Kadang sudah bersyukur dengan apa yang telah dimiliki.
Kadang merasa, โahhh, sebenarnya masih bisa mengejar hal besar di luar sana dan tidak terjebak di ruang terbatas ini.โ
Titik dua (:) mengantarkan perincian. Titik koma (;) memisahkan bagian kalimat yang setara.
Titik dua bisa diganti dengan โyaituโ.
- Saya aktif di tiga medsos: X, Instagram, dan LinkedIn.
- Saya aktif di tiga medsos, yaitu X, Instagram, dan LinkedIn.
Titik koma bisa diganti dengan konjungsi.
- Saya aktif di tiga medsos; dia aktif di semua medsos.
- Saya aktif di tiga medsos, sedangkan dia aktif di semua medsos.
Pengulangan kata atau frasa pada awal kalimat disebut anafora. Ketika digunakan dengan tepat, anafora dapat membuat pidato terasa kuat secara retoris.
Contoh paling terkenal ialah pengulangan โI have a dreamโ dalam pidato legendaris Martin Luther King Jr.
Namun, seperti banyak gaya bahasa lain, anafora perlu takaran. Jika dipakai terlalu rapat, pidato justru dapat terdengar monoton karena tekanan yang sama diberikan berulang-ulang, misalnya "Terlalu lama ..." dan "Bangsa yang ...".
Pendengar bahkan bisa merasa bahwa pidato sedang diulur-ulur.
#tanpamenyebut
Guru atau dosen kita mungkin pernah melarang mengawali kalimat dengan "dalam" atau preposisi lain. Mereka tampaknya khawatir kalimat kita kehilangan subjek seperti contoh di bawah ini.
- Dalam penelitian ini menemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
- Menurut penelitian Rizal (2023) menemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
Penghilangan preposisi di awal kalimat memang membuat kalimat menjadi lebih lugas.
- Penelitian ini menemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
- Penelitian Rizal (2023) menemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
Namun, kalimat sebenarnya boleh saja diawali preposisi ketika bagian itu merupakan keterangan.
- Dalam penelitian ini, kami menemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
- Dalam penelitian ini, ditemukan pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan. โ
Perangkaian kalimat itu lentur asal kita tahu caranya.
Walah, ini panjang penjelasannya. ๐
Istilah "teknik" kita warisi dari bahasa Belanda "techniek" yang juga ambigu: satu kata untuk dua makna sekaligus (technique dan engineering). Mereka sendiri tidak punya satu kata generik untuk engineering. Mereka mengatasinya dengan kata spesifik per bidang yang panjang-panjang, seperti werktuigbouwkunde (teknik mesin) dan elektrotechniek (teknik elektro).
Secara makna, technique (teknik) dan engineering (rekayasa) memang berbeda. Perubahan ini sudah benar meski penerimaannya memang butuh waktu.
Keributan yang muncul sekarang disebabkan dua hal yang berbeda: polisemi dan inersia. Pertama, rekayasa bisa bermakna negatif (persekongkolan) dan makna itu sudah cukup kuat di benak penutur. Kedua, teknik sudah terlanjur menjadi penanda identitas profesi selama puluhan tahun.
Saya "anak teknik" dari "Teknik Kimia". Saya perlu waktu untuk membiasakan diri dengan istilah "anak rekayasa" dan "Rekayasa Kimia". Namun, "rekayasa genetika" juga sudah tidak aneh sekarang, kan?
Kalkulator mengambil alih kemampuan berhitung. Buku alamat mengambil alih kemampuan mengingat. GPS mengambil alih kemampuan bernavigasi.
Kita baik-baik saja.
Kini AI generatif tiba. Apakah kita akan tetap baik-baik saja?
Dimanapun tepatnya, bekerja itu untuk mendapat cuan dari tempat kita bekerja.
Lah ini malah kita yang disuruh ngasih cuan ke tempat kerja. Kalau dihitung bisa setara UMR Solo.
Ncen, logika yang tidak normal.