Paling tidak aku menyerahkan seutuhnya, bukan setengahnya. Bahkan dari gaji-gaji dan penghasilan ku lainnya, aku memakai hanya sisanya, bahkan masih ku ingat persis dimana setiap bulan gajiku hanya sisa Rp 15.000
Ini tentang tanggung jawab yang sebetulnya bukan tanggung jawabku—
Merogoh kocek kartu debitku. Saat ini, aku tidak berdaya. Setidaknya jika aku mati lebih dulu, aku telah berusaha mengabdi sekuat tenaga ku, tapi sialnya anak ku belum merasakan banyak hal yang membuatnya bahagia karena hasil jerih payah ku.
Kami tidak kepanasan juga tak kedinginan, kendaraan roda empat yang terparkir khawatir salah satu dari kami ada yang sakit. Ku akui, ia hebat. Hidup sendirian dikota besar dan mampu membuktikan. Ibu ku bangga.
Aku dilahirkan dengan keluarga lengkap, paling tidak itu hal yang aku syukuri. Aku dibesarkan dengan penuh kasih &cinta —tentu dari ke-dua orang tua ku, juga ke-tiga kakak dan seorang adik laki-laki. Iya, laki-laki semua. Ku pikir awalnya ku pikir semua
JENDRAL SEBUTAN NYA
Ayah ku bukan seorang Jendral, itu adalah sebutan ku untuknya sebagai kenangan bagaimana kerasnya ia mendidik kami anak-anaknya. Tegas, keras dan tak terkalahkan. Bagaimana bisa kalah? Listrik saja melengking dibuat jari-jemarinya.
“Tuh lihat kalo di Jakarta lampunya banyak kan?”, se-sederhana itu ayah menenangkan ibu agar tak terus merengek minta pulang kampung. Meski indomie soto di bagi untuk makan berdua, namun mereka tumbuh dan berkembang bersama. Sampai papah sungguh membuktikan,
Aku ingin menanam bunga halaman kecil teras depan rumah, agar anak ku tau bagaimana cara memperlakukan makhluk hidup dengan baik, meski ia tak bisa bicara sebagaimana manusia.
NYAMAN
Jika diberi kesempatan, aku ingin membangun rumah. Tak perlu besar, cukup untuk aku &anak ku. Aku ingin, pulang adalah hal yang bisa membuatnya tenang, tembok-tembok terasa hangat menyabutnya, ada ibu tunggal yang setia menunggunya, duduk di sudut ruang tengah.
Aku ingin rumah adalah tujuannya setelah pencarian panjang, aku ingin rumah adalah tempat ternyaman, bisa memanjakan badan dan dirinya tanpa takut ada yang menguntit.
Bagaimana? Menggunakan mesin las atau? Setelah menginjak umur 32 tahun, ternyata traumanya tak pernah sembuh walau dibalut dengan canda tawa. Aku ingin memasak sup kesukaan anak ku, sambil bertanya dengan lembut “bagaimana hari ini?”, atau memijat lembut betis kakinya.
Tidak ada teriakan karena seharian telinganya sudah terlalu berisik. Aku menyadari, rumah yang ku tinggali milik ayah, banyak sekali kasih dan cinta namun sialnya beriringan dengan rasa trauma. Ketakutan-ketakutan yang terus berjalan, harus mengerti jika kompresor bocor harus—
Mensejahterakan istri &anak-anaknya kelak. Adu nasib, tak ada rekan &tak ada suadara, dipungut orang betawi dan mengangetkan ketika mamah ingin menggugatnya cerai, buru-buru ia jemput, dibawa dalam kost kecil yang membuat ibu ku meraung ingin pulang ke kampung halaman.
Ayah ku tekhnisi hebat, anak rantau yang meninggalkan pulau sumatera ke jawa barat, seorang diri, meninggalkan istri dikampung yang tengah berbadan dua, tanpa kabar hanya surat yang sesekali diterbangkan oleh kantor pos. Hidupnya nekat, penuh perjuangan karna keinginannya—