81 tahun kemudian:
1. Persekusi tempat ibadah masih terus berlanjut.
2. Adil berupa pembungkaman & penyiraman air keras ke aktivis.
3. Bersatu dalam slogan, tapi Papua masih dibiarkan berjuang sendirian.
4. Semua perwakilan adalah rezim biadab
5. Gaji murah untuk buruh negara.
Pak Presiden @prabowo@setkabgoid Indonesia harus melakukan hal yg sama. Indonesia harus hentikan penjualan, pengambilan soft coral dan terumbu karang lainya. Indonesia sekarang menjafi satu2 nya negara yv memperdagangkan terumbu karang ! Mohon Pak Presiden segera hentikan 🙏🙏🙏🙏
#intinyadeh ibu di Kampar, Riau, diduga diintimidasi & anaknya dikeluarin dr PAUD abis posting ttg menu MBG yg dirapel.
Diancam org di telfon, diblg jgn posting2 MBG, nanti hancur krn ulah sendiri.
Dia jawab: berarti saya dibungkam? Harus terima apapun menu & nominalnya?
(1/2)
Media asing lebih jujur soal ini.
Ingat, penduduk Aceh itu ada 5,5 juta orang, dan 506.946 ribu warganya mengungsi akibat banjir.
Lebih besar daripada Tsunami Aceh 2004, di mana 504.518 orang harus mengungsi.
Ini pukulan yang nyata, ayo kita bela dan terus kawal Aceh!
Betapa mirisnya negeri ini, DPR yang hanya bekerja 5 tahun sudah dapat pensiunan seumur hidup, beliau yg sudah mengabdikan diri selama 34 tahun cuma diangkat PPPK paruh waktu, beliau mengabdi di sekolah SMK kab. Bima,
Beliau hanya menikmati status PPPK PW 7 hari dan tgl 29 Desember 2025 dia pensiun.
Gajipun tak seberapa hanya merasakan jd ASN cuma 7 hari, setelah itu selesai tanpa uang pensiun.😢😢
Beliau seharusnya yg lebih pantas dapat pensiun daripada anggota DPR yg bisanya cuma habisin uang rakyat.
Gengs, tolong. Simak ini baik-baik.
Indonesia disebut di sini. Mereka terang-terangan mengatakan bahwa agenda Zionis adalah memasukkan narasi mereka ke buku pelajaran sekolah-sekolah.
Mereka ingin mengubah stance pro-Palestina di Indonesia melalui jalur pendidikan.
Hati-hati, para orang tua, para guru. Lawan!!
@geraldyoo_ Ingetin ke ortu ya? Soalnya terakhir kali pas kumpul keluarga kan pada bahas nikah tuh, dengan kesadaran penuh "ma nanti saya nikah di KUA saja ..."
Kejadian selanjutnya begitu cepat terjadi, cubitan mesra dan omelan" itu seketika meluap, gua bahkan belum titik 😭.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Marah sekaligus sedih, ada videonya Reno keliatan ngos2an dehidrasi & kecapekan tapi msh disuruh jalan. Hewan gabisa bilang dia butuh istirahat, apalagi hewan pekerja yg terlatih kek Reno, manusia trutama handler yg seharusnya bertindak. Ngapain kek gitu. Apalagi ini dogi senior.