Just because a policy is intended to achieve something doesn’t mean it actually will. It often achieves the exact opposite.
Look at the incentives and the results, not just the intentions.
Good. Pertanyaan bagus. Itulah kelemahan teori konsen. Namun pertanyaan kenapa kita tetap terikat itu belum cukup, pertanyaannya harus atas dasar apa kita terikat? Apakah kamu pernah menyetujui larangan membunuh? Apakah krn tidak pernah kamu setuju kamu jadi bebas membunuh?
ngomong-ngomong soal hakim, jadi ingat ada mahasiswa yang kritis di kelas Filsafat Hukum. Ia bertanya:
👦: “Mas, kok hakim punya legitimasi besar terkait nasib seseorang, bahkan bisa merampas kebebasan serta nyawa?”
(dalam hati kagum dengan pertanyaan ini. Harus keluar istilah-istilah sulit nih, biar keliatan keren)
🤵🏻♂️: “menurut John Locke, lewat “social contract”, masyarakat meninggalkan “state of nature” dan menyerahkan “enforcer right” kepada negara. Dari consent itulah pengadilan memperoleh legitimasi.”
👦: “tapi Mas, Indonesia merdeka 1945. Saya kan baru lahir 2005. Saya tidak pernah memberi “consent” untuk kontrak sosial. Kok bisa tetap terikat?"
(tidak ingin kehilangan muka, saya berfikir keras, apa ya jawabannya)
🤵🏻♂️: “John Locke menjawabnya dengan konsep “implied consent”. Memang Saudara tidak pernah menyatakan setuju secara eksplisit. Tetapi selama tinggal di wilayahnya, serta menikmati perlindungan dan manfaat dari sistem negaranya, Saudara dianggap telah memberikan persetujuan secara tersirat untuk terikat pada hukum yang berlaku.”
👦: “tapi benarkah persetujuan yang tidak pernah diucapkan bisa disebut persetujuan, Mas?”
🤵🏻♂️: “wahh… namanya siapa, dek? Ini contoh bagus buat semuanya tentang berfikir kritis. Boleh kasi tepuk tangannya.”
***
😭😭😭
Indahnya kebebasan berpendapat. Orang² begitu percaya diri membagikan sesuatu yang tidak dia ketahui dan kuasai. Tapi atas nama kebebasan berpendapat juga, harus terima ya jika dikoreksi secara publik.😂
Kita pakai logika akal sehat.
Jika benar ijazah itu ada dan asli,mungkinkah perdamaian dan RJ akan ditawarkan seorang hakim?
Alhamdulillah
Dokter Tifa dengan tegas mengatakan tidak akan meminta perdamaian dan RJ dengan Jokowi.
Sangat jarang ditemukan wanita setangguh ini.
Semangat @DokterTifa
Kalau ada rekan dosen yg cerita kalau gajinya kecil, jangan buru-buru dikomentari “pasti karena nggak X, pasti karena belum Y, kalau saya sih Z!”
Coba direfleksikan, wajar nggak, untuk dapat gaji layak, dosen harus X, Y, dan Z dulu. Kenapa nggak bisa cukup dari gaji pokoknya?
@Puspen_PKI Wow opini yang bagus. Tapi sebelum panjang lebar sampai ke pluto pahami dulu HKI, aturan soal lisensi windows dan persepsi indonesia di mata global soal kekayaan intelektual. Setelah paham, mohon ditinjau ulang opini ini.
@BagasArdianto25@pangeransiahaan Tan menulis dalam alam pikir bahasa minang (ada juga yang bilang melayu) yang kemudian dialihkan ke bahasa indonesia.. jadi untuk memahaminya perlu memahami bagaimana orang minang merangkai kata😬🙏
Fetish orang Indonesia dengan pemeringkatan. Padahal ini mah cuma bullshit
University of Gottingen, almamaternya Oppenheimer, Max Born dan punya 47 peraih nobel, itu rankingnya di bawah UI dan UGM. Terus jadi University of Gottingen itu lebih buruk dari UI dan UGM?
"The difference between a rational man and a dogmatist is not that the latter has beliefs and the former has none. The difference is as to the grounds of the beliefs and the way in which they are held. The rational man is prepared to give reasons for his beliefs, and these reasons, except as regards values, are ultimately derived from observation of facts.
He will admit that his reasons are not absolutely conclusive, and that new facts may necessitate new beliefs. But he will be prepared to act upon a high degree of probability as vigorously as the dogmatist acts upon what he holds to be certainty.
He has, moreover, one great advantage over the dogmatist. When the dogmatist is shown to be wrong—for example, by defeat in war—he suffers a total defeat which can never befall the rational man, who has always admitted that he may be mistaken."
— Bertrand Russell