Kapan terakhir kamu beneran menemui dirimu sendiri? Ketika muncul pikiran dan perasaan, kamu temui dan sadari?
Atau jangan-jangan, selama ini kita terus lihai melarikan diri dari diri kita sendiri?
Normalisasi tidak prengat-prengut ke orang yang gak tahu apa-apa. Mood lu urusan lu, being nice to everyone adalah sebuah adab. Everyone is having their own battle, not only you. Jadi jangan merasa si paling sibuk, paling merana, paling hectic, paling stres.
Ditinggal Menikah
Ada yang nanya saya: “Hal yang menyakitkan bagi saya adalah sahabat saya mau menikah tahun ini. Dan dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”.
Saya terganggu dengan minta maaf itu karena saya tidak merasa ditinggal, saya tidak mau merasa dikasihani.
Ada perasaan marah dan kurang nyaman yang ingin saya luapkan.
Bagaimana menyikapi ini dengan sadar?”
Saya mau bilang dulu:
“Menikah bukan berarti menang, dan belum/tidak menikah bukan berarti kalah. Hidup bukan kompetisi. Tiap kita punya jatah rute cerita hidup yang unik. Enggak bisa dibandingkan.
Kalau nilai diri ditentukan dari status, maka hidup akan selalu jadi ajang membandingkan. Tapi kalau nilai diri tidak bergantung pada status, maka menikah atau belum/tidak menikah, dua-duanya cuma momen dalam hidup, bukan ukuran siapa lebih menang.”
Lalu kenapa orang melihat hidup sebagai kompetisi?
Itu nggak muncul tiba-tiba sih. Ada beberapa kemungkinan yang bikin orang begitu:
- Program sosial. Dari kecil, banyak yang “diprogram” bahwa hidup ini berlevel: sekolah, lalu kerja, lalu menikah, lalu punya anak, dst.
- Kebutuhan validasi. Menikah sering jadi simbol “laku”, “dipilih”, “berhasil secara relasi”. Buat sebagian orang, ini jadi cara membuktikan harga diri. Bukan cuma ke orang lain, tapi juga ke dirinya sendiri.
- Cara pikir yang kompetitif. Karena terbiasa membandingkan: karier, penghasilan, pencapaian, termasuk relasi.
Kembali ke… Gimana menyikapi perasaan terganggu, marah, kurang nyaman karena ucapan minta maaf itu dengan sadar?
Bisa dengan sadari dulu reaksi batin yang muncul: “Oh, ini rasa tersinggung.” Nggak perlu langsung diluapkan atau ditolak.
Lalu pisahkan fakta vs drama ciptaan pikiran: faktanya sahabat mau menikah, dia minta maaf karena “meninggalkan saya sendiri”. Titik. Tapi biasanya pikiran menciptakan drama tambahan.
Lihat kemungkinan lain juga: bisa jadi dia cuma canggung atau berusaha menjaga perasaan, bukan merendahkan kamu.
Dengan begitu, kamu bisa merespon dari kesadaran, bukan reaksi emosional. Kalau mau kamu sampaikan ke dia, kamu bisa ngomong, “Aku nggak merasa ditinggal kok, jadi nggak perlu khawatir ya.”
Jadi ringkasnya, jaga agar kamu enggak larut tenggelam dalam drama tambahan ciptaan pikiran. Sehingga responmu jadi lebih bijak dan tetap menjaga persahabatan.
Kita nggak trampil saat keinginan nggak terwujud. Padahal di hidup ini kan nggak bisa keinginan kita selalu terwujud.
Banyak yang jadi jahat karena keinginannya harus terwujud.
*KARMA BAIK ORANG TUA BUAT ANAKNYA*
1. *JIKA ORANGTUA SUKA MENOLONG* tuhan akan pertemukan anaknya dengan orang - orang baik.
2. *JIKA ORANG TUA SUKA BERBAGI* tuhan akan jaga anak anaknya dari rasa kelaparan dan kesulitan.
3. *JIKA ORANGTUA JUJUR DALAM REJEKI YANG HALAL* allah akan limpahkan keberkahan dalam hidup anak anaknya.
4. *KETIKA ORANG TUA SUKA MEMPERMUDAHKAN URUSAN ORANG LAIN* tuhan akan mudahkan urusan anaknya.
5. *KARENA DI SETIAP AMAL BAIK ORANG TUANYA* akan kembali menjadi hadiah pelindung bagi anak anaknya.
Kalau seneng sama orangnya, sesalah apapun pada membelanya.
Kalau benci sama orangnya, sebener apapun pada mengutuknya.
Soal nilai benar atau salah, kita ini dipengaruhi emosi. Manusia emang makhluk emosional.
Sebab itu, seimbangkan dengan akal sehat.
Kadang kamu tiba-tiba sedih, bahkan nangis, tanpa alasan yang jelas…
Karena perasaan itu diwariskan dari generasi ke generasi, udah lama banget, maka kamu hampir enggak bisa menamai perasaan itu, emosi itu. Bahkan kamu memberinya label sebagai sedih atau duka pun enggak sepenuhnya tepat.
Perasaanmu itu sering ketrigger oleh hal-hal kecil, misal karena interaksi sama orang
tua, konflik sama pasangan, dan sebagainya.
Hal-hal yang kelihatannya sederhana, tapi bikin kamu bereaksi sebegitunya. Karena yang kesenggol itu bagian dirimu yang sangat dalam.
Maka kamu enggak bisa mengatasi masalah ini hanya menggunakan pikiran. Justru kalo kamu berusaha mikir nyari solusinya, memprosesnya, menghilangkannya, akibatnya malah masalah makin menguat.
Ada titik di mana kita membutuhkan pikiran, pikiran cuma bisa bawa kita sampai batas tertentu. Setelah itu, yang kita butuhkan bukan berpikir lebih keras, tapi kesadaran, sekadar hadir, menyadari, memberi ruang.
Seringkali kita sebenarnya menghindari perasaan ini. Kadang lewat distraksi: kerja, social media, hiburan, berlebihan ngurusin hidup orang. Kadang lewat mengingat-ingat masa lalu atau bayangin masa depan. Kadang bahkan lewat hal-hal yang kelihatannya baik: afirmasi, visualisasi.
Kelihatannya kita lagi menghadapi, padahal sebenarnya lagi lari. Kita memang diajarin, kita terprogram, terbiasa menghindari, mengalihkan, atau melawan, menekan.
Yang sebaiknya kita lakukan sebenarnya sederhana, tapi kita rasa nggak mudah, yaitu menyadari dan memberinya ruang.
Tanpa buru-buru menenangkannya.
Tanpa tergesa mencari artinya.
Tanpa menjadikannya sebagai masalah yang harus diselesaikan.
Kita juga perlu waspada akan jebakannya. Kita bilang memberinya ruang, memprosesnya, merelease-nya, tapi itu bersumber dari berharap biar perasaan itu cepet hilang.
Itu sebenarnya masih bentuk penolakan. Sebenar-benarnya memberi ruang itu tanpa agenda, tanpa tujuan. Bahkan tanpa harapan akan hilang.
Ego sangatlah lihai dan licin.
Seringkali yang memicu perasaan ini adalah orang-orang terdekat: orang tua, pasangan, anak, keluarga.
Kita sering salah mengira merekalah penyebabnya. Belum tentu. Sebenarnya merekalah yang bisa tanpa sadar menunjukkan dan membuka lapisan lapisan terdalam diri kita. Merekalah yang bisa menekan tombol luka yang selama ini ada di dalam diri kita, yang terus kita tutupi dan terus kita berpura-pura luka itu enggak ada.
Relasi yang sehat dan cukup dalam itu bukan hanya selalu bikin kita nyaman.
Tapi juga jadi tempat di mana luka, perasaan-perasaan yang selama ini kita hindari, kita sembunyikan, kita tekan pendam begitu dalam, jadi muncul ke permukaan.
Tentu ini bikin kita nggak nyaman. Tapi begitulah emang fungsi relasi. Sebagai cermin untuk kita melihat diri kita sedalam dalamnya.Tanpa relasi sebagai cermin, mungkin luka itu tetap tersembunyi dan menguasai diri kita.
Jadi ini bukan perjalanan menghilangkan, memproses, bahkan memulihkan.
Tapi kita memberi ruang untuk perasaan yang selama ini ada begitu dalam di diri kita. Sehingga muncul ke permukaan, supaya kesadaran bisa menyinarinya dan pelan-pelan terurai dengan sendirinya.
Kita tidak memprosesnya, tidak berusaha menghilangkannya. Tapi justru kita berhenti lari, berhenti meraih kondisi. Hanya sekadar hadir, just be, di sini-kini.
Manusia, kita mau gunain energi sangat besar, sangat semangat buat ngurusin hidup orang lain, buat hal2 yg sifatnya eksternal.
Tapi sayangnya, nggak mau gunain sebesar itu energinya, nggak sesemangat itu buat menengok ke dalam, mempelajari, inquire dirinya sendiri.
Bedain mana yang bisa kamu kendalikan, mana yang nggak. Dikotomi kendali. Pakai energimu lebih buat yang bisa kamu kendalikan. Ini kelihatan simpel, tapi ini game changer banget.
Innalillahi. Nampak seorang siswa ia berpamitan dengan teman2nya dan memutuskan untuk beristirahat dari sekolah untuk fokus menjalani pengobatan. Siapa sangka itu menjadi pertemuan terakhir. Kepergiannya kini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan sekolah.
Jadi orang yang berlebihan independent, semua-muanya dikerjain sendiri, sulit minta tolong, bisa jadi itu… mekanisme pertahanan diri karena sering dikecewain atau pernah sekali dikecewain begitu dalam.