Gw punya temen namanya si A, tinggal di Bekasi kerja di Sudirman.
Senin sampai Jumat rutinitasnya sama terus.
Bangun setengah lima pagi.
Siap siap.
Berangkat sebelum jam enam karena kalau kesiangan macetnya tidak manusiawi.
Sampai kantor jam tujuh.
Kerja sampai jam lima sore.
Sampai rumah jam tujuh atau delapan malam.
Dua jam lebih di jalan.
Tiap hari.
Pulang pergi.
Dan ini bukan keluhan dia ini memang realita yang dijalani jutaan orang yang tinggal di penyangga Jakarta setiap harinya.
Jadi waktu weekend datang orang lain mungkin langsung mikir mau hangout ke mana.
Si A mikir hal yang berbeda.
Sabtu pagi dia bangun siang.
Tidak ada alarm.
Tidak ada jadwal.
Buka Netflix yang episodenya sudah lama tidak dilanjutin.
Siapkan snack.
Dan tidak kemana mana sampai Minggu malam.
Dan dia bahagia.
Genuinely bahagia.
Bukan karena dia antisosial.
Bukan karena tidak punya teman.
Tapi karena dia paham persis apa yang paling dia butuhkan setelah lima hari menguras energi di jalan dan di kantor.
Kita hidup di kota yang desainnya tidak ramah waktu. Jarak rumah ke tempat kerja yang tidak masuk akal. Transportasi yang belum cukup untuk semua orang. Dan budaya kerja yang masih menganggap hadir lebih awal dan pulang paling telat sebagai tanda dedikasi.
Akibatnya banyak orang yang secara fisik ada di rumah tapi energinya sudah habis sebelum sampai pintu.
Dan weekend bukan lagi soal hiburan atau eksplorasi.
Tapi soal pemulihan.
Jadi kalau ada yang nanya memang ada orang yang genuinely senang di rumah seharian sendirian tanpa ketemu siapapun?
Jawabannya ada.
Banyak malah.
Dan mereka bukan aneh atau kurang pergaulan.
Mereka cuma orang yang sudah terlalu lelah oleh perjalanan yang bahkan belum dimulai sebelum matahari benar benar terbit.
Gw baca list ini dan jujur reaksi pertama gw bukan kagum.
Tapi sedih.
Bukan karena listnya salah. Tapi karena hal hal yang ada di list itu — taat agama, gak selingkuh, bertanggung jawab, gak pemarah itu bukan kasta tertinggi.
Itu harusnya standar minimum.
Tapi kenyataannya di 2025 cowok yang gak selingkuh aja udah dibilang langka. Cowok yang gak main judi online aja udah dianggap istimewa. Cowok yang bisa ngontrol emosi aja udah masuk kategori susah dicari.
Dan itu yang sebenernya bikin miris.
Bukan perempuannya yang terlalu demanding. Tapi standarnya udah turun begitu jauh sampai hal hal basic itu terasa seperti pencapaian luar biasa.
Bayangin kalau list yang sama dibuat buat perempuan gak selingkuh, bertanggung jawab, gak pemarah, punya tujuan hidup.
Orang akan bilang ya iyalah, emang harusnya gitu.
Tapi kalau cowok yang punya kualitas itu dia masuk kasta tertinggi.
Kita gak lagi ngejar yang terbaik. Kita lagi bersyukur sama yang gak mengecewakan.
Dan itu kenyataan yang lebih perlu dibahas daripada list kastanya.
im FOREVERRRRRRRR praying that i get my fairytale ending.. the dream career. the financial freedom. the friends. the family. the peace. the love... just everything tht i truly & genuinely deserve
Oh this is so true. Sebenci-bencinya cewek sama laki-laki as a system, mereka ga bakal sampai menghilangkan nyawa orang.
Beda sama laki. Egonya kesenggol dikit aja udah ngancem-ngancem mau bunuh cewek.
Even data statistik aja buktiin kalau kekerasan based on gender lebih banyak dilakukan sama laki-laki.
I didn’t call my husband crying.
I called him angry.
It was 11:47 PM. I was sitting on the kitchen floor, laptop open, staring at an email that said my contract wasn’t being renewed. Just like that. Two years of overtime, weekends, skipped holidays — gone in one paragraph.
When he answered, I didn’t even say hello. “I lost my job.”
Silence. Not the awkward kind. The steady kind.
He said, “Okay. I’m coming home.”
He was on a night shift. I told him not to. I said I didn’t want him to risk it. I said I was fine.
He said, “You’re not.”
Twenty minutes later, I heard the door.
He didn’t try to fix it. Didn’t start giving solutions. Didn’t say, “You’ll find something better.” Didn’t minimize it.
He just sat on the floor with me.
He ordered food because he knew I hadn’t eaten. He closed my laptop because he knew I’d keep rereading the email. He made a list the next morning not of jobs for me but of bills he could cover alone “for as long as it takes.”
The next week, I found out he had quietly moved money from his personal savings into our joint account.
Not because I asked.
Because he anticipated.
Months later, when I apologized for being “a burden,” he looked genuinely confused.
“We’re married,” he said. “There is no yours and mine when things fall apart. There’s just us.”
That’s when I understood something about marriage.
It’s not about who plans the best anniversary or posts the sweetest captions.
It’s about who sits on the kitchen floor with you when your world collapses.
It’s about who absorbs your panic without adding their own.
It’s about who turns “your problem” into “our plan.”
Marriage isn’t loud.
It’s steady.
And when it’s real, you don’t have to beg someone to show up.
They already grabbed their keys.
So sick of the normalisation of the phrase
“Can’t make a wife out of a hoe”
Funny there’s no equivalent about men. Let’s make some.
Can’t make a husband out of a rapist
Can’t make a father out of a loser
Can’t make a boyfriend out of a bellend
Can’t make a partner out of a perpetrator
Can’t make a fiancé out of a fuckboy
Can’t make a husband out of a misogynist
Let’s see if any of those get into a top 10 hit.
laziness can kill a relationship. no you're not cheating, but there's also no flowers, no surprises, no appreciation posts, no sweet messages, no dates (unless your s/o practically begs you for them). so yes, the truth is laziness CAN slowly kill love. sometimes simply being loyal just isn't enough.
dating a first born daughter is by far one of the best decisions you can make as a man...
dating a firstborn daughter is like having a woman built for war. she’s independent because she had no choice. she’s resilient because she had to be. she’s nurturing because she raised her siblings.
she’s loyal because she values responsibility. she doesn’t fold under pressure....she thrives in it.
bitch i was depressed for months, nobody noticed. i still showed up for people even when i didn’t know how to show up for myself. that’s why i don’t buy the whole “i was going through something” excuse for treating people badly. we’re all going through something
Girls in their 30s be like, “OMG I’m so behind,” but meanwhile they’ve healed their inner child, stopped people pleasing, left that toxic job, started therapy, learned to enjoy their own company, travel when they want, and actually like themselves now. Like sis. You’re not behind at all. You’re evolving.
@BanyuSadewa Adalagi yg aku sering denger di lingkunganku, cwo umur 28+ belum nikah pasti kata²nya "udh umur segitu nikah BIAR ADA YANG NGURUSIN, biar di ada yg nyetrika, ada yg masakin di rumah" deymmm cewe suruh ngurusin cowo mulu njirrr
Gw aja males nyuci baju sendiri