Aku masih menunggu disini, masih menunggu terjadinya kondisi seperti yang kamu katakan di depan kediamanmu sore itu. "Semuanya bakal kembali baik-baik saja seperti biasa kok," ucapmu sore itu. Maka, aku disini masih menunggu perkataan mu itu.
if you really want us to happen, let me help you. let me camp out inside your head, and we’ll figure everything out together. you’ll always have me. if not, then i’m sorry, i can’t be treated like this. i know it’s hard, but what can i do if you won’t let me help you?
selalu menyalahkan avoidant attachment lah atau apa lah. belajar secure terhadap diri sendiri dong kamu juga. jangan mau nya di ngertiin terus. belajar jadi lebih baik juga kamu nya jangan ngandelin satu pihak doang.
kalo aku harus selalu ada buat kamu ketika kamu butuh, kamu juga harus selalu ada ketika aku butuh. jangan egois. kecuali kalo kamu emang gamau belajar untuk jadi lebih baik dan pengen nya bersembunyi di balik kata avoidant attachment. bye-bye aja.
Aku menolak percaya bahwa kesalahpahaman sederhana ini bisa memisahkan kita.
Kita sering dihadapkan dengan dengan masalah yang berat tapi tidak pernah memisahkan kita. Mengapa hal sekecil ini bisa memisahkan kita?
Kita saling sepakat bahwa kejadian kemarin adalah kesalahpahaman. Kita saling memaafkan. Tapi sikapmu kepadaku tetap sama. Berarti kesalahpahaman kemarin bukanlah alasannya.
Ketika aku bersamamu aku merasa abadi dan tidak akan pernah mati. Setiap menit, setiap detik, hingga setiap tarikan napas ini seolah tidak akan menemukan akhirnya. Abadi.