Ternyata bisa ngerti mekitron itu sebuah privilege.
Gue baca twit mekitron sebagai teman makan siang.
Namun bagi sebagian orang itu kayak test TOEFL/IELTS dan kuliah 4 sks.
Today, September 23rd, marks the birthday of my brother, Dr. Refaat Al-areer, may God have mercy on him. Speak of him in words; don't hold back, he deserves more than that 😭 He was a doctor, a poet, an angel, a brother, and a friend. He was more than just a human being 🥹
selalu senang mendengar org hit in the feelz kl baca raumanen (biarpun jd hampa). smp skrg masih kuanggap prestasiku sbg kurator/editor plg memuaskan, membangkitkan kembali novel marianne katoppo ini setelah puluhan tahun out of print. waktu itu bahkan blm ketemu buku aslinya, ketik ulang seluruh naskahnya (makasih ratih! dan dia dibayar lho ga kayak bbrp org yg dimintain tolong ngetik ulang karya² klasik yg aku kenal akhir² ini siapa yaaa) dr fotokopian perpus hb jassin. nongkrong sama bu marianne di qb pi, dia minta tolong dibeliin buku² ttg kucing pake diskon pegawai gue. magnificent lady. langit biru di cover baru itu teksturnya dr kertas yg dilipet² di kantor di lt 2 sama roni, crack book designer. thanks to richard oh (rip) yg setuju² aja whatever i wanted to do. no thanks to grasindo yg nerbitin ulang lagi pake blurb gue pleketiplek dan intro pam allen yg gue commissioned, hellooooo selamat tinggal kreativitas
"Yang ingin saya pertahankan justru hak untuk berbeda, hak untuk berpikir, hak untuk mengkritik, dan hak untuk tidak selalu sepakat bahkan dengan orang-orang yang berdiri di sisi perjuangan yang sama. Sebab solidaritas tidak seharusnya meminta kita untuk menyerahkan kebebasan berpikir sebagai harga agar dapat menjadi bagian dari sebuah gerakan. Sebuah perjuangan tidak boleh hadir menjadi besar sampai-sampai manusia di dalamnya harus mengecilkan dirinya sendiri. Kritik terhadap kapitalisme tidak boleh membuat kita lupa mengkritik kuasa di dalam gerakan. Solidaritas tidak perlu berubah menjadi keseragaman, atau keberpihakan berubah menjadi kewajiban untuk diam..."
BARS!
https://t.co/wTgSDTkmMW
Berikut adalah sampul buku "Nasi dan Melati" versi 1956 dan 2026. Di peringatan 70 tahun "Nasi dan Melati" kali ini, sampul digarap ulang oleh kawan Redi Murti, yang mana mencoba mengambil ikon-ikon dari puisi Klara Akustia, cerpen dari Rumambi, dan ikon burung dara pembebasan
malesin si org yg ngobrol buat benefit2 doang. kek karena gw gak ngerap terus diexclude. ada bgt tu lg ada gw di studionya tp diomongin di grup. like bitch im yo favorite rapper favorite writer
brgkt dr poin ini sabi aja, misalnya, "roti remahan org lain" itu diinterpretasikan sbg remah² kapitalisme di "negeri² yg lain yg sungguh sejahtera" dan si penulis lirik lewat baris "apa benar jika kuhabiskan / ku mati dalam keadaan menyesal?" sebenarnya sdg passive aggressively malu² kucing mempertanyakan kegengsian org² kiri/sosialis/anarko anti kapitalis yg mengelu²kan mrk di kolong jembatan, atau bahkan kegengsian dirinya sendiri? "jangan² tar gue malah mati khusnul khotimah bahagia dunia akhirat abis makan roti remahan orang lain yg adalah metafora remah² Produktionsweise ini?" consequently jadi sabi juga menginterpretasikan lagu ini bukan cuma sbg soundtrack tie-in utk desire #kaburajadulu, tp bhkn sbg sebuah paean untuk desire itu. hanya penulis kyknya takut aja utk double down on that point EXPLICITLY abis bikin konser di kolong jembatan. karena emang bener suggestion adib, ga ada kerangka alternatif di lirik lagu ini yg bisa kita pake buat membacanya sbg sebuah yok bisa yok yes we can get out of in this economy muka muka efisiensi malaise. yg ada justru lagu ini soon menjadi listicle ttg pengalaman² menyenangkan flaneur borjuis kecil (dongker travelogue!) — ketemu pasangan, whisky yg hangat, nyebur ke sungai, so much fun so punk not ded our band could be your life but youre not our band — yang semuanya "INGIN KU ULANGI". heeeeeeee apa bedanya mindfully masak tiga telor in this economy dengan turing di luar negeri buat "bertukar kabar baik", "bercerita tentang musik", "dan hal remeh lainnya"? (perhatikan baik² kemiripan antara bunyi dan tampilan on the page "remah" dan "remeh") memang, semua remah² remeh kapitalisme ini sabi banget jadi obyek desire "lamunan ringan" bagi band yg mulai sukses who can even afford to parody jokowi on their album cover, for the rest of us yg lagi memutar otak dalam hidup yg makin terasa berat gmn caranya menyulap remah roti jadi token listrik, jgnkan ngelamun, gooning aja udah ga nafsu!
she was just 60? RIP goat. her book is one of the main inspirations for the late great Wijaya Herlambang — who also died young in 2015 — in writing Kekerasan Budaya Pasca 1965 (Post-1965 Cultural Violence [in Indonesia]), which can be subtitled, "Who Paid the Orba Piper?"
Justru itu tujuan utamanya. Laut Bercerita itu ajang LARPing elit-elit sinema supaya mereka terlihat melek politik. Padahal mah cuma mau sebatas kasihan dan mewek-mewek aja tanpa mengganggu siapa-siapa. Jalinan Kasih dengan bungkusan Tragedi 98.
OFISIAL! KB$! obsesi gw bulan ini! album yg balikin trap lingo ke fungsi harfiah: to obscure sekaligus celebrating duniagelap jalanan, dr grahatlanta sampe cipetrap..ini hook, delivery & lirik semua excellent. tongkrongan bintang. rame. hedon. mosyen blur! https://t.co/Lfsd8XOI3W
Buku terbaru kami, sebuah novela dari @bobi_tuankotta
𝙎𝙖𝙢 𝙃𝙖𝙧𝙧𝙞𝙨 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙪𝙣𝙪𝙝 𝘼𝙢𝙞𝙧𝙪𝙡 𝙏𝙖𝙣𝙥𝙖 𝘼𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣
Sudah bisa dipesan lewat WhatsApp 082177991962 ✌🏻
PS: tautan ke marketplace menyusul.