“Our Lord! Do not let our hearts deviate after you have guided us. Grant us Your mercy. You are indeed the Giver of all bounties.”
— Surah Ali 'Imran (3:8)
“And do not turn your nose up to people, nor walk pridefully upon the earth. Surely Allah does not like whoever is arrogant, boastful.”
— Surah Luqman (31:18)
Konflik status bencana Sumatra mengajarkan kita bahwa axis politik Indonesia tidak selalu dijelaskan oleh ideologi kiri–kanan atau kelas, melainkan juga oleh axis geografis–institutional: Mirip dengan apa yang dijelaskan oleh Lipset–Rokkan’s centre–periphery divide (cleavage theory).
Di Indonesia, selain garis historis–sosiokultural, faktor geografi (archipelagic), sejarah, dan postcolonial extractive economy turut mempertegas garis (cleavage) ini - membuatnya lebih dominan bahkan dan (arguably) lebih cocok digunakan sebagai spektrum partai politik.
Filosofi politik kita cenderung terpusat ke tiga kategori lama: komunis, nasionalis, dan Islam. Sementara realitas kita adalah archipelagic, bukan kontinental. Pulau-pulau punya pengalaman sejarah, risiko, dan logika ekologinya sendiri. Mungkin ini (filosofi Archipelagic) bisa menjadi kerangka berpikir politik alternatif.
Kota adalah ruang berkumpulnya para pemikir terbaik, ruang lahirnya ide-ide besar.
Kami di Karsa City Lab ingin memastikan bahwa percakapan tentang kota menjadi milik semua. Kota harus menjadi ruang yang inklusif, tempat setiap orang bisa berpartisipasi, dan terutama relevan bagi generasi muda. Sebab masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kekuatan kota-kotanya.
https://t.co/aDiIeCvX6c
Congrats, Zohran Mamdani! Now let’s get that fare-free public transport and other inclusive, pro-people programs rolling. Here’s to more cities around the world putting public facilities and equality at the heart of their progress. 👏🏼
Nothing reaches you without the will of Allāh.
From every rain drop that falls on your face, to every hardship that you endure has been willed for you spacifically.
“O God, grant me a'maal [spiritual practice] that cleanses the pollution caused by my offenses, lifts away their heavy burden, and cover me with the gentle veil of Your Grace and Forgiveness.”
— Imām al-Sajjād (ع)
“Allah does not burden a soul beyond that it can bear. It will have [the consequence of] what [good] it has gained, and it will bear [the consequence of] what [evil] it has earned”
— Al Qur’aan [2:286]
“… apakah harus semuanya keuangan negara atau (…) partisipasi rakyat?”
adalah statement yang sedikit membingungkan; karena seakan akan keuangan negara itu bukan partisipasi rakyat.
UUD 23 1945 “keuangan negara dikelola secara terbuka dan bertanggung jawab untuk kemakmuran rakyat”
Pemerintah dalam hal ini tidak “memiliki” uang sendiri namun mengelola amanah Rakyat. Segala bentuk belanja negara diambil dari rakyat, baik dalam bentuk pajak, utang, atau pencetakan uang. Sesuatu yang dimiliki itu boleh dipakai tanpa pertanggungjawaban.
Seharusnya pertanyaannya adalah: “Apakah pendidikan, dan pengadaannya (termasuk gaji dosen) itu hak berkewarganegaraan atau komoditas ekonomi?”
To be a Wali (friend) of Allah ﷻ, you must live for Him — not for people, comfort, or yourself.
Love what He loves. Leave what He doesn’t. Seek only His approval.