Buat Gen-Z yang atasannya micro-manage aku punya tips ofis politik yang etis:
> Balas atasanmu dengan micro update. Semua task kecil update ke atasanmu itu, selalu minta review, feedback evaluasi detail dalam bentuk pertanyaan tertulis, email.
> Kalau perlu sebelum mulai selalu alignment. Kasih ide kamu + tanya atasanmu mau gimana. Tanya yang detail sekecil mungkin. Setelahnya, setiap detail kecil yang udah dikerjain, mintain evaluasi dan feedback.
> Kuat-kuatan mental aja siapa yang paling mampu micro. Most of the time itu atasanmu yang nyerah duluan + atasan micromanage biasanya gak begitu bisa kerja.
> Kalau atasan ga nyerah juga? Saat performance review sampaikan aja atasan micromanage tapi tiap kali kamu minta feedback, dia ga jawab. Jangan lupa lampirkan bukti email. Next stepnya minta untuk tidak micromanage lagi.
> 100% works ya. Tapi tips ini tidak berlaku untuk perusahaan keluarga, BUMC, BUMN, BUMD, dan usaha tidak terstruktur.
Silakan dicoba. :)
Di masa UIN Raden Fa**h masih berbentuk IAIN, salah satu dosennya pernah bilang "Kalau bukan karena moral dan agama, ada jutaan warga negara ini yang lebih baik dihilangkan nyawanya karena gak ada gunanya."
Kejam 🗿
Dear pejabat-pejabat yang suka simbolisme pride, dignity, dan sebagainya, kalian pada nggak kepikiran buat mengganti name code "CGK" dengan "JKT" aja?
Bagus buat brandingan internasional dan mudah dikenali sama orang awam, termasuk yang internasional.
Yok bisa yok, "JKT" lagi.
Srawung itu khas masyarakat agraris.
Dalam konteks masyarakat yang modern sekarang, ini sudah sulit dipertahankan.
Bukan berarti masyarakat gak bisa akrab, tapi modelnya harus berubah.
Dulu pernah dengan cerita satu kompleks di bilangan Kemanggisan yang bikin acara BBQ, bakar jagung, ayam dsb, untuk ajang kumpul2 warga sambil ngobrol. Ini mungkin lebih pas untuk masyarakat modern sekarang, bukan ngumpul untuk rapat RT/RW, karang taruna, kerja bakti, dst.
Gua mau berpendapat soal ini.
https://t.co/1eqRJVUY2X
Ketika dilantik as RT, gua dikasih tau bahwa ada beberapa warga yang selama ini memang kurang responsif. Kumpul2 warga gak datang, gotong royong tidak hadir, iuran sampah pun tidak.
Hal pertama yang gua lakukan adalah klarifikasi. Datang ke rumah warga yang tidak responsif, dan ngobrol2. Karena gua pikir, perlu tau duduk perkaranya.
Ternyata, masalah utama bukan mereka tidak mau berkontribusi. Kondisinya macam2, seperti Kepala Keluarga yang kerjanya di luar pulau, habis kena PHK, dan lain-lainnya gua gak bisa cerita disini.
Jadi, hidup dalam bermasyarakat, empati itu penting. Kondisi setiap keluarga itu berbeda2 dan tidak bisa dipukul rata. Kalo ada tetangga kalian yang kurang aktif, peran RT adalah kunjungi rumahnya. Cari tau alasannya.
Pasang spanduk kayak gitu, menurut gua tidak elok. Karena terkesan RT/RW disitu tidak mau memahami kondisi warganya.