Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
Guys, ada netizen yang cerita pengalamannya habis belanja di Kopdes dan cukup bikin mikir.
Awalnya dia datang dengan ekspektasi bakal dapat harga lebih murah dibanding toko sekitar. Maklum, selama ini narasinya kan Kopdes hadir untuk membantu masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal.
Tapi setelah belanja, menurut dia harganya kurang lebih sama saja, bahkan ada beberapa barang yang bisa ditemukan lebih murah di tempat lain.
Yang bikin dia heran, suasana tokonya sepi banget. Katanya pas masuk langsung disambut beberapa pegawai dan ada aparat TNI yang berjaga yang siap melayani.
Sampai dia bercanda, rasanya lebih ramai jumlah pegawainya daripada jumlah pembelinya.
Terus ada hal lain yang bikin pengalaman belanjanya agak ribet. Banyak rak belum dilengkapi label harga, jadi hampir setiap mau ambil barang harus tanya dulu ke pegawai. Akhirnya bolak-balik nanya harga satu per satu.
Menurut dia juga, barang yang dijual mayoritas produk pabrikan yang biasa ditemukan di minimarket. Barang UMKM lokal yang sering disebut-sebut belum terlihat.
Bahkan Minyakita yang biasanya dicari masyarakat juga tidak tersedia saat dia datang. Variasi barangnya pun menurut dia masih kalah lengkap dibanding warung Madura di dekat rumahnya.
Nah yang jadi pertanyaan besar sebenarnya sederhana. Kalau harga tidak lebih murah, pilihan barang tidak lebih lengkap, dan pengalaman belanja belum lebih praktis, apa alasan masyarakat harus beralih belanja ke sana?
Karena pada akhirnya masyarakat itu sederhana. Mereka nggak peduli nama programnya apa, siapa yang meresmikan, atau berapa besar anggarannya. Yang mereka lihat cuma: lebih murah nggak, lebih lengkap nggak, dan lebih mudah nggak.
Kalau jawabannya belum, ya jangan kaget kalau orang tetap memilih belanja di tempat yang selama ini sudah mereka percaya.
toko tidak hidup karena banyak seremoni atau banyak pegawai. Toko hidup karena ada pembeli yang datang lagi, lagi, dan lagi karena merasa lebih untung belanja di sana.
TXT TAEHYUN menyebutkan dalam media showcase hari ini, bahwa #RM adalah orang yang mereka temui sebelum memutuskan untuk melakukan perpanjangan kontrak.
“Kami mendatangi RM sunbaenim untuk meminta saran karena ini pertama kalinya kami menghadapi perpanjangan kontrak.
Beliau bahkan membuka kembali arsip lamanya untuk berbagi cerita, dan dengan hangat ia berkata, ‘Sudah 7 tahun ya? Kalian sudah sangat bekerja keras.’”
🚨 BREAKING NEWS
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan tewas oleh serangan udara yang dilakukan secara besar besaran oleh militer Iran sebagai aksi balas dendam atas gugurnya pimpinan tertinggi mereka.