Sebagian besar dari kita memang tidak mengalami orde baru, jadi kalau bicara ketakutan macam apa yang ditebar Orba sepanjang ia berkuasa, banyak yang susah relate.
Agak susah membayangkan kekuasaan model apa yang dijalankan, bagaimana cara kerjanya, dan apa yang menopang kekuasaan itu sampai bisa bertahan sampai 32 tahun.
Ada beberapa jalan yg bisa kita lakukan untuk bisa berempati, bisa seolah tahu rasanya hidup di era dwifungsi ABRI. Kita bisa baca, nonton dokumenter, atau apapun selama kita membuka diri pada narasi sejarah lain di luar yang diajarkan pada kita di sekolahan.
Kalau bisa ngobrol sama pelaku sejarah langsung sih lebih menarik, tapi tak semua orang punya kesempatan itu.
Kita ga perlu hidup di zaman 65-66 untuk tahu rasanya jadi korban pembantaian massal. Cukup baca Pretext of Mass Murder-nya John Roosa. Ga perlu susah-susah ke negara pecahan Soviet untuk tahu rasanya dilarang pulang, cukup nonton Eksil-nya Lola Amaria.
Ga perlu jauh-jauh ke Timor untuk tahu kejahatan apa saja yang dilakukan TNI di sana, cukup baca lima jilid Chega.
Ga perlu merasa bersalah ga ikut andil dalam demo 1998, bisa ikut Kamisan dan tanya pada Bu Sumarsih, kenapa ia masih menyambangi istana saban Kamis hingga hari ini?
Sepanjang 32 tahun, militer adalah penopang kekuasaan Soeharto. Ia bertahan selama 32 tahun dengan represi, meniadakan oposisi, membungkam lawan politik, memberangus media, ya dengan bantuan tangan kanannya yakni militer.
Cara operasinya kompleks-kompleks simpel. Di tingkat elit, lewat fraksi ABRI dan Golkar, Soeharto mengunci legislatif dan eksekutif dengan pelibatan militer di semua lini.
Di tingkat akar rumput, ada Kodam, Korem, Kodim, Koramil, hingga Babinsa yang bisa diandalkan untuk menjaga tidak ada ideologi lain yang berkembang selain ideologi yang digariskan negara.
Hari ini, militerisme mungkin belum semasif dan semenakutkan itu. Tapi lihatlah hari ini, UU TNI disahkan tanpa pernah melepas draft ke publik. Bahkan setelah jadi UU saja, sampai sore draft masih nihil.
Begitu saja publik dipinggirkan dari penyelenggaraan negara. Entah aturan apa lagi nanti yang tercipta dengan cara serupa.
Hallo Mas @kaesangp apa kabar? kami dari Emerson Institute ingin mengundang Mas Kaesang selaku Ketua Umum @psi_id sebagai narsum talkshow "Gratifikasi akar dari korupsi" Sabtu 28 Sept 24 mendatang, apakah berkenan? Kami tunggu ya konfirmasinya
Selamat Jalan
Akbar
Randy
Yusuf
Bagus
Maulana Suryadi
Semoga ada keadilan atas tindak kebrutalan ini. Menurut keluarga kepala Akbar bengkak dan wajahny tak bisa dikenali. Ia dirawat dlm keadaan koma, tempurung kepala Akbar hancur dan ginjalnya bermasalah
#ReformasiDikorupsi
Buat teman2 Mahasiswa di Surabaya mungkin bisa dicontoh antisipasi apabila aparat tidak kondusif, jgn lupa juga tujuan utama, jaga sesama, jaga kesehatan, jaga demokrasi kita.
#MahasiswaSurabaya#SurabayaMenggugat#HidupMahasiswa
Pelajar² sekolah menengah di Jakarta mendemo kebijakan uang bulanan (SPP) sekolah negeri yang memberatkan, 1972. Tentara dan polisi seperti selalunya berlaku brutal.
P.S. Jadi biarkan saja bila ada yang khotbah tugas mahasiswa belajar saja. Malu sama bocah² ini. #HidupMahasiswa