Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
Jahat banget cok!! 😠
Kalau semua yg diomongin nadiem ini bener, dahlah hopeless banget sama penegak hukum di negara kita capt. Antara inkompeten atau emang ada niat jahat.
Kenapa gue bilang gitu? Coba lo tonton video ini sampe kelar. Lo bakal merasa apa yg disampaikan nadiem itu semua logis dan seluruh tuntutan jaksa jadi ga berdasar.
Lo inget ga suami dewi Sandra, Harvey Moeis? Berapa potensi kerugian negaranya? Berapa tahun dia dituntut jaksa? Berapa banyak denda yg harus dia bayar??
Jauh banget dari tuntutan ini capt!
At least, Gue gatau nadiem ini kesalahannya seberapa besar, tapi dengan tuntutan setidak masuk akal itu gue rasa ini sangat ga adil.
Semoga ada keadilan di negeri tercinta kita ini.
Buat yg suka mendem emosi/perasaan secara kronis, alias berlama2 mendem, ga diungkapin, dst, punya risiko kematian dini yg lebih tinggi dibandingin yg mampu nyalurin emosinya dg baik 🥺
Kamu tipe yg suka mendem atau nggak? Klo iya? Pls baca utas iniiii 🥺🥺🥺
Guys, ada pertanyaan yang menurut gue jarang banget ditanyakan padahal jawabannya mengubah cara lo melihat segalanya.
Kenapa sekolah dimulai jam 7 pagi?
Kenapa ada bel tanda masuk dan bel tanda pulang?
Kenapa kita duduk berbaris di kelas?
Kenapa ada ujian, nilai, rapor, peringkat?
Jawabannya bukan karena itu cara terbaik untuk belajar.
Tapi karena itu adalah cara terbaik untuk mencetak pekerja pabrik.
Dan semua itu dimulai dari satu orang lebih dari seratus tahun yang lalu.
John D. Rockefeller dan ini yang jarang diceritakan:
Semua orang tahu Rockefeller sebagai orang terkaya dalam sejarah Amerika.
Raja minyak.
Pendiri Standard Oil.
Tapi warisan terbesarnya bukan kilang minyak.
Warisan terbesarnya adalah cara berpikir jutaan manusia di seluruh dunia termasuk kita di Indonesia.
Di awal abad ke-20 Amerika sedang dalam ledakan industrialisasi besar.
Pabrik-pabrik butuh tenaga kerja massal.
Jutaan orang yang bisa:
Datang tepat waktu.
Patuh pada perintah.
Tidak banyak bertanya.
Mengerjakan tugas yang sama berulang-ulang setiap hari.
Masalahnya manusia pada masa itu terlalu bebas.
Sekolah masih beragam dan lokal.
Anak-anak belajar berpikir, berdiskusi, berimajinasi. Hal yang indah tapi tidak efisien untuk mesin industri.
Rockefeller melihat celah itu.
Dan dia punya solusi.
The Rockefeller Foundation dan General Education Board:
Rockefeller mendirikan yayasan pendidikan. Menggandeng Frederick Taylor pelopor "scientific management" yang percaya manusia bisa dikelola seperti mesin dan Andrew Carnegie taipan baja untuk mendanai General Education Board tahun 1903.
Lembaga ini merancang ulang sistem pendidikan Amerika dari nol.
Kurikulum dibuat seragam.
Jam pelajaran diatur seperti jadwal pabrik.
Bel masuk, bel istirahat, bel pulang persis seperti sirene pabrik.
Guru tidak lagi berperan sebagai mentor yang menginspirasi tapi sebagai mandor yang mengawasi produktivitas.
Dan Rockefeller pernah berkata sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
Saya tidak ingin bangsa pemikir.
Saya ingin bangsa pekerja.
Apa yang dihilangkan dari kurikulum dan ini yang paling penting:
Pelajaran filsafat dikurangi. Seni dipinggirkan.
Sejarah kritis dihilangkan.
Digantikan dengan pelajaran yang "berguna untuk dunia kerja" aritmatika dasar, teknik administrasi, prosedur kerja.
Anak-anak diajarkan berhitung dan mengikuti prosedur.
Tapi tidak diajarkan untuk bertanya mengapa prosedur itu ada.
Setiap kesalahan dihukum.
Setiap perbedaan ditekan.
Kreativitas tidak diukur yang diukur adalah kepatuhan.
Dan hasilnya?
Generasi yang cerdas secara akademis tapi takut berpikir di luar garis.
Bagaimana ini sampai ke Indonesia:
Setelah berhasil di Amerika model ini menyebar ke seluruh dunia lewat lembaga internasional dan program pendidikan global.
Eropa mengadopsinya. Jepang mengadopsinya. Dan Hindia Belanda yang sudah punya tradisi sekolah kolonial untuk mencetak pegawai administrasi mengadopsinya dengan sangat mudah.
Ketika Indonesia merdeka kita mengganti benderanya. Tapi tidak mengganti mesinnya.
Holland Ensis School menjadi Sekolah Dasar. Government Middlebor School menjadi SMA. Tapi semangatnya sama: taat pada sistem, hafal teks, patuh pada nilai.
Pelajaran agama diajarkan seperti hukum bukan seperti perjalanan mencari makna. Pelajaran sejarah disusun seperti naskah nama-nama besar tanpa ruang untuk menimbang versi lain. Pelajaran kewarganegaraan membentuk pola pikir tunggal bahwa kebenaran datang dari atas.
Dan di atas semua itu ada ketakutan untuk salah. Ketakutan yang dibangun lewat ujian, nilai, dan peringkat.
Pola yang lo lihat setiap hari dan sekarang lo tidak bisa berhenti melihatnya:
Bel berbunyi seperti sirene pabrik. Siswa duduk berbaris seperti lini produksi. Guru memeriksa hasil kerja seperti mandor memeriksa laporan harian.
Anak yang menghafal rumus dipuji. Anak yang bertanya kenapa rumus ini harus begini dianggap mengganggu.
Kita belajar bukan untuk memahami tapi untuk tidak disalahkan.
Dan ketika lulus kita pikir semuanya berubah. Ternyata tidak. Dunia kerja hanyalah lanjutan dari ruang kelas. Tidak ada guru yang ada atasan. Tidak ada nilai rapor yang ada evaluasi kinerja. Tidak ada hukuman fisik yang ada rasa takut kehilangan pekerjaan.
Segalanya berjalan dengan logika yang sama: patuh, cepat, efisien.
Lembur dianggap bukti loyalitas. Kelelahan dianggap prestasi. Berpikir kritis dianggap ancaman terhadap budaya perusahaan.
Dan sekarang mesinnya sudah bertransformasi ke dunia digital:
Media sosial adalah ruang kelas baru. Algoritma adalah guru baru. Jumlah followers adalah rapor baru.
Kita bangun pagi, buka HP, dan mulai membandingkan diri dengan orang lain. Tanpa sadar kita sedang ikut ujian yang tidak pernah berakhir.
Dan seperti di sekolah dulu tujuannya bukan untuk memahami. Tapi untuk tidak kalah.
Tapi ini yang perlu dipahami dengan jujur:
Narasi ini punya nilai tapi juga punya batas yang perlu diakui.
Rockefeller memang berpengaruh besar dalam membentuk sistem pendidikan Amerika awal abad 20. Dan kritik bahwa sistem pendidikan terlalu fokus pada kepatuhan dan hafalan daripada berpikir kritis itu adalah kritik yang valid dan didukung banyak peneliti pendidikan modern.
Tapi tidak semua aspek sistem sekolah lahir dari konspirasi industri.
Ada juga komponen yang murni berasal dari perkembangan pedagogi, kebutuhan sosial, dan konteks budaya masing-masing negara.
Yang paling penting untuk diambil dari narasi ini bukan menolak pendidikan formal sepenuhnya. Tapi mempertanyakan bagian mana dari sistem yang membentuk pemikir merdeka dan bagian mana yang hanya membentuk kepatuhan.
Dan di Indonesia pertanyaan itu sangat relevan:
Kita punya salah satu sistem ujian nasional yang paling berorientasi hafalan di Asia. Anggaran pendidikan 20% dari APBN tapi kualitas pembelajaran masih sangat jauh dari ideal. Guru dihormati karena tegas bukan karena inspiratif. Nilai tinggi lebih dihargai dari rasa ingin tahu.
Dan yang paling ironi guru honorer yang setiap hari menjalankan sistem ini mendapat gaji Rp300.000-500.000 per bulan. Sementara BGN menganggarkan Rp1,2 miliar untuk "Jasa Pengelolaan Opini Publik."
Sistem yang merendahkan orang yang menjalankannya itu bukan sistem pendidikan.
Itu adalah sistem eksploitasi yang dikemas dalam bahasa mulia.
Apa yang bisa dilakukan:
Satu — mulai bertanya mengapa bukan hanya apa dan bagaimana. Itu adalah perubahan paling mendasar yang bisa dilakukan setiap individu.
Dua — baca lebih banyak dari satu sumber. Sistem yang Rockefeller bangun sangat bergantung pada monokultur informasi. Internet sudah meruntuhkan itu — tapi hanya kalau lo aktif menggunakannya untuk belajar, bukan hanya untuk scrolling.
Tiga — jangan samakan nilai akademis dengan kecerdasan. Dan jangan samakan gelar dengan kemampuan berpikir. Dua hal ini berbeda secara fundamental.
Empat — desak reformasi kurikulum yang nyata. Indonesia sudah punya Kurikulum Merdeka yang di atas kertas lebih baik dari sebelumnya tapi implementasinya masih sangat bergantung pada kemampuan guru yang sayangnya masih belum didukung oleh kesejahteraan yang layak.
Sistem sekolah yang kita jalani setiap hari bukan sistem yang netral. Ia lahir dari keputusan yang dibuat oleh orang-orang tertentu dengan kepentingan tertentu lebih dari seabad lalu.
Bukan berarti kita harus membuang semua yang ada. Tapi kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sistem ini masih relevan untuk dunia yang berubah secepat sekarang? Apakah sistem ini mencetak manusia yang bisa berpikir atau hanya manusia yang bisa mematuhi?
Dan yang paling penting: apakah kita mau terus menjalankan sistem yang kita sendiri tidak pernah mempertanyakan asal-usulnya?
"Saya tidak ingin bangsa pemikir. Saya ingin bangsa pekerja."
John D. Rockefeller
Pertanyaannya adalah: apakah kita mau terus menjadi apa yang dia inginkan?
Hati2 guys. Penipuan berkedok love scamming, yang sekarang lagi marak.
Pelaku datang dengan kata manis, perhatian tanpa henti, dan janji hubungan serius.Namun di balik itu semua, tujuan mereka bukan cinta tapi keuntungan pribadi.
Biasanya mereka memakai identitas palsu, foto meyakinkan, serta cerita hidup yang dibuat sempurna agar korban percaya.Saat kedekatan mulai terbangun, alasan demi alasan pun muncul. Mulai dari keluarga sakit, kecelakaan, biaya perjalanan, hingga hadiah yang katanya tertahan.
Semua diarahkan pada satu hal yaitu meminta uang. Ketika korban mulai ragu, pelaku tak jarang berubah. Informasi pribadi yang sudah didapat bisa dipakai untuk mengancam, menekan, atau mempermalukan korban
Love scamming bukan sekadar penipuan biasa. Korban bisa kehilangan uang, data pribadi, bahkan mengalami tekanan emosional yang mendalam.
Bahkan dalam beberapa kasus, modus ini juga mengarah kepada tindak pidana perdagangan orang.
ig : kanimjaksel
VIRAL BERULANG: SUDAH BAYAR RATUSAN JUTA, BAHKAN MILIARAN?TAPI TETAP GAGAL JADI POLISI/TNI
Ini bukan satu kasus. Ini pola. Dan terus terjadi di Indonesia.
📍 Pekalongan, 2025
Seorang orang tua rela menggelontorkan Rp2,6 miliar demi meloloskan anaknya ke Akpol.
Janji manis: “pasti lolos.”
Fakta pahit: gugur di tes kesehatan.
Uang hilang. Masa depan hancur.
📍 Makassar, 2025
Empat oknum polisi menerima sekitar Rp1 miliar dengan iming-iming kursi Akpol.
Korban berharap masa depan cerah.
Hasilnya? Tidak lulus. Kasus masuk pengadilan.
📍 Sumatera Utara, 2024
Seorang calon menyerahkan Rp1,3 miliar kepada oknum yang mengaku punya koneksi kuat.
Janji: lolos tanpa hambatan.
Realita: gagal total. Pelaku jadi buronan.
📍 Jawa Tengah, 2022–2023
Bahkan di dalam sistem—oknum panitia rekrutmen sendiri terjaring OTT.
Artinya?
Bukan hanya penipuan dari luar.
Penyakitnya ada di dalam.
📍 Sulawesi Selatan, 2025 (Kasus TNI)
Seorang calon prajurit membayar sekitar Rp783 juta kepada oknum anggota.
Dijanjikan: “aman, pasti masuk.”
Yang terjadi: gagal.
Uang lenyap. Pelaku dipecat dan dipenjara.
🔎 POLANYA SAMA: • Janji “orang dalam”
• Nominal fantastis
• Harapan tinggi
• Ending: gagal + tertipu
Tidak ada jaminan. Yang ada hanya risiko kehilangan segalanya.
⚠️ FAKTA "RESMI" : Masuk Polri dan TNI itu GRATIS.
Jika ada yang meminta uang, itu bukan jalur resmi—itu jebakan eh jalan pintas? 🫢
🕌 DALIL AGAMA: Dalam Islam, sogok (risywah) adalah haram.
Rasulullah bersabda:
“Allah melaknat penyuap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi)
📌 Artinya jelas: Menyogok untuk masuk kerja—termasuk jadi polisi atau TNI—bukan hanya melanggar hukum negara,
tapi juga dosa besar dalam agama. Seumur hidupnya (selama bekerja dari hasil menyogok) dia akan menanggung dosa terus. Maukah menafkahi keluarga dengan hasil yang haram?
Jangan tukar masa depan dengan kebohongan.
Jangan bayar untuk sesuatu yang seharusnya diraih dengan kemampuan.
Karena pada akhirnya,
yang curang mungkin berharap lolos—
tapi yang hilang bukan cuma uang…
melainkan harga diri dan amalan kita hancur tak bisa untuk bekal hadapi kehidupan sesudah kematian.
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Guys, ada berita dari Malang yang menurut gue salah satu contoh paling telanjang dari dinasti politik di level pemerintah daerah.
Dan yang bikin gue tidak habis pikir bukan hanya perbuatannya.
Tapi apa yang diucapkan bersamaan dengan perbuatan itu.
Yang terjadi:
Bupati Malang M. Sanusi melantik 447 pejabat di lingkungan Pemkab Malang pada 13 April 2026.
Salah satu yang dilantik:
Ahmad Dzulfikar Nurrahman putra kandung Bupati Sanusi sendirisebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup.
Ini bukan posisi staf.
Ini Kepala Dinas. Eselon II.
Pejabat pimpinan tinggi pratama.
Dan ini yang membuat gue berhenti:
Di acara pelantikan yang sama di hadapan 447 pejabat yang baru dilantik Bupati Sanusi berkata:
Jual beli jabatan tidak ada.
Yang dilantik tidak dimintai uang.
Kalau ada yang bayar, bilang saya.
Kita harus hentikan semua ini.
Pakta integritas ini tidak boleh dilanggar.
Larangan menerima atau memberi hadiah atau gratifikasi dalam bentuk apapun."
ini adalah komitmen untuk menjalankan sistem manajemen kepegawaian dalam tata kelola pemerintahan yang baik.
Semua kalimat itu diucapkan di hari yang sama setelah melantik anaknya sendiri sebagai kepala dinas.
Ini bukan soal apakah Dzulfikar kompeten atau tidak:
Gue tidak tahu rekam jejak Dzulfikar.
Mungkin dia qualified.
Mungkin dia memang terbaik di antara kandidat yang ada.
Tapi itulah masalahnya kita tidak tahu karena prosesnya tidak transparan kepada publik.
Dalam sistem merit yang sehat yang diatur dalam UU ASN pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama harus melalui seleksi terbuka.
Ada panitia seleksi independen.
Ada penilaian kompetensi.
Ada pengumuman hasil yang bisa diaudit.
Apakah semua itu terjadi sebelum putra Bupati menduduki kursi Kepala DLH?
Tidak ada penjelasan publik yang memadai soal ini.
Yang paling ironis dari seluruh kejadian ini:
Sanusi bilang tidak ada jual beli jabatan dan itu mungkin benar secara harfiah. Anaknya mungkin tidak membayar sepeser pun.
Tapi ada bentuk lain dari transaksi jabatan yang tidak melibatkan uang: n
ama keluarga.
Ketika seorang bupati melantik anaknya sendiri sebagai kepala dinas tidak perlu ada uang yang berpindah tangan.
Jabatan sudah dibeli dengan privilege yang jauh lebih mahal dari uang dengan akses ke orang yang paling berkuasa di daerah itu.
Dan tidak ada pasal dalam pakta integritas yang melarang itu karena tidak ada yang mau menuliskannya.
Ini bukan kasus pertama dan tidak akan jadi yang terakhir:
Mahfud MD sudah pernah menyebut dalam podcast-nya:
dinasti politik adalah salah satu problem struktural demokrasi Indonesia yang paling sulit diberantas.
Bukan karena tidak ada aturannya.
Tapi karena orang yang melanggar aturan itulah yang punya kuasa untuk menegakkan aturan itu.
Siapa yang akan periksa apakah seleksi Dzulfikar sudah memenuhi standar merit?
KASN Komisi Aparatur Sipil Negara.
Yang laporan dan rekomendasinya sering diabaikan kepala daerah tanpa konsekuensi berarti.
Dan satu pertanyaan yang perlu dijawab Bupati Sanusi secara publik:
Berapa kandidat yang ikut seleksi untuk posisi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang? Apa hasil penilaian kompetensi masing-masing? Mengapa putra Bupati yang terpilih?
Kalau jawabannya tersedia dan transparan silakan tunjukkan ke publik.
Kalau tidak tersedia maka pidato soal pakta integritas dan larangan gratifikasi itu hanya terdengar seperti ceramah yang disampaikan oleh orang yang paling tidak berhak menyampaikannya di hari itu.
Bupati Malang melantik anaknya jadi kepala dinas lalu ceramah soal integritas di acara yang sama.
Ini bukan paradoks yang rumit. Ini contoh sederhana dari sesuatu yang sudah lama jadi kanker dalam tata kelola pemerintahan daerah Indonesia: standar ganda yang dijalankan dengan percaya diri penuh.
Dan selama tidak ada mekanisme akuntabilitas yang benar-benar punya gigi ini akan terus terjadi. Di Malang. Di daerah lain. Dengan nama yang berbeda tapi pola yang sama.
Pemerintah AS, berdasarkan UU-nya, membuka dokumen rahasia negara setelah 50 tahun. Disana dinyatakan bahwa ada keterlibatan CIA di tragedi G30S/PKI tahun 1965 di Indonesia.
Sudah sampai mana revisi catatan sejarah nasional kita? 😁
BREAKING:
🇺🇸 Million-man demonstrations by Americans now against Trump
Massive demonstrations with more than 9 million protesters against the American president under the slogan (no to monarchy, no to extremism, no to wars, our forces are not for sale) organized by Democrats and some Republicans, basically rejecting Trump's policy of igniting wars recklessly.
The demonstrations focused in several cities, including (New York, Washington, Chicago, Boston, Philadelphia, and others), and are considered the first attempt by Trump's opponents and American peace advocates to pressure the government to stop wars.
Seharian ini susah dapet ojol. Trus pas dapet iseng nanya abangnya kenapa sejak puasa ini susah banget dapet ojol. Abangnya ketawa and bilang; system nya emang dibuat gitu mba. Dibikin sengaja biar driver banyak cancel karena dikasihnya jauh2. Gue tanya lagi kok gitu???
Abangnya jawab…mba inget kan program THR buat ojol? Yg dapet kan ada syaratnya tuh, salah satunya ga boleh sering cancel kan? Tapi kita dikasihnya sama system begitu…yah mana ada aplikasi yg mau rugi mba???
Kalo bener gitu….Wowo, gue keplak pala lo yaaaa!!! Gara2 lo nih!
Kebayang gak? Seonggok daging ini terus berdetak & ga pernah berhenti/istirahat sedetik pun sejak kamu lahir hingga detik ini.
Sudahkah kamu penuhi hak dia dg gak ngerokok, rutin olahraga, ga begadang, ngejaga makan, ga mager jalan kaki, dll? Sudahkah? 🥺