gara-gara gibr*n pake AI buat bikin gambar foto jadi ghibli, skrg banyak org yg pake, dari mulai bupati, media info daerah, dan akun gede juga pada pake AI ghibli ini buat share ucapan idul fitri di postingannya. tkut makin dinormalisasikan, kasian nasib ilustrator ga sih? 🥲
Percuma bacaanmu bagus-bagus kalau kamu tutup mata sama situasi saat ini. Jadi kamu membaca buku-buku itu karena ingin menambah literasi atau haus akan validasi?
Yang paling sedih dari situasi sekarang adalah: ngga ada yang belain rakyat kecuali rakyatnya sendiri. Semua wakil rakyat, pejabat terpilih oleh rakyat, semuanya complicit atau cari aman. Kita dibiarin berjuang sendiri.
guys ini serem banget demi Tuhan gue gak bohong, mereka bakal makin represif dan hilang akal sebagai manusia. penyelewengan KEKUASAN. sebelum ada RUU ini, gue salah satu victim dari parcok, gue di intimidasi pake alamat rumah gue dan data pribadi gue sama salah satu dari mereka.
Tempo mendapat kiriman kepala babi pada 19 Maret 2025.
Babi kerap dicap buruk di dunia nyata karena hidupnya kotor berlumur lumpur. Namun di dunia fiksi, babi dikenal karena penampilannya yang nyentrik, pesonanya yang menyenangkan, dan cerdas.
#tempodotco
MALARI
Demonstrasi besar pertama pada masa Orba, sekaligus prelude dari represivitas militer kepada sipil sampai 24 tahun berikutnya.
Dalam wawancara dengan Tempo, seorang Letnan Satu masa itu mengaku kalau militer melepaskan peluru tajam ke arah demonstran.
@strootsys Coba tanya ke orang sekitar rumah lu yg voters genap, pasti ada aja yg milih karena kasian udah nyapres 3x ga pernah menang atau nganggep ex militer pasti tegas. Mereka mau dicekokin dirty voters 7 hari 7 malem pun ga akan terpengaruh. Emang ngerubah mindset grassroots itu susah
Munir dibunuh 23 hari sebelum pengesahan RUU TNI yang juga dibahas geber di September 2004. 20 taun lalu. Seperti yg kita ketahui, akhirnya wacana penghapusan komando teritorial yg sering Munir ributkan dan ada di perumusan awal sebagai agenda reformasi, batal.
Perpustakaan pribadi Pramoedya Ananta Toer pernah dibakar habis oleh tentara. Hal itu membuat kita semua kehilangan hak membaca delapan naskah yang belum Pram terbitkan.
Hingga akhir hayatnya, pembakaran tersebut masih menjadi hal yang membuat Pram geram.