KALAU PENYAKIT BISA BICARA MEREKA AKAN "TERIAKK"
1. TUMOR
“Aku tumbuh pelan-pelan karena kamu terlalu lama menahan.
Marah kamu simpan, sedih kamu tutup,
Kecemasan kamu pendam.
Yang tidak keluar... akhirnya mencari jalan sendiri.”
2. AUTOIMUN
“Aku muncul saat kamu terus melawan dirimu sendiri.
Di luar kamu bilang ‘aku kuat’, padahal di dalam kamu lelah.
Tubuhmu ikut bingung,
karena kamu tak pernah jujur pada rasa.”
3. KANKER
“Aku besar dari luka yang kamu kunci rapat.
Maaf yang tak pernah terucap.
Tangis yang tak pernah tumpah.
Sakit hati yang tak pernah sembuh.”
4. STRES KRONIS
“Aku bukan cuma di pikiran.
Aku masuk ke tidurmu, ke makananmu, ke napasmu.
Kamu bilang ‘aku baik-baik saja’,
padahal tubuhmu berteriak minta istirahat.”
5. INSOMNIA
“Aku datang karena kepalamu tak pernah benar-benar berhenti.
Kamu rebah, tapi pikiranmu masih berlari.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar tenang?”
6. SAKIT MAAG / LAMBUNG
“Aku perih karena kamu terlalu sering ‘menelan’ keadaan.
Tidak enak hati.
Tidak enak menolak.
Tidak enak berkata jujur.”
Cukup...
Tubuh bukan musuh.
Ia hanya alarm.
Belajar dengarkan sebelum ia teriak lebih keras.
Dosenku fakultas pendidikan, sudah cukup berumur. 20 tahun dia ngajar,
Suatu hari, kita ngobrol santai, aku bilang: "pak, besok anak aku mau tak daftarin les matematika, les bahasa Inggris, sama les piano. Biar nggak ketinggalan."
dia diam sebentar.
"Umurnya berapa?"
"belum ada 1 tahun, besok pas 6 tahun."
Dia geleng-geleng. Pelan. Bukan mengejek. Tapi khawatir.
pak faiz tadi ditanya audiens: “apa kalimat yang tepat, yang pengin didengerin orang2 yang lagi berduka?”
dijawab: “gak ada. gak perlu. mereka gak butuh itu. diam saja. kalau mau membantunya, pastikan aja kalau kamu selalu ada.”
@CommuterLine Halo, pagi min,
Saya ada tas jinjing yang tertinggal di kereta berangkat dari Bekasi ke Angke. Kira-kira apakah tersimpan oleh tim Commuterline di Stasiun Angke?
Men to men.
Kita harus sepakat kalau perempuan manusia terkuat di dunia 🤝
Kenapa?
Karena banyak hal yang mereka jalani… kita bahkan belum tentu sanggup:
- Nyeri haid tiap bulan
- Hamil 9 bulan
- Melahirkan, dengan risiko nyawa
- Menyusui (kurang tidur, puting lecet itu real)
- Menghadapi baby blues / postpartum depression
- Mikirin tumbuh kembang anak tiap hari
- Menjaga rumah tetap jadi tempat paling aman
Dan seringnya… semua itu dijalani sambil tetap kerja, bantu ekonomi keluarga. 🥹
Kita ? Kadang cuma diminta “lebih peka” aja masih susah.
Jadi kalau hari ini masih ada perempuan yang bertahan di hidup kita: ibu, istri, pasangan.
jangan cuma disayang, dihargai, didengar, dibantu.
Karena mereka kuat, bukan berarti harus selalu dipaksa kuat.
Ada yang mau nambahin?
Gerbong perempuan di belakang itu bukan policy failure. You know what is?
Negara gagal mendidik laki-laki to not be a huge misogynistic perverted piece of shit is a policy failure,
Negara ga menyelesaikan proyek double track disaat KAI punya Argo Bromo yang merupakan salah satu kereta jarak jauh tercepat mereka is a policy failure,
KAI sebagai pemilik rel kalah sama preman yang menolak adanya rambu/penghalang resmi is a policy failure,
Preman dibiarkan dan dipelihara oleh negara untuk jadi attack dog mereka terhadap kelompok oposisi / kalangan politik/agama tertentu is a policy failure,
Perusahaan taksi punya policy yang ga manusiawi kepada driver mereka, ga ngelatih dengan baik, dan mengancam denda kalau diderek bukan oleh derek perushaan is a policy failure,
Tata kota dan pengembangan kota satelit Jakarta yang tidak beorientasi pada transit is a policy failure.
Kenapa gue sangat fokus ke insiden ini? Karena gue ngerasa begitu dekat dengan aktivitas terakhir para korban.
Berangkat kerja naik KRL, pulang juga naik KRL, menjalani rutinitas yang berulang, nunggu kereta dateng, desek-desekkan di peron dan kereta, dan berdiri di antara banyak orang dengan pikiran yang sama, yaitu ingin pulang, ingin sampai rumah, ingin bertemu keluarga tercinta.
Mungkin banyak dari kita menganggap perjalanan itu hanyalah bagian biasa dari kehidupan. Tapi tragedi ini mengingatkan, bahwa di balik setiap langkah menuju tempat kerja dan setiap perjalanan pulang, ada doa, ada harapan, ada orang-orang di rumah yang menanti dengan penuh cinta.
Rasanya begitu menyesakkan membayangkan, mereka yang pagi tadi berpamitan seperti biasa, ternyata tak semua bisa kembali seperti yang direncanakan. Dan dari situlah hati gue ikut berkecamuk, karena kisah mereka adalah kisah yang sangat mungkin juga kita jalani setiap harinya.
Semangat selalu, Para Pejuang 🤍
Ada sisi sepikirannya🙏 ngerasa kalo pekerjaan tim KAI berat. Kaya, yaudalahhh gituuu. optimis mereka udah berusaha semaksimal mereka dan optimis bakal evaluasi untuk peningkatan abis insiden ini.
@alsjournall Yg kek gini gabisa diliat pake what if what if mata “awam” aja. Ini human touch masinis yg luar biasa, dlm kurang dr 10 menit bisa “mengurangi” impact menjadi 1 gerbong, bayangkan kalau dia di top speed 120 km dan direct impact ke krl. Cant imagine how many lives at stake.
Guys, Onad baru muncul lagi di podcast bareng Habib dan obrolannya jauh lebih dalam dari yang gue kira.
Bukan soal kasus.
Bukan soal drama.
Tapi soal apa yang berubah setelah seseorang melewati titik paling gelap dalam hidupnya.
Yang paling berubah dari Onad sekarang:
Dulu kalau pulang kerja ketemu anak biasa aja.
Tidak ada perasaan spesial.
Tidak ada kehadiran yang nyata.
Perasaan gua beku.
Misalnya kita kerja, pulang, ketemu anak gua biasa aja.
Sekarang?
Dia yang pertama.
Sebelum kerjaan.
Sebelum konten.
Sebelum apapun.
ini dulu.
Baru kerjaan.
Baru yang aneh-aneh.
Dan ini bukan kalimat motivasi yang dia hafal dari buku. Ini hasil dari kehilangan dan kemudian menemukan kembali apa yang sebenarnya penting.
Soal liburan tanpa handphone:
Onad ke Bali.
Dua minggu.
Tanpa handphone.
Bukan karena disuruh.
Tapi karena istrinya pernah bilang sesuatu yang menohok:
Setiap liburan, otak lu tidak di sini.
Tubuh lu doang yang ada.
Dan itu kata Onad lebih menyakitkan dari yang kelihatan.
Karena selama bertahun-tahun dia pikir sudah memberikan yang terbaik.
Sudah kerja keras.
Sudah kasih materi.
Ternyata yang dibutuhkan keluarganya bukan itu.
Money cannot buy happiness tapi versi yang lebih jujur:
Semua orang tahu kalimat itu.
Tapi tidak semua orang benar-benar merasakannya.
Onad merasakannya dengan cara yang mahal.
Dulu di otak gua:
keluarga? Entarlah.
Yang penting gua kasih duit.
Ternyata yang dibutuhkan itu waktu luang gua.
Dan Habib menambahkan dari perspektif Islam bahwa di antara nikmat yang melebihi harta adalah waktu luang.
Bukan sebagai klise religius
Tapi sebagai sesuatu yang benar-benar terbukti dalam realita.
Dan ini yang paling gue ingat dari seluruh obrolan ini:
Onad bercerita bahwa beberapa bulan sebelum kasusnya terungkap Habib sudah meneleponnya. Sudah ngobrol soal pentingnya ke psikolog.
Bahkan sudah kasih nama dan nomor psikolog yang spesialisasinya menangani masalah penyalahgunaan obat.
Onad tidak sempat menghubungi.
Gua sedih.
Gua kasih nomornya.
Tapi ketimpa kayak gitu.
Dan inilah yang paling penting untuk dipahami soal kesehatan mental dan proses pemulihan:
Support system yang ada — tidak cukup kalau orang yang butuh bantuan belum siap menerimanya.
Habib sudah ada. Psikolog sudah direkomendasikan. Tapi kalau seseorang belum sampai di titik di mana dia mengakui bahwa dia butuh bantuan — semua itu tidak akan terpakai.
Kenapa rehab saja tidak cukup:
Onad bisa cerita dengan sangat jelas tentang ini — karena dia merasakannya sendiri.
Rehab itu proses. Tapi proses itu hanya bekerja kalau ada perubahan yang terjadi di dalam — bukan hanya di luar.
"Jangan pikir kalau lu sudah melewati bencana itu maka lu sudah selesai. Bencana terbesar yang lebih besar dari bencana itu sendiri adalah orang yang melewati bencana tapi tidak mengambil pelajaran."
Dan perubahan terbesar yang Onad lakukan bukan soal jauhi lingkungan tertentu. Bukan soal ganti teman. Tapi soal satu hal yang jauh lebih fundamental:
Dia tahu sekarang siapa dia dan apa yang benar-benar dia tanggung jawabkan.
"Lu tuh siapa? Lu di mana? Lu tuh tanggung jawab lu gede loh. Banyak yang sedih kalau lu sedih."
Kesadaran itu bukan program rehab manapun yang bisa menanamkannya. Hanya pengalaman yang paling menyakitkan yang bisa.
Quote yang paling gue simpan:
Habib pernah bilang ini ke orang-orang yang sedang di titik paling gelap dan Onad mengkonfirmasi ini benar dari pengalamannya sendiri:
"Kalau lu tidak bisa lewati itu hari demi hari — paling tidak lewati jam demi jam. Kalau tidak bisa jam demi jam menit demi menit. Kalau tidak bisa menit demi menit nafas demi nafas."
Bukan untuk sembuh. Tapi untuk bertahan dulu. Agar tidak melakukan hal-hal yang tidak bisa dibalik.
Dan Onad sekarang:
Antar sekolah dua kali seminggu. Hadir waktu anaknya pulang. Nanya hari ini ngapain di sekolah. Liburan tanpa handphone. Bayar utang waktu ke keluarga.
Itu bukan transformasi dramatis yang kelihatan di headline. Tapi itu yang paling susah dilakukan dan paling berarti.
Gua pengin bayar utang gua ke keluarga.
Minimal setahun gua pengin abiskan waktu buat mereka.
Dan ini yang relate untuk siapapun bukan hanya yang pernah melewati hal yang sama dengan Onad:
Kita semua punya versi dari prioritas yang salah urutan. Kita semua punya versi dari hadir secara fisik tapi tidak hadir secara nyata.
Bedanya tidak semua orang butuh krisis sebesar itu untuk sadar.
Guys gw mau cerita tentang sesuatu yang jarang dibahas secara serius.
BJ Habibie menjabat presiden cuma 17 bulan.
Dan banyak orang mengenang dia cuma sebagai ilmuwan pesawat terbang yang romantis sama Ainun.
Padahal dia melakukan sesuatu yang secara ekonomi hampir tidak masuk akal.
Waktu Habibie naik jadi presiden Mei 1998 kondisi Indonesia sudah dalam kondisi kritis total.
Rupiah di angka Rp16.800 per dolar.
Seperempat rakyat Indonesia di bawah garis kemiskinan.
Bank-bank kolaps.
Orang antri panjang untuk tarik uang karena takut banknya tutup besok.
Perusahaan-perusahaan bangkrut karena utang dolarnya tiba-tiba membengkak seiring rupiah jatuh.
Dan dunia internasional tidak percaya sama Indonesia sama sekali.
Dalam 17 bulan Habibie balik rupiah dari Rp16.800 ke Rp7.000-an.
Hampir setengahnya.
Dalam waktu kurang dari dua tahun.
Gimana caranya?
Pertama dia beresin perbankan duluan.
Karena dia paham tidak ada kepercayaan ekonomi yang bisa dibangun kalau sistemnya sakit.
Bank-bank yang masih bisa diselamatkan direstrukturisasi.
Yang sudah terlalu parah ditutup.
Dan dari proses ini lahir Bank Mandiri gabungan empat bank pemerintah bermasalah yang sekarang jadi salah satu bank terbesar Indonesia.
BCA juga diselamatkan di era ini sebelum akhirnya dibeli konsorsium yang di dalamnya ada Grup Djarum.
Kedua dia pisahkan Bank Indonesia dari pemerintah. Ini krusial.
Karena selama BI masih bisa disetir presiden investor asing tidak akan percaya bahwa kebijakan moneter Indonesia itu serius dan independen.
Habibie undangkan itu tahun 1999.
Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia bank sentral benar-benar independen secara hukum.
Ketiga dia negosiasi dengan IMF dan dapat pinjaman 43 miliar dolar.
Tapi yang menarik dia tidak sepenuhnya nurut sama IMF.
IMF minta subsidi BBM dan listrik dicabut. Habibie menolak tegas.
Alasannya sederhana di tengah krisis yang sudah sepedas ini, kalau subsidi dicabut sekarang yang hancur adalah daya beli rakyat paling bawah. Dan tanpa daya beli ekonomi tidak akan pulih dari akar rumput.
Itu keputusan yang butuh nyali. Karena menolak syarat IMF waktu itu bukan hal yang gampang secara politik.
Keempat dia stabilkan politik.
Karena investor asing tidak akan masuk ke negara yang kondisi politiknya kacau. Habibie bebasan pers. Izinkan pemilu 1999. Lahirkan undang-undang partai politik yang mengakhiri monopoli Golkar selama 32 tahun.
Dan kelima dia selamatkan sektor swasta strategis. Astra hampir kolaps waktu itu karena beban utang dolar yang membengkak. Sinar Mas juga sama. Habibie intervensi lewat BPPN dan program restrukturisasi utang. Perusahaan-perusahaan itu berhasil diselamatkan dan sekarang masih jadi pemain besar di ekonomi Indonesia.
Dan utang IMF yang dia ambil itu lunas lebih cepat dari jadwal. Dilunasi di era SBY tahun 2006.
Gw cerita ini bukan untuk nostalgia.
Tapi karena sekarang rupiah lagi di Rp17.000-an. Defisit APBN hampir jebol. Harga minyak naik karena perang Iran. Dan banyak orang bingung mau pegang apa.
Habibie membuktikan bahwa kondisi yang kelihatannya tidak mungkin diperbaiki bisa diperbaiki. Tapi dengan syarat keputusannya diambil berdasarkan data dan logika. Bukan gengsi. Bukan pencitraan. Bukan ketakutan dikritik.
Dan yang paling penting dia tahu mana yang harus diselesaikan duluan sebelum yang lain.
@SeekHustle Sekalian searah sma sunnah karena istilah yg disebut adalah "ketika melihat hilal" dan saat itu blm ada hitungan kalender Islam, pure melihat ya bener2 melihat.
Furthermore, bulan kita itu tiap taun memjauhi bumi bbrpa meter, jd kalibrasi kontinyu itu semakin lebih diperlukan.
@SeekHustle Gw komen sbg anak astro aja ya capt.
Semua gerak benda langit itu pertama2 diamati oleh mata..baru org bkin persamaan utk memprediksi dan menghitung.
Di dlm hitungan itu ada ketidak-akuratan dan butuh koreksi, sma kaya sehari dimana sbnernya adalah 23h56' ga pas 24jm, jadi --
@SeekHustle Gw komen sbg anak astro aja ya capt.
Semua gerak benda langit itu pertama2 diamati oleh mata..baru org bkin persamaan utk memprediksi dan menghitung.
Di dlm hitungan itu ada ketidak-akuratan dan butuh koreksi, sma kaya sehari dimana sbnernya adalah 23h56' ga pas 24jm, jadi --
Kata habib jafar : “yang ga sampai di kita, Jangan di cari tau. Yang sampai dari mulut orang lain, jangan dipercaya. Yang sampai dari mulut orangnya langsung, dimaafkan”
Mohon maaf lahir batin ya semua 🙏🏻