Sekeluarga berempat dewasa SEMUA datang ke cafe :
1. Nggeret kursi gak diangkat SEMUA
2. Ngomongnya kenceng SEMUA
3. VC gantian dengan vol max SEMUA
4. Minggat kursine ra diberesi SEMUA
Kebayang omahe ko ngopo 🤮
Sudah menjalani ritual tidak ikut buka bersama di luar sejak belasan tahun lalu. Dan puasa tahun ini kembali seperti saat 4 tahun di Paris di mana masak buka & sahur sendiri. Apalagi budaya beli baju baru 😃 terakhir SMP kalik (?)
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.
Heran banget akhir musim dingin di China lantainya basah terus ☹️😢 dipel ga kering2. Dipel kain kering juga ga kering2. Keluar rumah dinding + lantai tangga juga basah.
Suka lihat orang jastip makanan terutama dari Jpn. Kemarin waktu ke sana iseng beli, penasaran aja gitu kok segitunya pada semrinthil tumbas. Yo b aja ki, malah byk yg lebih enak di Indo.
"Mamong, kamu ini sebenarnya kembang api ato gunung berapi?"
"Kenapa emang?"
"Kadang meledak-ledak"
"Aku ki gendruwo!"
"Kok gak gundul?"
"Hayow gendruwo ki gondrong! Nek gundul jenenge tuyul!"
*bener juga guweh meledak-ledak…
Masakan China : kerap memasukkan bumbu2 yang tidak penting. Yang penting malah tidak dimasukkan. Jadi kurang nendang. Kebanyakan minyak dan rempah yang tak lazim di lidah Indonesia.
Menurut keyakinan saya
Masakan Prancis menggambarkan cita rasa bahan makanan itu sendiri. Contoh : daging yang dimasak hanya dengan garam dan lada. Tidak terlalu banyak bumbu seperti rendang dan rawon meski enak tapi sudah bukan rasa daging itu sendiri.