Nikita Willy: "Sejauh mana batasan keterlibatan mertua dalam rumah tangga anaknya?"
Bu Rani: "Saya kalau mau ke rumah anak saya, saya WA mantu saya dulu."
Mungkin dia lagi capek. Mungkin kulkasnya kosong. Mungkin dia lagi ingin sendiri.
"Anak kita siap menerima kita kapan saja. Tapi menantu kita belum tentu."
Setuju ya bu ibu 🤔
Bu Rani bilang banyak orang tua sebenarnya tidak membenci menantunya.
Mereka hanya tidak siap menerima satu kenyataan:
"Anak kita sudah ada yang punya."
Karena sejak menikah, anak yang selama ini hanya menjadi bagian dari keluarga kita, kini juga menjadi bagian dari keluarga orang lain.
Dan tidak semua orang tua siap dengan perubahan itu.
Menurut Bu Rani, banyak konflik mertua dan menantu bukan karena ada yang jahat.
Tapi karena ekspektasi.
Mertua berharap menantunya punya pandangan hidup, kebiasaan, bahkan nilai yang sama dengan keluarganya.
Padahal menantu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda.
"Kalau kita sebagai orang tua sudah memberikan restu kepada anak kita untuk menikah, biarkan mereka menjalani hidup dengan nilai-nilainya sendiri." — Bu Rani
Menurutnya, nilai yang diajarkan orang tua kepada anak belum tentu cocok untuk pasangan hidup anaknya. Karena itu, orang tua perlu siap menerima bahwa anaknya mungkin akan memiliki cara hidup yang berbeda setelah menikah.
cc:threadhallolalalah
doa tamak di hari arafah ini:
YA ALLAH 5 MILYAR USD HALAL CASH AFTER TAX DARI HAL YANG TIDAK DIDUGA DUGA DALAM WAKTU DEKAT DAN DALAM KEADAAN BAIK DAN SEHAT TANPA KURANG SATU APAPUN YA ALLAH.
AAMIIN
Guys...
tanggal 25.
Hari gajian.
Dan entah kenapa rasanya berat banget.
Notifikasi masuk. Rp3.200.000.
Seneng 3 menit.
Menit ke-4 kos 1,2 juta.
Menit ke-5 transfer ke Mama 500 ribu.
Menit ke-7 WiFi listrik cicilan.
Menit ke-10 beras minyak sabun makanan kucing.
Sisa 300 ribu.
Buat 30 hari.
Sehari 10 ribu.
Dan itu semua selesai sebelum jam 10 pagi.
Gaji datang ngasih harapan, pulang ninggalin tagihan sama Indomie.
Yang bikin makin sesak adalah malamnya. Jam 2 dini hari, kipas angin nyala tapi yang muter malah otak. Gimana kalau sakit.
Gimana kalau motor rusak.
Kos bulan depan naik ga ya. Temen ngajak nongkrong bilang ga ada duit dikira ga solider.
Umur 27 tabungan masih nol sementara FYP isinya orang umur 22 udah punya 100 juta pertama.
Banting HP ke kasur.
Di kos sendirian.
Yang nemeni cuma kucing sebelah yang ngeong minta makan.
Dikasih wet food 5 ribu.
Kucingnya kenyang tidur pules.
Dia sendiri laper tapi ga berani pesen GoFood karena 10 ribu itu jatah makan besok.
Dan waktu Mama nelpon nanya uangnya cukup apa nggak...
"Cukup Ma."
Jawab cepet.
Sambil ngitung dalam kepala nasi sama garam aja cukup ga buat besok.
Bohong "cukup" ke Mama itu menetap.
Setiap bulan.
Dan overthinkingnya juga ikut menetap.
Guys capeknya hidup kaya gini bukan di kantor.
Tapi di tanggal 26 sampai tanggal 24 bulan berikutnya. Pas harus senyum padahal rekening tinggal doa.
Tapi dia masih bangun besok.
Masih kerja lagi.
Masih nyisihin 5 ribu buat kucing sebelah.
Buat siapapun yang relate sama cerita ini, kalian ga gagal.
Kalian udah luar biasa bisa sejauh ini dengan kondisi yang sekeras ini.
Besok coba lagi ya.
Satu hari sekali.
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Guys, Prof. Ferry Latuhihin ekonom dengan 40 tahun pengalaman baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling mengerikan yang pernah gue dengar soal rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Dan yang bikin ini mengerikan
bukan hanya angkanya.
Tapi fakta bahwa prediksi-prediksi dia sebelumnya semua terbukti.
Track record prediksi Ferry yang perlu lo ketahui dulu:
Tahun lalu dia prediksi rating Indonesia akan di-downgrade.
Terjadi outlook dari stable menjadi negatif.
Tahun lalu dia prediksi dolar akan ke Rp17.000. Terjadi sekarang sudah Rp17.600.
Tahun lalu dia prediksi IHSG akan ambruk.
Terjadi sekarang di 6.700-an dan terus turun.
Bahkan ketika seluruh pasar modal Asia naik Indonesia satu-satunya yang minus.
Tiga prediksi.
Tiga-tiganya benar.
Dan sekarang dia punya prediksi baru.
Prediksi terbaru Ferry dan ini yang bikin gue tidak bisa tidur:
"Ramalan saya bisa 22.000 sampai 25.000 di semester kedua."
Dolar Rp22.000 sampai Rp25.000.
Dalam hitungan bulan.
Dan dia punya alasan yang sangat konkret bukan spekulasi kosong.
Mengapa bisa sampai ke sana penjelasannya:
Pertama — harga minyak yang terus naik.
Harga minyak sudah di atas Rp100 per barel.
Kalau spot price-nya menyentuh Rp120 Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar akan membutuhkan jauh lebih banyak dolar.
Permintaan dolar meledak.
Rupiah makin tertekan.
Kedua — badai PHK yang sudah di depan mata.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sendiri yang bilang: badai PHK di depan mata.
Di tengah klaim pertumbuhan 5,61% dari Prabowo menterinya sendiri memberikan antitesis yang sangat telak.
Bisnis kaing-kaing karena dolar mahal.
Royalti pertambangan dinaikkan.
Komisi ojek online dipaksa turun ke 8% padahal 20% saja GoTo masih bleeding selama 10 tahun lebih.
Kalau platform ojek online berhenti operasi karena tidak bisa bayar 7 juta driver ojol menjadi pengangguran dalam semalam.
Ketiga — defisit fiskal yang makin tidak terkendali.
Kuartal pertama saja sudah minus Rp240 triliun. Ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
MBG saja menghabiskan Rp335 triliun pos terbesar dalam APBN untuk program yang Ferry sebut sebagai bancakan.
Dan ketika pemerintah kehabisan uang dan terus terbitkan surat berharga negara yang dibeli oleh Bank Indonesia sendiri itu bukan keuangan yang sehat. Itu money printing untuk menutup program bakar duit.
Keempat — El Nino yang masuk bulan Juli-Agustus.
El Nino akan memicu krisis pangan global. Indonesia yang masih impor kedelai, gula, beras, jagung, gandum semua dalam dolar akan menghadapi tekanan yang berlipat ganda.
Dolar makin mahal.
Bahan pangan makin mahal.
Rakyat makin tercekik.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh analisis Ferry:
"Kalau dolar ke atas Rp20.000 98 bisa terulang."
Dia tidak bilang ini untuk menakut-nakuti.
Dia bilang ini berdasarkan logika ekonom dengan 40 tahun pengalaman.
Masyarakat sekarang sudah tidak makan tabungan lagi.
Mereka makan pinjaman.
Pinjol sudah Rp110 triliun di luar sistem perbankan resmi.
Tabungan rata-rata masyarakat turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 46 juta.
Tinggal satu trigger.
Dan trigger itu bisa datang dari dolar yang menembus Rp20.000.
Dua rekomendasi darurat Ferry yang menurut gue sangat masuk akal:
Pertama — hentikan MBG sekarang juga.
Bukan bertahap.
Sekarang.
Karena ratusan triliun yang diselamatkan bisa menjadi bumper untuk menahan tekanan rupiah.
Kedua — ganti Purbaya dengan orang yang benar-benar dipercaya oleh market.
Karena selama Purbaya yang bicara dolar tetap naik. Market tidak berbohong.
Kalau kata-katanya dipercaya dolar tidak akan terus ngacir.
Dan soal pernyataan pemerintah yang bilang fundamental kuat:
Ferry bilang dengan sangat blak-blakan:
"Enggak dipercaya.
Lu mau ngomong apa juga di sana dolar tetap ngacir. Harga saham tambah ambruk.
Artinya omongan Anda tidak dipercaya oleh market."
Dan dia tambahkan sesuatu yang lebih pedas lagi:
Statement Purbaya soal kita keluar dari jebakan 5% menurut Ferry itu bukan untuk meyakinkan rakyat.
Itu untuk menghibur presiden supaya Purbaya tidak dipecat.
Ferry Latuhihin bukan dukun.
Dia ekonom.
Tiga prediksi sebelumnya terbukti semua.
Dan sekarang dia bilang Rp22.000 sampai Rp25.000 bisa terjadi di semester kedua 2026.
Kalau itu terjadi bukan hanya dompet yang terdampak.
Bukan hanya harga sembako yang naik.
Tapi fondasi dari seluruh sistem ekonomi yang sudah rapuh ini bisa runtuh dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang siapapun siapkan.
Dan presiden kita masih berdiri di podium bilang: "Selama Purbaya masih senyum tenang aja."
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
Jujur aja, respon AHY menanggapi kejadian kereta Bekasi adalah respon terbaik dari pemerintah saat ini 👍
Empatinya hadir, tegasnya keluar, bijaknya ada. 11-12 sama SBY dalam merespon bencana.