Ternyata skill kehidupan yang harus dikuasai di usia 20-35 itu adalah skill mengatur suasana hati dan emosi. Jangan apa-apa di baperin. Please don’t expect too much. Orang bisa berubah. besok suka, besok lagi bisa enggak. Semua bisa hilang, semua bisa pergi kapan saja.
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
kenapaaa yahh tidurr tuh ENAK BANGETT?! kayaaa kokkk bisaaa seenakk ituu anjirrr…..kayaa I LOVE TIDURRR…….makasihh yaAllah udah nyiptainn tidurrr di kehidupann yang melelahkann enikhhhhhhhhhhh
warnai rambutmu, jika kamu merasa lebih baik dengan semua itu.
ambil segelas kopi pahit, jika lambungmu masih kuat.
pergi jalan-jalan sendirian dan menangis di kendaraan, jika itu membuat melegakan.
memaki di tempat sepi, tumpahkan air mata di kamar mandi, jika itu membuatmu merasa punya harapan lagi.
dengar lagu yang kamu suka, bayar waktu yang kamu bisa, hidup yang sekali ini rayakan dengan hal-hal kecil yang kamu miliki.
Cuti tahunan 12 hari, tapi tiap minta cuti pasti ditanya “ada urusan penting?” atau dipersulit.
Cuti itu hak pekerja ya. Jangan seenaknya larang kami dong. Task sebelumnya kan udah aman juga.
Sekarang aku jadi benar-benar mengerti. Kenapa banyak orang yang hidup dengan penyakit mental, entah itu anxiety, bipolar, depresi, skizofrenia, atau bentuk lainnya lebih sering memilih untuk diam, menyimpannya rapat-rapat, bahkan pura-pura baik-baik saja di hadapan orang lain. Bukan karena mereka kuat, bukan juga karena mereka tidak ingin ditolong, tapi lebih karena mereka sudah terlalu sering dikecewakan oleh respon orang-orang di sekitar.