Mau naroh ini ada terjemahan bahasa Indonesianya. Kaget juga waktu Mukmin bawain stand up gimmick absen kayak gini, apakah karena memang terinspirasi di sini atau memang jenius aja kepikiran ngabsen.
Memang banyak yang konteksnya membingungkan untuk orang Indonesia tapi kayaknya kita bisa paham sih sedikit-sedikit.
Sony Ericsson hilang.
Walkman tinggal kenangan.
VAIO bukan lagi milik Sony.
Banyak produk ikonik Sony yang dulu mendominasi kehidupan kita, tapi generasi sekarang mungkin bahkan belum pernah melihatnya secara langsung.
Produk Sony apa yang paling kamu rindukan?
Menariknya, Idul Adha di Indonesia memang terasa tidak semeriah Idul Fitri.
Kalau Lebaran, atmosfernya luar biasa besar.
Mudik nasional, THR, pusat perbelanjaan penuh, timeline media sosial dipenuhi foto keluarga dan ucapan.
Ekonominya bergerak besar-besaran, suasananya bahkan terasa berminggu-minggu.
Sementara Idul Adha datang jauh lebih tenang.
Tidak terlalu ramai di media sosial, tidak banyak euforia, bahkan buat sebagian orang terasa seperti “hari libur biasa”.
Padahal kalau dibanding negara muslim lain, suasananya bisa berbeda.
Di Arab Saudi misalnya, Idul Adha justru terasa sangat besar karena berdekatan dengan musim haji. Jutaan umat berkumpul, ibadah kurban jadi pusat perhatian, dan atmosfer spiritualnya sangat kuat.
Qatar juga mirip. Tradisi berbagi makanan, kumpul keluarga, dan kegiatan sosial saat Idul Adha terasa sangat hidup.
Malaysia ada di tengah-tengah. Idul Fitri tetap paling meriah, tapi Idul Adha masih terasa kuat lewat tradisi korban di masjid dan komunitas lokal.
Mungkin ini memang soal budaya tiap negara.
Indonesia punya ikatan emosional yang sangat kuat dengan Idul Fitri: mudik, halal bihalal, reunian keluarga besar. Jadi wajar kalau nuansa “kemenangannya” terasa lebih ramai.
Sedangkan Idul Adha lebih banyak bicara tentang sesuatu yang lebih sunyi: ikhlas, pengorbanan, dan berbagi.
Tentang rela memberi meski belum berlebih.
Tentang membantu tanpa perlu diumumkan.
Tentang pengorbanan yang sering kali tidak terlihat orang lain.
Dan menariknya, banyak hal besar dalam hidup memang terjadi diam-diam.
Tidak semua perjuangan perlu dilihat.
Tidak semua kebaikan perlu viral.
Mungkin karena itu Idul Adha terasa lebih tenang.
Karena pesannya memang bukan soal kemeriahan, tapi soal ketulusan.
@SeputarMadrid@AlbertOrtegaES1 Ya tergantung dengan pola taktik juga sih, Madrid kan taktiknya beda dengan timnas Spanyol, karena mau banyak ya cara mainnya harus sama.