada, dan mutilasi pada telinganya.
Selain itu, PGI juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat, Captain Nicholas F. Goselin, yang tewas dalam penyerangan dan pembakaran pesawat AMA PK-RCY di lapter Ipdeheik, kampung Balinggama, distrik Sobaham, kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026. Selain itu gugur satu prajurit TNI, Praka Bayu Oktara, hingga memaksa ribuan warga sipil mengungsi akibat memburuknya situasi keamanan.
“Setiap nyawa yang hilang adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. Ketika seorang pendeta, ibu hamil bersama bayinya, warga sipil, pilot pesawat, maupun aparat negara menjadi korban, yang terluka bukan hanya keluarga mereka, melainkan juga harkat martabat kemanusiaan kita bersama,” demikian isi pernyataan PGI yang ditandatangani Pdt. Ronald Rischard Tapilattu, kepala biro Papua PGI.
https://t.co/P5gzZmBjAN
Baca selengkapnya: https://t.co/1GWRp1v9pM
Akses menuju Dataran Tinggi Gayo kembali terbuka setelah melewati masa sulit akibat longsor.
Warga meresmikan Jalan Enang-Enang yang diperbaiki secara swadaya, diprakarsai Sahrial Abadi dengan dana patungan Rp 1 miliar.
~RK #patungan #DataranTinggiGayo
kronologi tew4snya ibu hamil ditemb4k dipapua:
- 2 Juli 2026, sehari setelah jenazah Pendeta Elianus Agimbau ditemukan.
-Di dalam rumahnya sendiri (honai)
- Kondisi saat kejadian: Melkiana sedang hamil 7 bulan
- berada di dalam rumah saat peluru menembus dinding honai miliknya.
- Luka yang dialami: Ia tertemb4k di bagian bahu.
- Pihak rumah sakit sempat melakukan operasi, namun tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
- Melkiana dan bayinya meningg4l dunia, menurut laporan Human Rights Defender (HRD) Papua.
- rakyat mengaku peluru itu berasal dari TNI
- Sementara TNI mengaku itu pelakunya OPM
Elianus Agimbau, pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia, dan Sandi Agimbau, meninggalkan kampung Kupia untuk mengungsi ke kota Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah. Mereka ditembaki dekat pangkalan ojek Mbamogo. Elianus mati di tempat, Sandi lari dari serangan https://t.co/ebdhnePnP0
Editornya jago parah 🤣🤌
Prabowo dirujak soft spoken sama Fatimah, Waketum BEM UI.
Langsung keliatan bedanya sama yang biasa ngamuk dan tantrum.
Yang tenang malah menang.
Keren Fatimah👍👍
Luka dan Duka Intan Jaya: 1 Juli 2026, Elianus Agimbau, Evangelis Gereja GKII di Klasis Nabia ditemuka tak bernyawa pada 30 Juni. Dimakamkan siang.
Jenazah Okto Tigau yang ditangkap aparat di Pos TNI ditemuka tak bernyawa dengan lima luka tembak, tlinga kiri putus dan sejumlah luka sayatan di badan di dekat Pos TNI. Dimakamkan di tempat yang sama pada sore hari.
😭😭
#Papua
Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Muhammad Abdimaludin mengaku menerima uang sebesar Rp 20 juta diduga dari oknum polisi. Uang tersebut disalurkan melalui seorang senior alumni Fakultas Hukum UBK dan diterima sebelum aksi demonstrasi mahasiswa pada Senin (15/6/2026).
Uang tersebut diduga berkaitan dengan rencana pemindahan titik aksi mahasiswa UBK di Istana Presiden, Jakarta Pusat.
Gimana kalau menurut kalian? Coba komen!
Content Creator: Dian Reinis
Produser: Akhdi Martin
#demo #demomahasiswa #demojakarta #review
"Originality in preaching, if it be originality in the statement of doctrine, is falsehood.
We are not makers and inventors;
we are repeaters,
we tell the message we have received.”
- C.H. Spurgeon