Seumur-umur jadi army gak pernah liat bts begini, kalo udah sampe announcement di story akun pribadi mereka sendiri artinya mereka udah capek dan muak banget karena gak dihargain. Tapi aku pribadi seneng dan bangga banget sama keputusan mereka, bener2 definisi keputusan yang tepat. Buat apa coba ngemis ke award yg rasis dan gak ngehargain karya musisi sama sekali 🙂🙂🙏💜
Makanya dari kemarin ngomongin ini terus ke suami. Kayak alesan apa ya yg bikin bangtan mau segitunya luangin waktu mereka yg padet, bahkan maksain bgt disempetin saat lg world tour. Ternyata buat galang dana pendidikan anak-anak. Langsung merinding dan bangga"in terus ke suami🥹
Jadi setiap artis (salah satunya BTS) yang tampil di FIFA World Cup 2026 Final Halftime Show hari ini menyumbangkan waktu dan tenaga mereka untuk satu tujuan yaitu pendidikan anak-anak. Sebanyak US$60 juta berhasil dihimpun untuk FIFA Global Citizen Education Fund guna memastikan anak-anak di seluruh dunia mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak.
Poin utamanya adalah salah bentuk ungkapan rasa terima kasih sekaligus menegaskan bahwa pertunjukan half time tersebut bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga merupakan acara penggalangan dana untuk mendukung pendidikan anak-anak di seluruh dunia.
Ngerti kan ya sekarang kenapa selalu bts this, bts that padahal nyatanya mereka setulus dan sebaik ini dan selalu berusaha kasih yang terbaik. They're truly the kindest people on earth, the world doesn't deserve them💜💗💓
Jadi setiap artis (salah satunya BTS) yang tampil di FIFA World Cup 2026 Final Halftime Show hari ini menyumbangkan waktu dan tenaga mereka untuk satu tujuan yaitu pendidikan anak-anak. Sebanyak US$60 juta berhasil dihimpun untuk FIFA Global Citizen Education Fund guna memastikan anak-anak di seluruh dunia mendapatkan kesempatan pendidikan yang layak.
Poin utamanya adalah salah bentuk ungkapan rasa terima kasih sekaligus menegaskan bahwa pertunjukan half time tersebut bukan hanya sekedar hiburan, tetapi juga merupakan acara penggalangan dana untuk mendukung pendidikan anak-anak di seluruh dunia.
Ngerti kan ya sekarang kenapa selalu bts this, bts that padahal nyatanya mereka setulus dan sebaik ini dan selalu berusaha kasih yang terbaik. They're truly the kindest people on earth, the world doesn't deserve them💜💗💓
Mulai dari hal paling kecil yang bisa Bapak lakukan BESOK PAGI:
Bangun tidur. Lihat sekeliling. SEBELUM istri bangun: ada cucian kotor? Masukin mesin cuci. Ada piring semalam? Cuci. Anak bangun nangis? Gendong DULUAN. Jangan tunggu istri berdiri.
Gak perlu nanya "mau aku bantuin apa?" Karena kalimat itu MASIH menjadikan istri sebagai manajer.
Yang dewasa itu MELIHAT sendiri apa yang perlu dikerjakan, lalu MENGERJAKAN. Tanpa instruksi. Tanpa tepuk tangan. Karena itu RUMAH BAPAK JUGA.
2 tahun lalu, kami udah konsultasi ke pengacara buat cerai. Kemarin, suami gue nangis pas gue peluk di ulang tahun pernikahan ke-8. Bukan karena selingkuh. Bukan karena KDRT. Tapi satu hal sepele yang kami biarkan numpuk bertahun-tahun.
Semua berawal dari rasa capek yang gue simpen sendiri. Kerja full time, sama kayak suami. Tapi begitu pulang, gue lanjut "shift kedua." Masak, beresin rumah, urus anak. Suami pulang, rebahan, main HP. Gue capek fisik dan mental. Tapi keliatannya cuma gue yang capek.
Yang bikin gue makin frustrasi bukan bebannya. Tapi suami gue gak ngerasa itu masalah. "Kan lo emang lebih jago masak." "Kan anak-anak lebih nyaman sama lo." Kalimat itu kedengaran kayak pujian. Tapi sebenarnya cara halus buat lepas tanggung jawab.
Gue gak langsung ngamuk atau minta cerai. Gue diem, dan diemnya itu yang paling berbahaya. Gue mulai jarang cerita hal kecil ke dia. Dia gak sadar, karena buat dia semuanya kelihatan baik-baik aja. Padahal gue udah capek duluan sebelum ngerjain apapun tiap hari.
Titik paling bawah itu waktu gue diem-diem konsultasi ke pengacara. Bukan karena udah yakin mau cerai. Tapi karena gue udah gak tau harus ngapain lagi selain pergi. Untungnya, sebelum gue lanjut, gue cerita dulu ke psikolog keluarga.
Psikolog kasih nama buat yang gue alami: mental load. Bukan cuma soal siapa yang nyapu atau masak. Tapi soal siapa yang harus selalu mikirin dan ngatur semuanya. Vaksin anak. Stok sabun habis. PR anak udah dicek belum. Semua numpuk di kepala satu orang, tanpa pernah dianggap "kerja."
Psikolog jelasin kenapa suami gue gak sadar. Kerja fisik kelihatan. Cuci baju, masak, itu semua visible. Tapi kerja mental, mikirin dan ngatur semuanya, itu invisible. Suami gak ngerasa "kerja" karena gak megang sapu. Padahal gue udah capek duluan sebelum mulai ngerjain apapun.
cc : anitarisoraya
Saya nikah di usia 26th (termasuk telat di mata orang2 desa), pasangan usianya sama kyk aku, kita sepantaran. Awal nikah kami berdua sama2 kerja, gaji kalo digabung sekitar 5-6 juta. Apakah kami ada tabungan? Jawaban tidak, sejak awal nikah kami jg punya tanggungan ke bank. hampir 50% gaji masuk ke cicilan bank. sehari2 kami hidup seadanya, krn masih serumah bareng mertua sedikit banyak masih dibantu untuk sehari-hari. kalo kebutuhan pokok yg besar tetap kami tanggung sendiri. a
Akhirnya hamil, pas usia kehamilan 2 bulan kondisi ga oke bgt, bolak balik ranap krn gejala keguguran. Akhirnya diskusi dan memutuskan kalo aku resign saja demi kebaikan semua.
Otomatis pemasukan hanya tinggal sebelah saja. Kami makin irit2 bgt, tp alhamdulillah semua cukup.
yang bener "menikahlah saat kalian berdua siap berjuang bersama, masa sulit dilewati bersama. jangan saling merasa ""PALING"", krn pada dasarnya menikah itu "SALING".
Dicek cek banayk yg mati listrik nih di jakbar! Burulah segera ditanganin ini meruya utara mati listrik udah sejam. Orang mau pada istirahat Tolong. @pln_123
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah