pendapat Guru Gembul soal Prabowo:
- Pecundang yang hanya menang sekali karena curang
- Pengkhianat prinsip sendiri semua kritikannya dulu kini dilakukannya
- MBG bukan untuk rakyat, tapi untuk bagi-bagi kekuasaan ke lingkar dalam
- Kabinet paling gemuk sepanjang sejarah, padahal dulu kritik kabinet SBY gemuk
- Deforestasi naik 166% padahal dulu vokal kritik SBY soal penggundulan hutan
- Paling banyak kunjungan luar negeri, padahal dulu mau coret anggaran ke luar negeri
- Anggaran kesehatan dipotong 15%, pendidikan 44% padahal janji gratis
- Dinasti politik dipeluk, padahal dulu sebut nepotisme musuh demokrasi
- Rupiah anjlok karena kebijakannya sendiri, tapi bilang rakyat desa tidak pakai dolar
- Semua program ujungnya satu: melanggengkan kekuasaan yang susah payah didapat
- dadan disalahin korupsi MBG
- padahal dia yang ngangkat dadan harusnya dia udah tahu bibit,bebet,bobotnya
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir.
Dan dia ngomongnya
bukan sebagai pembela Nadiem.
Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja.
Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah:
Ahok bilang dengan sangat tegas:
pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika.
Chromebook itu bukan laptop biasa.
Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus.
Harganya jauh lebih terjangkau
dari laptop konvensional.
Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau.
Ahok kasih contoh nyata.
Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar.
Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia.
Itu bukan mimpi.
Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada.
"Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan.
Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia."
Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat:
Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang:
"Saya pikir ini sengaja."
Logikanya sederhana dan sangat keras.
Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai.
Lebih sulit dibohongi.
Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu.
Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa.
Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan.
MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama.
Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana.
"Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus,
kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?"
Yang paling menohok soal survei dan legitimasi:
Ahok tidak berhenti di situ.
Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas.
Pemerintah melakukan survei.
Rakyat bilang mereka suka makanan gratis.
Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG.
Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan.
Tapi Ahok membaliknya:
kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata.
Itu bukan preferensi yang genuine.
Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi.
"Mereka juga pintar.
Dia survei, Pak.
Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi."
Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun:
Ahok tidak membela Nadiem secara personal.
Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah:
Menteri itu tidak pernah menyentuh
anggaran secara langsung.
Menteri membuat kebijakan.
Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya.
Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah:
apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit?
Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri?
PPATK sudah menjawab:
tidak ada.
Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun.
"Saya pikir ya ini soal profesionalisme.
Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya."
Ahok tidak sedang bicara soal
Chromebook sebagai produk.
Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa:
apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa?
MBG memberikan makan hari ini.
Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup.
Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan.
Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Guys, Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling tidak takut konsekuensi dari semua kritik yang beredar soal pemerintahan Prabowo sekarang.
Dan dia mulai dengan satu angka yang langsung bikin gue terdiam.
108 wakil menteri.
Lebih gila dari zaman Soekarno:
Soekarno terkenal dengan kabinet
gemuknya 100 menteri.
Itu sudah dicatat sejarah sebagai salah satu pemborosan birokrasi terbesar Indonesia.
Prabowo melampauinya.
108 wakil menteri saja
belum termasuk menterinya.
Ferry bilang dengan sangat datar: "Birokrasi, Bos. Wakil menteri itu 108 loh.
You can imagine ini kabinet yang lebih gila
dari zaman Soekarno."
Dan ini bukan soal gaya atau
estetika pemerintahan.
Ini soal uang.
Setiap wakil menteri punya gaji, tunjangan, staf, kendaraan dinas, protokol, dan anggaran operasional.
Dikali 108 angkanya tidak kecil.
Dan semua itu dibayar dari pajak rakyat yang sama yang katanya sedang dihemat untuk efisiensi.
Soal Purbaya Ferry akui ada yang menarik,
tapi ada yang lebih penting:
Ferry tidak membabi buta mengkritik Purbaya.
Dia mengakui keberanian Purbaya berani head to head dengan Luhut, berani buka Pandora Box soal mafia-mafia yang selama ini nyaman, berani mengakui ada kebocoran di sistem restitusi pajak.
Tapi Ferry memisahkan dengan sangat tajam antara administrasi dan kebijakan.
Memindahkan Rp200 triliun dari BI ke Himbara?
Itu administrasi.
Bukan fiscal policy.
Dan hasilnya pun menunjukkan itu: undisbursed loan di perbankan sekarang sudah hampir Rp3.000 triliun.
Bank sudah punya likuiditas berlimpah tapi kredit growth tetap jatuh dari double digit ke 7%.
Debitur tidak mau ambil kredit bukan karena tidak ada uang di bank tapi karena economic
outlook-nya tidak meyakinkan.
Bisnis tidak ekspansi di tengah ketidakpastian.
Jadi pertanyaan Ferry sangat sederhana dan sangat keras: kebijakan apa yang Purbaya tawarkan untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun ini?
Solusi Ferry dan ini yang paling provokatif:
Ferry tidak hanya mengkritik. D
ia kasih resep yang sangat berlawanan dengan narasi pemerintah sekarang.
Turunkan pajak.
Semua pajak.
PPN dari 11% ke 10%,
idealnya ke 5%.
Corporate tax diturunkan.
PPh diturunkan.
Biarkan uang itu tetap di tangan rakyat dan swasta bukan masuk ke kas negara yang menurut Ferry makin besar penerimaannya makin ngawur spendingnya.
Logikanya:
semakin besar uang yang dikuasai pemerintah semakin besar ruang untuk misallocation of resources.
Hambalang. BLBI. IKN. IKTP.
Semua terjadi bukan karena kekurangan uang
tapi karena uang yang terlalu banyak di tangan yang salah.
"The more money the government get,
itu makin kacau ekonomi kita."
Dan kalau penerimaan pajak turun spending harus dikecilkan juga.
Tidak ada jalan lain.
Defisit harus dijaga.
Negosiasi dengan kreditur kalau perlu.
Tapi cara membangun negeri ini harus berubah secara radikal dari government-driven menjadi private sector-driven.
Karena yang menciptakan lapangan kerja adalah bisnis. Bukan pemerintah.
Dan kalau bisnis punya ruang lebih besar untuk bergerak mereka yang akan menggerakkan ekonomi, bukan program pemerintah yang penuh kebocoran.
MBG salah dari awal, salah dalam desain:
Ferry tidak malu-malu:
Terus terang saja saya tidak setuju dengan program-program ultra populis macam MBG dan Koperasi Merah Putih.
Ini sudah salah dari awal."
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena desainnya tidak masuk akal secara data.
Berdasarkan data statistik hanya 7,1% atau sekitar 20 juta orang yang benar-benar dalam kondisi urgen membutuhkan perbaikan gizi.
Dari 20 juta itu, mungkin 10 juta adalah anak-anak.
Tapi program MBG dirancang untuk menyuapi 83 juta orang dengan anggaran Rp328 triliun.
Pertanyaan Ferry: "
Kenapa yang harus disuapin 83 juta orang?
Kalau memang mau fokus gizi kenapa tidak targetkan 20 juta yang benar-benar butuh,
di daerah tertinggal, dengan sistem kupon yang jauh lebih efisien?
Paling mahal 5 triliun."
Dan kemudian muncul kabar ada 11 yayasan yang ikut di dalam ekosistem MBG.
Ferry langsung tanya:
Purbaya berani tidak mengcounter ini?
Kalau berani saya cium tangannya."
Kabinet 108 wakil menteri yang lebih gemuk dari Soekarno.
Program gizi yang menyuapi 83 juta orang padahal yang darurat hanya 20 juta. Anggaran Rp328 triliun untuk program yang tidak menyentuh akar masalah.
Dan tidak ada satu kebijakan fiskal yang benar-benar radikal untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun.
Ferry tidak bilang Purbaya jahat. Dia bilang Purbaya belum cukup.
Dan selama kebijakan yang diambil masih bersifat kosmetik terapi kejut administrasi tanpa perombakan struktural yang nyata angka 8% growth yang terus digembar-gemborkan akan tetap menjadi angka yang indah di slide presentasi, bukan kenyataan yang dirasakan di dompet rakyat.
GUys ini sakit sih......
Lu pada ingat gak kemarin ada dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot tanpa penjelasan resmi,
tanpa konferensi pers,
tanpa pernyataan apapun dari kementerian?
Semua pejabat Kemenkeu kompak bungkam.
Tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
Nah sekarang setelah konpers Purbaya mulai kelihatan gambarannya.
Dan ini jauh lebih dalam dari sekadar rotasi biasa.
Ternyata ada sabotase dari dalam.
Purbaya di konpers ini mengakui secara eksplisit ada informasi yang sengaja bocor dari internal Kemenkeu untuk merusak kepercayaan pasar.
Bocoran pertama:
kas pemerintah hanya cukup 3 minggu.
Bocoran kedua:
uang negara tinggal 120 triliun dan hampir habis.
Bocoran ketiga :
dan ini yang paling gila: ada yang dari internal bilang ke investor asing:
Jangan bawa Menteri Keuangan ini ke temu investor. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan akan mengacaukan.
Itu dari internal, kata Purbaya secara langsung.
Bukan dari oposisi.
Bukan dari pengamat.
Dari dalam Kemenkeu sendiri.
Dampaknya nyata ke pasar.
Tiga informasi itu meskipun tidak akurat sudah terlanjur membentuk ekspektasi negatif di pasar.
Rupiah tertekan sebagian karena sentimen yang dibentuk oleh bocoran-bocoran itu.
Dan Purbaya harus terbang ke luar negeri,
ketemu investor satu per satu
menjelaskan bahwa kondisi fiskal kita tidak separah yang disebarkan.
Bule-bule itu bilang clear.
Investor-investor besar juga tidak menanyakan itu lagi.
Tapi kerusakan sentimen sudah terlanjur terjadi di dalam negeri.
Soal pencopotan dua Dirjen jawaban Purbaya sangat mengejutkan:
Ketika wartawan bertanya langsung apakah pencopotan itu ada hubungannya dengan bocoran-bocoran itu Purbaya menjawab:
Iya dan tidak. Ada sedikit.
Tapi ada yang lain-lain juga.
Ini adalah pengakuan implisit yang sangat jelas.
Ada sedikit hubungannya tapi bukan satu-satunya alasan.
Artinya ada akumulasi masalah yang akhirnya sampai di titik Purbaya memutuskan harus ada pergantian di level Dirjen.
Dan ada tiga masalah lain yang terungkap bersamaan:
Pertama
40 perusahaan asing tidak bayar pajak semestinya.
Mayoritas perusahaan China.
Under invoicing ekspor melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari yang sebenarnya untuk memperkecil pajak dan bea keluar.
Dua sudah dikejar dan berjanji membayar.
Tapi 38 yang lain masih berjalan normal.
Tebakan mereka benar kita tidak akan berubah.
Dan yang lebih mengkhawatirkan Purbaya mengindikasikan ada kemungkinan oknum di Dirjen Pajak yang melindungi perusahaan-perusahaan itu:
Kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga kelihatannya.
Makanya rencananya membentuk tim khusus langsung di bawah Irjen atau Sekjen bukan Dirjen Pajak.
Kedua
dokumen pajak jalan tol dan pajak orang kaya yang Purbaya sendiri tidak tahu ada.
Wartawan tanya soal dokumen rencana pajak baru yang beredar pajak jalan tol, pajak orang kaya.
Jawaban Purbaya:
Pajak orang kaya saya baru dengar kemarin.
Pajak jalan tol sama, baru tahu kemarin."
Wartawan bilang dokumen itu ada tanda tangan elektronik Purbaya.
Oh, tanda tangan elektronik ada loh.
Kadang mereka bilang 'sudah aman Pak' saya tanda tangan."
Seorang Menteri Keuangan tidak tahu ada kebijakan yang beredar atas namanya karena terlalu percaya ke staf yang bilang "sudah aman."
Ketiga
sistem IT SPT pajak yang masih bermasalah.
Wajib pajak yang sudah mengisi SPT badan datanya bisa hilang begitu saja setelah server dimatikan 15 menit untuk maintenance.
Semua isian dari awal lagi.
Purbaya bilang sudah ada yang sengaja menghidupkan lagi akses yang sudah dimatikan:
Ada orang dalam yang ngidupin lagi gitu.
Gambar besarnya dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Kemenkeu adalah kementerian yang secara eksternal paling dipercaya investor global saat ini. S&P bilang stable. IMF bilang bright spot.
Tapi di dalam:
Ada Dirjen yang diduga aktif sabotase kepercayaan pasar terhadap Menkeu-nya sendiri.
Ada 40 perusahaan asing yang tidak bayar pajak semestinya dengan indikasi ada yang melindungi dari dalam Dirjen Pajak.
Ada kebijakan yang ditandatangani Menteri tanpa Menteri benar-benar tahu isinya.
Ada sistem IT yang masih bisa disabotase dari dalam.
Dan Menkeu yang paling dipercaya investor global ini masih harus berperang melawan sistemnya sendiri dari dalam.
Kalau Kemenkeu saja masih seperti ini bayangkan kondisi di kementerian lain yang tidak mendapat sorotan sebesar ini.
sungguh sakit ini negeri kita
At the National Museum of Serbia is this painting from 1595. It is a representation of the Serbian Orthodox Bishop of Vršac Teodor being skinned alive by Ottoman Turks.
A common practice, it was mainly carried out on Christians who refused to convert to Islam.
Egyptian Coptic Christian woman to Islamist preacher in Sweden:
“We had to pay jizya so we could keep our Christian faith. We fled our homeland due to persecution.
You consider this an infidel land, yet you live here on welfare!
Go back home! You look like a terrorist.”
Kini saya melihat, tauladan kepemimpinan yg baik ada dlm sikap Presiden Habibie. Dia bukan hanya membuka pintu bagi pers yg bebas, tapi tahu akan batas berkuasa.
Habibie turun tahta tanpa heboh dan cari akal untuk tetap berkuasa dgn merusak kepercayaan kpd mahkamah konstitusi dan mendudukkan ansknya jadi wakil presiden,
Setelah tak lagi menjabat, ia tak sibuk jadi jurkam salah satu calon. Dia menjaga agar bangsa kita tak berlanjut dlm perseteruan politik.
Se
The 'Golden Age' of Islam?
Muslims often speak of a “golden” age of Islam during which science, medicine, the arts, philosophy, and civilization were highly developed. At this time, Europe was still in the Dark Ages.
This period is known as the Islamic Golden Age and lasted from 790 to 1258. During this period, Arab culture placed high importance on education. The first public universities were founded in Baghdad, where philosophy and literature were studied.
Muslim apologists always claim that this Golden Age of Islam proves that Islam is compatible with science, technology, and an advanced civilization!
But this claim is a BLATANT LIE!
There never was a Golden Age of Islam, but there was a Golden Age of Arab civilization!
When the Arabs turned away from Islam and turned toward ancient Greek works on science, philosophy, mathematics, and medicine, they developed their own sciences and technologies to a very high degree. The Arabs also managed to develop their own math, namely Algebra.
Many Islamic scholars, including al-Ghazali, the greatest and the most famous Islamic theologian, felt that science was causing Islam to decline. Arabs started turning away from Islam!
Al-Ghazali and the other clerics managed to persuade the Caliph to ban science, the critical questioning of Islam, freedom of thought, freedom of speech, and any artistic form that contradicted Islam!
Many Arab scientists were persecuted and imprisoned, and their works were burnt! Many other Arab, Christian, and Jewish scientists escaped to Europe with their works and writings.
The introduction of Sharia (Islamic laws) and the persecution of scientists and science in general all resulted in the decline of the Golden Age of Arab civilization!
Muslims claim that their Arab’s golden age ended with the fall of the Abbasid caliphate around 1258. They blame the Mongol invasions and the takeover of the city of Baghdad.
This Golden Age is traditionally understood to have begun during the reign of the Abbasid caliph Harun al-Rashid (786 to 809) with the inauguration of the House of Wisdom, which saw scholars from all over the Muslim world flock to Baghdad, the world's largest city by then, to translate the known world's classical knowledge into Arabic and Persian. The period is traditionally said to have ended with the collapse of the Abbasid caliphate due to Mongol invasions and the Siege of Baghdad in 1258.
During the early 20th century, the term was used only occasionally and often referred to as the early military successes of the Rashidun caliphs.
It was only in the second half of the 20th century that the term came to be used with any frequency, now mostly referring to the cultural flourishing of science and mathematics under the caliphates during the 9th to 11th centuries (between the establishment of organised scholarship in the House of Wisdom and the beginning of the crusades), but often extended to include part of the late 8th or the 12th to early 13th centuries. Definitions may still vary considerably.
Equating the end of the golden age with the end of the caliphates is a convenient cut-off point based on a historical landmark, but it can be argued that Islamic culture had entered a gradual decline much earlier; thus, the proper golden age as being the two centuries between 750 and 950, the beginning loss of territories under Harun al-Rashid worsened after the death of al-Ma'mun in 833, and that the crusades in the 12th century resulted in a weakening of the Islamic empire from which it never recovered.
Openness to diverse influences – during the Golden Age of the Arabs.
During this period, the Muslims showed a strong interest in assimilating the scientific knowledge of the civilizations that had been conquered.
Many classic works of antiquity that might otherwise have been lost were translated from Greek, Syriac, Middle Persian, and Sanskrit into Syriac and Arabic, some of which were later in turn translated into other languages like Hebrew and Latin.
The Christian physician Hunayn ibn Ishaq lead the translation of works
Christians, especially the adherents of the Church of the East (Nestorians), contributed to Islamic civilization during the reign of the Umayyads and the Abbasids by translating works of Greek philosophers and ancient science to Syriac and afterward to Arabic.
They also excelled in many fields, in particular philosophy, and science (such as Hunayn ibn Ishaq, Yusuf Al-Khuri, Al Himsi, Qusta ibn Luqa, Masawaiyh, Patriarch Eutychius, and Jabril ibn Bukhtishu]) and theology.
For a long period, the personal physicians of the Abbasid Caliphs were often Assyrian Christians.
Among the most prominent Christian families to serve as physicians to the caliphs was the Bukhtishu dynasty.
Throughout the 4th to 7th centuries, Christian scholarly work in the Greek and Syriac languages was either newly translated or had been preserved since the Hellenistic period. Among the prominent centers of learning and transmission of classical wisdom were Christian colleges such as the School of Nisibis and the School of Edessa, the pagan center of learning in Harran, and the renowned hospital and medical Academy of Gondishapur, which was the intellectual, theological and scientific center of the Church of the East.
Many scholars of the House of Wisdom were of Christian background and it was led by Christian physician Hunayn ibn Ishaq, with the support of Byzantine medicine. Many of the most important philosophical and scientific works of the ancient world were translated, including the works of Galen, Hippocrates, Plato, Aristotle, Ptolemy, and Archimedes.
Islam and especially Sharia are destructive to nations. They cause nations to regress. Most Islamic nations, including the moderate Muslim majority nations, are all beset with the same socio-economic and political problems! The impact of Islam, especially of Sharia, is always very negative and regressive.
Islam, with its emphasis on polygamy, encourages Muslims to have as many children as possible so that they can fill the whole world with Muslims! Then, they will be able to impose Sharia onto the whole world.
Islamic scholars tell us that this would make the world an “Islamic” paradise! They tell us that countries with Sharia, Allah’s laws, are “Islamic paradises”!
Scientific teachings that contradict the Quran/Islam are banned in most Muslim-majority nations! Education for girls is banned in Afghanistan.
"Israel was created & given Independence by the British on 1948, the same way Jordan was given Independence 1946.
Why did the Arabs attack Israel after the Jordanian Guerrillas failed in their attack on Israel? Any way the Six Day war was fought, the team of Syria, Egypt & Jordan lost the War.
EGYPT lost GAZA to Israel, SYRIA lost GOLAN HEIGHTS to Israel, Jordan lost West Bank to Israel.
Question: Where did so called Palestinians come from, if not rejected elements from Jordan & Egypt laying claims to the Land of Israel?
PALESTINE is a ruse, don't listen to them.....Let them go back to JORDAN & EGYPT. BRITAIN should emphasis on what was created between 1946-1948. Whatever land they lost at war, it is gone...Forget it! Rather WEST BANK goes back to JORDAN (even JORDAN will not take that risk)."
~ 🇳🇬💎King Oge 💎 @KvngTRox
Kapan lagi bisa ngajak Jensen Huang, si manusia Rp2000 triliun, nongkrong di Blok M dan makan gultik. Founder dan CEO NVIDIA ini juga ngobrolin banyak soal AI di Mata Najwa.
Nonton ya Mata Najwa bareng Jensen Huang, si “Taylor Swift”-nya teknologi.
SEGERA di YouTube Najwa Shihab dan website Narasi.
| Mata Najwa
#MNJensenHuang #MataNajwaJensenHuang #NVIDIA
🚨Setelah pertandingan Supporter Jepang membersihkan Tribun.
Supporter Jepang memang terdepan soal moralitas dan peduli lingkungan nya, respect sebesar besarnya sama raja terakhir Asia.🇯🇵👏
Timnas Bagus, Supporter nya TOP👏
(ig/urbansneakersociety)
Pemutaran dan Diskusi Film di @AsiAfricaMuseum
To Live (1994) yang disutradarai oleh Zhang Yimou, merupakan sebuah drama yang mengisahkan Xu Fugui, seorang penjudi yang kehilangan segalanya dan mau tak mau harus beradaptasi dengan kehidupan yang miskin.