Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester.
Well spoken, data bagus lengkap, penjelasan meyakinkan, ngomongnya dengan penuh percaya diri tajam, kritis dan selalu based on data..
Gais ada yg tertarik ausbildung supir truk (Berufskraftfahrer/in) di Jerman gak?
Jerman lagi krisis supir parah.
BGL & DIHK Skilled Labour Report 2025/2026, Jerman kekurangan 80.000–120.000 supir truk & bus. 44% supir usia 55+ alias uda mau pensiun.
Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester. Omongannya tajem, kritis, dan selalu based on data. Tentu tidak disukai kaum-kaum boikot UI dan UGM.
Guys, Prof. Ferry Latuhihin ekonom dengan 40 tahun pengalaman baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling mengerikan yang pernah gue dengar soal rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Dan yang bikin ini mengerikan
bukan hanya angkanya.
Tapi fakta bahwa prediksi-prediksi dia sebelumnya semua terbukti.
Track record prediksi Ferry yang perlu lo ketahui dulu:
Tahun lalu dia prediksi rating Indonesia akan di-downgrade.
Terjadi outlook dari stable menjadi negatif.
Tahun lalu dia prediksi dolar akan ke Rp17.000. Terjadi sekarang sudah Rp17.600.
Tahun lalu dia prediksi IHSG akan ambruk.
Terjadi sekarang di 6.700-an dan terus turun.
Bahkan ketika seluruh pasar modal Asia naik Indonesia satu-satunya yang minus.
Tiga prediksi.
Tiga-tiganya benar.
Dan sekarang dia punya prediksi baru.
Prediksi terbaru Ferry dan ini yang bikin gue tidak bisa tidur:
"Ramalan saya bisa 22.000 sampai 25.000 di semester kedua."
Dolar Rp22.000 sampai Rp25.000.
Dalam hitungan bulan.
Dan dia punya alasan yang sangat konkret bukan spekulasi kosong.
Mengapa bisa sampai ke sana penjelasannya:
Pertama — harga minyak yang terus naik.
Harga minyak sudah di atas Rp100 per barel.
Kalau spot price-nya menyentuh Rp120 Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar akan membutuhkan jauh lebih banyak dolar.
Permintaan dolar meledak.
Rupiah makin tertekan.
Kedua — badai PHK yang sudah di depan mata.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sendiri yang bilang: badai PHK di depan mata.
Di tengah klaim pertumbuhan 5,61% dari Prabowo menterinya sendiri memberikan antitesis yang sangat telak.
Bisnis kaing-kaing karena dolar mahal.
Royalti pertambangan dinaikkan.
Komisi ojek online dipaksa turun ke 8% padahal 20% saja GoTo masih bleeding selama 10 tahun lebih.
Kalau platform ojek online berhenti operasi karena tidak bisa bayar 7 juta driver ojol menjadi pengangguran dalam semalam.
Ketiga — defisit fiskal yang makin tidak terkendali.
Kuartal pertama saja sudah minus Rp240 triliun. Ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
MBG saja menghabiskan Rp335 triliun pos terbesar dalam APBN untuk program yang Ferry sebut sebagai bancakan.
Dan ketika pemerintah kehabisan uang dan terus terbitkan surat berharga negara yang dibeli oleh Bank Indonesia sendiri itu bukan keuangan yang sehat. Itu money printing untuk menutup program bakar duit.
Keempat — El Nino yang masuk bulan Juli-Agustus.
El Nino akan memicu krisis pangan global. Indonesia yang masih impor kedelai, gula, beras, jagung, gandum semua dalam dolar akan menghadapi tekanan yang berlipat ganda.
Dolar makin mahal.
Bahan pangan makin mahal.
Rakyat makin tercekik.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh analisis Ferry:
"Kalau dolar ke atas Rp20.000 98 bisa terulang."
Dia tidak bilang ini untuk menakut-nakuti.
Dia bilang ini berdasarkan logika ekonom dengan 40 tahun pengalaman.
Masyarakat sekarang sudah tidak makan tabungan lagi.
Mereka makan pinjaman.
Pinjol sudah Rp110 triliun di luar sistem perbankan resmi.
Tabungan rata-rata masyarakat turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 46 juta.
Tinggal satu trigger.
Dan trigger itu bisa datang dari dolar yang menembus Rp20.000.
Dua rekomendasi darurat Ferry yang menurut gue sangat masuk akal:
Pertama — hentikan MBG sekarang juga.
Bukan bertahap.
Sekarang.
Karena ratusan triliun yang diselamatkan bisa menjadi bumper untuk menahan tekanan rupiah.
Kedua — ganti Purbaya dengan orang yang benar-benar dipercaya oleh market.
Karena selama Purbaya yang bicara dolar tetap naik. Market tidak berbohong.
Kalau kata-katanya dipercaya dolar tidak akan terus ngacir.
Dan soal pernyataan pemerintah yang bilang fundamental kuat:
Ferry bilang dengan sangat blak-blakan:
"Enggak dipercaya.
Lu mau ngomong apa juga di sana dolar tetap ngacir. Harga saham tambah ambruk.
Artinya omongan Anda tidak dipercaya oleh market."
Dan dia tambahkan sesuatu yang lebih pedas lagi:
Statement Purbaya soal kita keluar dari jebakan 5% menurut Ferry itu bukan untuk meyakinkan rakyat.
Itu untuk menghibur presiden supaya Purbaya tidak dipecat.
Ferry Latuhihin bukan dukun.
Dia ekonom.
Tiga prediksi sebelumnya terbukti semua.
Dan sekarang dia bilang Rp22.000 sampai Rp25.000 bisa terjadi di semester kedua 2026.
Kalau itu terjadi bukan hanya dompet yang terdampak.
Bukan hanya harga sembako yang naik.
Tapi fondasi dari seluruh sistem ekonomi yang sudah rapuh ini bisa runtuh dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang siapapun siapkan.
Dan presiden kita masih berdiri di podium bilang: "Selama Purbaya masih senyum tenang aja."
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Yuk, Yuk kita lihat kasusnya utuh untuk diskusi supaya kita nggak terjebak di satu statement "tuntut mati ABK Fandi".
Pertama, Fandi itu ABK bagian mesin di kapal Sea Dragon Terawa yang ketangkap bawa hampir 2 ton sabu di perairan Kepri, Mei 2025. Anak nelayan dari Medan Belawan, sulung dari enam bersaudara, lulusan politeknik pelayaran.
Dia cari kerja di kapal asing untuk menafkahi keluarga dan bayarin sekolah adik-adiknya. Direkrut lewat agen tenaga kerja informal. Baru kerja tiga hari. Baru kenal kapten di hari pertama berlayar.
Di persidangan, saksi-saksi yang di bawah sumpah menyatakan Fandi justru kebingungan saat 67 kardus dipindahkan di tengah laut. Dia bolak-balik bertanya "ini isinya apa?" dan dijawab atasannya: emas dan uang.
Jaksa membantah hal ini, nyebut Fandi menerima transfer Rp 8,2 juta sebelum berangkat sebagai bukti keterlibatan. Tapi untuk ABK yang sedang kerja, uang itu bisa saja kasbon atau gaji di muka.
Hakim PN Batam tidak membebaskan Fandi. Tetap divonis bersalah, dihukum 5 tahun penjara. Tapi hakim sengaja membedakan peran setiap terdakwa.
Kapten dan chief officer kena seumur hidup. Fandi, yang ada di posisi paling bawah dalam hierarki kapal, tanpa wewenang atas muatan atau rute, dihukum jauh lebih ringan. Hakim menimbang usia muda, tidak ada catatan kriminal, dan masih bisa direhabilitasi.
Lalu kenapa jaksa "ngotot"? Kejati Kepri mengajukan banding dengan alasan perbedaan dalam putusan hukum. Mereka (Kejati Kepri) , merujuk kasus di PN Karimun, lima ABK Myanmar dengan barang bukti 700 kg sabu divonis mati semua. Bagi kejaksaan, logikanya: kalau 700 kg saja mati, masa 2 ton cuma 5 tahun?
Logikanya masuk akal secara matematis. Tapi hukum pidana yang adil nggak bisa menyamakan dua orang hanya karena sama-sama berjabatan "ABK".
Derajat kesalahan, niat, dan peran harus diperiksa satu per satu. Yang satu bisa jadi pelaku sadar, yang satu terbukti di persidangan sebagai buruh yang dibohongi soal muatan kapal.
Yang bikin publik tepok jidat adalah kontradiksi di dalam lembaga kejaksaan itu sendiri. JPU yang menuntut mati sudah dipanggil DPR, minta maaf terbuka di depan Komisi III, dan dijatuhi sanksi disiplin oleh internal kejaksaan. Ketua Komisi III juga mempertanyakan, kenapa kadar kesalahan beda jauh tapi tuntutannya disamakan.
Tapi...
Kejati Kepri tetap mendaftarkan banding dengan tuntutan yang sama persis: pidana mati.
Alasannya? Permintaan maaf itu soal etika, bukan soal prosedur hukum. Secara aturan mungkin benar. Tapi secara logika... ya, sulit diterima
Dan sementara Fandi terancam mati, pengendali utama yang disebut "Mr Tan" masih buron.
Penangkapan Gembong Narkoba , Dewi Astuti di Desember 2025 justru membuktikan bahwa yang mengendalikan operasi ini bukan mereka yang berkeringat di atas kapal.
KUHP baru kita sendiri sudah menempatkan hukuman mati sebagai pilihan terakhir, bukan lagi pidana pokok.
Wamen HAM sendiri tegas menolak dan Amnesty Internasional menilai tuntutan hukaman mati kepada ABK lapis bawah justru menutup peluang membongkar sindikat lebih dalam.
Pertanyaannya sekarang bukan cuma soal Fandi, tapi soal siapa sebenarnya yang sedang dilindungi oleh sistem ini? dan siapa yang dijadikan tumbal?
Pak Dudung Abdurrachman-nya somehow udah jadi Profesor.
Tahun 2022: Dapet gelar Doktor
Tahun 2023: Udah jadi guru besar.
Aturan PermenpanRB No. 46 Tahun 2013:
Jadi Guru Besar minimal 3 tahun setelah Doktor.