@themedikusz buku dengan topik yang ringan dan mudah untuk dicerna, atau yang isinya cukup menarik untuk dijadikan topik pembahasan jangka panjang.
Cukup lama dirinya berdiam di sana, sibuk memilih-milih bacaan dari judul yang tertera.
@themedikusz yang berada di beberapa tempat.
“Terima kasih, dokter Luuk.” Senyum kembali terpatri pada wajah rupawan sang pengelana sebelum tungkai kaki membawanya mendekati salah satu rak buku secara acak — sebab tak ada buku spesifik yang ingin ia cari. Mungkin ia akan membaca
@themedikusz menengadahkan kepalanya, memandang manik kembar kemerahan sang dokter untuk sesaat sebelum menjawab, “Aku bisa berjalan sendiri.” Sebab ia sadar, perpustakaan ini tidaklah seperti ruang klinik yang aksesnya bisa diatur oleh Luuk sesuka hati. Di sana, siapa pun dapat memergoki
@themedikusz di antara mereka berdua ketika ruang klinik ditinggalkan. Atas izin dari Luuk, kedua lengannya melingkar memeluk leher sang dokter, sementara kepala ia sandarkan pada satu sisi dada bidangnya. Entah mengapa, ia merasa tak apa-apa jika harus menunjukkan sisi rentan dirinya.
@themedikusz bisa apa dirinya, selain membiarkan ia dibawa menuju destinasi?
Ahem. Ahem. Tenangkan dirimu, Rover.
“Kalau terasa berat,” jeda sejenak, biarkan ia menenangkan jantungnya dulu. “Turunkan saja aku, dokter.”
@themedikusz dipungkiri bahwa gestur yang tiba-tiba itu sempat membuatnya sedikit panik, terlihat dari bagaimana ia mencengkram erat pundak Luuk.
“Eh—” Sungguh, dirinya yang selalu tampak tenang itu pun tak berkutik jika berhadapan dengan resonator berambut pirang itu. Kalau sudah begini,