Dalam Sesi tanya jawab Sarasehan 100 Ekonom di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/2025) yang dihadiri Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, Rangga Cipta dari Mandiri Sekuritas bertanya tentang risiko pajak mengurangi disposable income, yang bertentangan dengan counter cyclical. Purbaya balik menjawab: "Saya naikin pajak pada waktu tumbuhnya di atas 6%. Anda akan happy juga bayar pajaknya."
https://t.co/JT1zGUAl85
Bagaimana Platform Mendeteksi Usia Tanpa Verifikasi ID?
Saya sangat mendukung @kemkomdigi secara resmi menerbitkan Peraturan Menteri sebagai turunan dari PP Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas), yang menunda akses anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi termasuk media sosial dan layanan jejaring.
Alasannya sudah disampaikan Menkomdigi. Clear. Itu problem besar kita.
Negara lain, spt China, justru jauh lebih ketat dibanding Indonesia dan sudah melakukannya sejak lama. China tidak hanya melarang anak membuat akun medsos, tapi mengatur ekosistem digital anak secara menyeluruh dan berlapis, dari level konten, level platform, hingga level perangkat keras.
China sebenarnya model referensi yang lebih relevan secara geopolitik untuk Indonesia dibanding Australia, keduanya negara non-Barat dengan populasi besar dan konteks digital yang mirip. Yang menarik, Indonesia justru melampaui China dalam satu hal, yakni melarang akun medsos secara eksplisit per platform berdasarkan usia, sesuatu yang belum dilakukan China secara langsung.
Rencananya, implementasi dimulai secara bertahap pada 28 Maret 2026, mencakup YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.
Pertanyaan Besar
Naaah.... yang jadi pertanyaan banyak netizen adalah: bagaimana teknis deteksi usianya? Pake KTP? Belum punya. Pake form tanggal lahir? Mudah dimanipulasi.
TErkait teknis pembatasan, saya pernah bertanya ke perwakilan TikTok Indonesia. Apakah platform sebenarnya bisa mendeteksi usia anak, dari pola akses mereka, misal anak sekolah tidak akses pada jam2 sekolah, konten yang mereka buka, komentar yang mereka tuliskan? Dia bilang, Tiktok bisa tahu dari parameter2 ini.
Bagaimana Platform Mendeteksi Usia?
🔴 TikTok — Paling agresif dalam video scanning
TikTok telah mengonfirmasi bahwa mereka memindai video publik pengguna untuk menginferensi usia. Salah satu sinyal unik yang digunakan adalah dengan memindai komentar di posting ulang tahun ("Happy Birthday") di mana usia pengguna mungkin tersebut.
Sistem TikTok menganalisis profil pengguna, video yang diposting, dan sinyal perilaku untuk memprediksi apakah akun tersebut milik pengguna di bawah umur. Setelah AI menandai akun, moderator manusia mereview akun-akun tersebut sebelum pemblokiran dilakukan — bukan otomatis ban langsung.
Sistem ini mengidentifikasi pola yang mungkin mengindikasikan pengguna lebih muda dari yang diklaim, seperti nada video, sifat interaksi, atau sinyal keterlibatan lainnya.
Untuk verifikasi lanjutan (saat akun diperdebatkan), TikTok bermitra dengan layanan seperti Yoti untuk estimasi usia berbasis biometrik wajah — sistem menganalisis karakteristik wajah untuk memperkirakan usia, tanpa menyimpan foto secara permanen.
🔵 Instagram/Meta — "Adult Classifier" AI paling canggih
Sistem adult classifier Meta menganalisis sinyal perilaku untuk mengkategorikan pengguna sebagai di bawah atau di atas 18 tahun. AI memeriksa profil pengguna, daftar follower, interaksi konten, dan postingan seperti pesan ulang tahun dari teman.
Misalnya, profil yang mengikuti influencer bertema remaja atau berinteraksi dengan konten terkait sekolah dapat memicu pemeriksaan lebih lanjut. Meta juga menandai akun yang dibuat dengan email atau device ID yang sama tetapi dengan tanggal lahir berbeda — ini mencegah remaja lolos dengan membuat akun baru.
Jika teman pengguna memposting sesuatu seperti "Screaming happy 15th birthday to my best friend", tim evaluasi internal Meta akan melabeli pengguna tersebut sebagai remaja.
Instagram juga menggunakan Natural Language Processing (NLP) untuk memindai caption dan pesan terhadap pola bahasa yang khas dari pengguna yang lebih muda.
🔴 YouTube/Google — Berbasis riwayat tontonan
Sistem AI YouTube bergantung pada sinyal seperti jenis video yang dicari dan ditonton pengguna, serta sudah berapa lama akun aktif, untuk menentukan apakah mereka berusia di bawah 18 tahun. Pengguna dewasa yang salah diidentifikasi sebagai remaja harus mengunggah KTP, kartu kredit, atau selfie untuk membuktikan usia mereka.
Google dan YouTube sangat mengandalkan sinyal perilaku yang terkait dengan riwayat tontonan dan aktivitas akun untuk menginferensi usia — baru kemudian meminta KTP atau kartu kredit ketika sistem merasa tidak yakin.
🟣 Facebook/Threads — Lintas platform Meta
Facebook dan Threads menggunakan infrastruktur yang sama dengan Instagram. Instagram menyatakan bahwa mereka mungkin mencoba mencocokkan usia pengguna di Facebook dengan usia yang dinyatakan di Instagram, bersama dengan penggunaan "banyak sinyal lain" yang tidak diungkapkan.
🟡 Roblox — Orientasi pada perilaku anak di bawah umur
Roblox secara khusus fokus pada deteksi perilaku anak. Mereka menganalisis pola chat, jenis game yang dimainkan, dan waktu sesi bermain. Perilaku khas anak (bahasa yang digunakan, pola waktu bermain di jam sekolah/malam) menjadi sinyal utama.
⚪ X (Twitter) & Bigo Live
X saat ini paling lemah dalam deteksi usia berbasis perilaku — lebih mengandalkan laporan komunitas dan verifikasi manual. Bigo Live menggunakan moderasi konten live streaming secara real-time, termasuk deteksi wajah untuk usia.
Keterbatasan Sistem
Sistem-sistem ini gagal dengan cara yang dapat diprediksi.
False positive sangat umum — platform mengidentifikasi orang dewasa dengan wajah muda, orang dewasa yang berbagi perangkat keluarga, atau memiliki penggunaan yang tidak biasa, sebagai remaja.
Sementara false negative juga persisten — remaja dengan cepat belajar cara mengelabui sistem dengan meminjam KTP, berganti akun, atau menggunakan VPN.
Bukan Sekadar Pembatasan, Perlu ada Substitusi
Menurut saya, ini harus dimulai. Pasti ada kekurangan di awal. Yang penting terus disempurnakan sambil belajar dari yang sudah berhasil seperti China.
Poin kunci yang membuat model China berbeda adalah mereka tidak hanya melarang, tapi menyediakan alternatif yang dikurasi secara aktif oleh negara.
Douyin "Youth Mode" — fitur-fiturnya sangat spesifik:
Fitur Youth Mode Douyin antara lain: jeda wajib lima detik antar video untuk mengurangi risiko adiksi, batas 40 menit per hari hanya antara jam 6 pagi sampai 10 malam, dan konten diganti dengan materi edukatif seperti eksperimen sains, pameran museum, dan penjelasan sejarah.
Di sisi konten, mode remaja Douyin melarang berbagai jenis konten ditampilkan, termasuk video prank, "takhayul", dan konten tempat hiburan seperti klub dansa atau karaoke yang memang tidak boleh dimasuki remaja. Setiap akun juga dihubungkan ke identitas asli pengguna, dan teknologi pengenalan wajah digunakan untuk memantau pembuatan konten live streaming.
Bahkan ada aplikasi anak tersendiri.
ByteDance meluncurkan aplikasi khusus anak bernama Xiao Qu Xing ("Little Fun Star") — seperti Douyin tapi hanya berisi konten edukatif, dibatasi 40 menit per hari dengan default 30 menit di hari kerja, dan orang tua bisa menurunkan batas waktu hingga hanya 15 menit per hari.
Kesimpulan
Jadi konfirmasi dari perwakilan TikTok itu akurat dan berdasar — platform memang sudah jauh melampaui sekadar mengandalkan tanggal lahir yang diinput.
Namun tantangan terbesarnya untuk konteks Indonesia adalah sinyal seperti "cross-platform account matching" dan "device ID linking" akan sangat efektif, tapi sinyal berbasis konten (bahasa, NLP) perlu dilatih ulang untuk Bahasa Indonesia dan dialek lokal agar akurasinya setara dengan deployment di pasar Barat.
Harusnya ini ndak jadi masalah, mengingat perkembangan AI yang sudah sangat maju.
Saya yg bodoh tidak berpendidikan jadi dong dan mengerti setelah dapat share dr kawan : hitungan Alumni ITB jur matematik menganalisa kenapa terjadi banjir di Sumatra..👇
🚨 BREAKING: I am the first person in history whose world’s highest IQ of 276 has been scientifically verified in the peer-reviewed journal Testing, Psychometrics, Methodology in Applied Psychology (TPM), verifiable on Google Scholar.
All glory to Jesus Christ!
@WAX_io If I choose NFT now, it's because the use case is clear to me. But I'm not abandoning meme coins for fun. Thank you
@Crypt0monKeys/@bananocoin for bringing us to @WAX_io
#WAXHub is the community heartbeat of the @WAX_io ecosystem 💎
It connects creators, gamers, and builders through #SocialMining — rewarding real contributions like content, engagement, and on-chain activity.
Every task completed, every project supported, every voice amplified, strengthens $WAXP.
Start earning while building the future of Web3 → https://t.co/F61QF4nAru
Selamat Hari Wayang Nasional!🤩🔥
Mari rayakan kekayaan budaya yang sarat akan makna dan tuntunan hidup.😉🩵
Momentum ini mengingatkan kita bahwa kreativitas dalam pewayangan dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi kreatif masa kini.🤩🔥
Bersama kita jaga, terus hidupkan pewayangan Indonesia agar tetap tumbuh dan berdaya saing global! 🌏🩵
#HariWayangNasional #SetahunBerdampak #Ekraf #KreativitasTanpaBatas #NewEngineofGrowth #EkonomiKreatifBangkit
Ketika perubahan pasar berjalan cepat, sebagian masih terjebak dalam pola lama yang tidak lagi relevan dengan perilaku konsumen modern.
https://t.co/VPaMZP5lX4
Halo #CakraMania! 👋🏻
Kurang afdol rasanya jadi mahasiswa UM kalau belum pernah berkunjung ke Museum Pembelajaran UM! 🏛️✨
Kalian bisa menemukan berbagai koleksi menarik seputar sejarah dan perjalanan UM dari masa ke masa, museum ini juga memiliki beragam program edukatif loh!
@WAX_io Don't forget this one, make a mark of success $WINP for every step you take in $SPACE and $TIME .
Yup, we are $UMKM token (Ultimate Mindset Keeps Moving)
Syekh Muhammad al-Ghazali, ulama moderat asal Mesir yang hidup pada abad ke-20 (1917–1996), dikenal dengan semangat pembaharuan yang rasional. Terinspirasi dari Imam Ghazali klasik serta tokoh reformasi seperti Muhammad Abduh dan Rashid Rida, ia menulis "Jaddid Hayatak" pada 1949 untuk menyembuhkan "penyakit batin" umat Islam
https://t.co/oeIqqad2av
https://t.co/CIT1aqMHjW
Konsep "mereset hidup" ala Syekh Muhammad al-Ghazali menawarkan solusi, bukan hanya untuk lansia yang ingin bahagia di usia tua, tapi untuk siapa saja yang merasa hampa atau gelisah. Ini adalah proses memulai lembaran baru, di mana usia muda masih memberi ruang luas untuk bereksplorasi tanpa terjebak overthinking berlebih.
Kepemimpinan yang sejati tidak memerlukan panggung besar. Ia tumbuh secara alami dari ketulusan, seperti pohon yang tumbuh tanpa banyak bicara, namun memberi rindang pada siapa pun yang berteduh di bawahnya.
https://t.co/O8gy7dC7pf