"Apa yang melewatkanmu sudah pasti bukan takdirmu, apa yang menjadi takdirmu tidak akan melewatkanmu" (Ali Bin Abi Thalib)
jadi kalo yg pergi, yg meninggalkan, yg tidak baik lalu menyakiti, yg gagal, yg sudah diperjuangkan namun hasilnya gasesuai berarti memang bukan takdirmu
when lu tau lu punya potensi yang gede banget. tapi udah ga punya ambisi lagi karena energi lu udah abis cuma buat bertahan di survival mode instead of growing
Lagi rame di sebelah, ada perempuan yang dibully sama kakak kelasnya di SMA dan baru berani speak up setelah 18 tahun. Yang bikin gong pelakunya ternyata skrg jadi HR di perusahaan plat merah 🤯🤯
Lagi rame di sebelah, ada perempuan yang dibully sama kakak kelasnya di SMA dan baru berani speak up setelah 18 tahun. Yang bikin gong pelakunya ternyata skrg jadi HR di perusahaan plat merah 🤯🤯
Ternyata cape yang bertumpuk tumpuk tapi gaada obat atau sekedar penetralisirnya tuh bisa beneran bikin demotivated loh, ga heran sekarang orgorg suka overstressed
kehilangan spark itu aneh, kamu masih jadi diri kamu, tapi rasanya udah ga sehidup dulu. losing your spark slowly is scarier than being sad all at once.
Jangan biasakan ngorbanin diri sendiri cuma buat jaga perasaan semua orang.
Banyak orang sebenarnya bukan capek karena hidupnya paling berat, tapi karena terlalu nggak enakan sama siapa pun.
Maunya bilang "nggak", tapi yang keluar malah "iya".
Lagi capek, tapi tetap maksa bantu karena takut dibilang berubah.
Pengen istirahat, tapi merasa bersalah kalau lebih milih diri sendiri.
Sering minta maaf, padahal kamu nggak melakukan kesalahan apa pun.
Nangis banget baca kalimat ini:
“sombongmu dibangun dari nafas yang bahkan bukan milikmu seutuhnya. lalu untuk apa meninggi, jika satu nafas saja bisa diambil tanpa izinmu ?” 🥹😭
kalau kamu tumbuh di rumah yang setiap habis berantem cuma diakhiri dengan silent treatment lalu ga lama kamu harus langsung switch ke “nothing happened” mode, pura-pura semua baik-baik aja tanpa closure, tanpa maaf, tanpa ngobrolin, perasaan sama sekali, maka itu bukan cuma “kebiasaan keluarga”. itu adalah pelajaran paling awal yang kamu dapat soal perasaan, bahwa emosi itu mengganggu, berbahaya, dan lebih baik dipendam sendiri daripada diungkapin, dari kecil kamu diajarkan bahwa vulnerability = risiko, jadi otak kamu sekarang otomatis memilih emotional shutdown setiap kali mau open up, makanya susah banget buat bilang “aku sedih”, “aku marah”, atau bahkan “aku butuh kamu”, bukan karena kamu ga punya perasaan, tapi karena inner child kamu masih takut kalau mengungkapkan apa yang ada di hati, rumah akan hening lagi dan kamu harus sendirian dengan luka itu, ini warisan yang ga kamu pilih, tapi sekarang kamu bisa ubah.
Ternyata isi doanya udah ditahap
“Yaallah, siapapun yang berjalan ke arahku dengan niat baiknya dan dengan meminta ridha darimu permudahkanlah jalannya”