Tahun ini, makna Idul Adha yang paling mendalam bagi saya adalah: keikhlasan untuk mengorbankan kenyamanan, ego, dan hal-hal duniawi demi menegakkan kebenaran dan keadilan yang diajarkan oleh Rasulullah.
Mari kita kalahkan godaan duniawi dengan memperkuat ketaatan pada Allah SWT, meneladani keteguhan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang dicerminkan dengan begitu indah dalam Hari Raya Qurban. Selamat Hari Raya Idul Adha bagi Umat Islam tercinta di mana pun berada… 🤲🏼🙏🏼🤍
This year, the deepest meaning of Eid al-Adha for me is the sincerity to sacrifice personal comfort, ego, and worldly attachments for the sake of upholding the truth and justice taught by the Prophet.
Let us overcome worldly temptations by strengthening our devotion to Allah SWT, emulating the steadfastness of Prophet Ibrahim AS and Prophet Ismail AS, which is so beautifully reflected in this Feast of Sacrifice. Wishing a blessed Eid al-Adha to our beloved Muslim brethren everywhere… 🙏🏼🤍🤍
Jumat, 11 Juli 2025.
Hari itu seharusnya bukan hari yang sunyi.
Biasanya, setiap langkah saya ke Polda Metro Jaya diiringi riuh suara, aktivis, wartawan, kamera, pertanyaan, dan energi perlawanan yang hidup. Ada solidaritas. Ada saksi. Ada keberanian yang terasa kolektif.
Tapi hari itu, berbeda.
Saya datang sebagai Saksi yang statusnya dinaikkan menjadi Terlapor. Sebuah transisi yang bukan sekadar administratif, tetapi penuh tekanan, sangat menekan batin dan jiwa.
Siapapun yang mengalaminya, pasti mengharapkan dikawani dengan kebersamaan.
Tetapi pagi itu, hanyalah keheningan.
Tidak ada kerumunan.
Tidak ada wartawan. Tidak ada aktivis yang biasa berdiri di samping saya.
POLDA yang biasanya hingar bingar, mendadak seperti ruang hampa.
Sunyi yang tidak alami. Sunyi yang terasa “diatur”. Belakangan saya memahami, itu bukan kebetulan. Ada “perintah”. Ada mulut tak terlihat yang melarang siapa pun datang. Melarang kehadiran. Melarang solidaritas. Melarang liputan. Seolah-olah hari itu harus saya jalani dalam kesendirian. Seolah-olah saya harus dibuat tampak sendirian.
Pemeriksaan berjalan. Waktu terasa panjang, tapi saya tahu ini bukan sekadar soal hukum. Ini soal tekanan. Soal pesan. Soal siapa yang boleh bersuara, dan siapa yang harus dibungkam.
Ketika semua selesai, saya melangkah keluar.
Di bawah pohon besar yang biasanya menjadi saksi kebersamaan kami, di seberang Ruang Tahanan POLDA, tempat kami berdiskusi, dan saling berbagi semangat dan bara,
Hari itu, pohon itu juga “sepi”. Tapi tidak sepenuhnya kosong.
Ada dua orang duduk di sana. Menunggui saya keluar dari ruang pemeriksaan.
Rismon. Dan istrinya, Vivian.
Hanya mereka.
Di tengah larangan. Di tengah tekanan. Di tengah situasi yang membuat banyak orang memilih menyingkir dari saya, Mereka hadir.
Dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: keberanian untuk tetap berdiri di saat yang lain dipaksa mundur.
Sementara yang lain, tak berkutik. Bukan karena tidak peduli. Tetapi karena takut. Karena ditekan. Karena ada garis tak kasat mata yang hari itu tidak boleh dilanggar.
Dan di momen itulah saya memahami satu hal: Dalam perjuangan, yang tersisa bukanlah jumlah. Tetapi siapa yang tetap berdiri ketika semua dipaksa pergi.
Karena itulah, karena kenangan itulah, saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa Rismon adalah penyusup.
Saya melihat sendiri. Saya mengalami sendiri. Di saat semua orang menghilang atau dipaksa diam, dipaksa menjauuh, Rismon justru datang. Menemani. Membersamai.
Itu bukan sikap seorang penyusup. Itu sikap seseorang yang pernah memilih untuk setia.
Maka ketika hari ini banyak yang menilai, menuduh, bahkan menghukumnya tanpa ruang, saya memilih melihat lebih dalam.
Saya percaya, apa yang terjadi bukanlah pengkhianatan yang sederhana. Bukan hitam-putih. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di baliknya.
Cinta.
Cinta yang luar biasa pada belahan jiwanya. Yang puluhan tahun ini menemaninya kemanapun pergi. Cinta yang mungkin membawa beban masa lalu, sebuah kesalahan yang pernah terjadi, yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan dalam tekanan, dalam situasi yang tidak semua orang pahami, dia mungkin terpaksa mengambil langkah yang dari luar terlihat seperti “berbalik arah”. Padahal bisa jadi. itu adalah bentuk lain dari bertahan. Bukan karena dia tidak tahu mana yang benar. Tetapi karena ada hal yang lebih dalam yang sedang ia lindungi.
Kita sering lupa, bahwa di balik setiap keputusan yang tampak “aneh” di permukaan, ada pertarungan batin yang tidak terlihat. Dan tidak semua orang cukup kuat untuk melewatinya tanpa luka.
Tetapi begitulah dunia politik bekerja. Dan itu saya pahami dengan baik.
Assalamualaikum... mohon info juga bantuannya mengapa app Tafsir Al- Mishbah @quraishihab di android saya hari ini, ternyata log out dengan sendirinya dan tidak dapat login kembali @PSQonline
Even with a thousand proofs of another’s lie, those who choose comfort or close their eyes will never see the truth.
•someone else is #lying and doing #fakediploma
Hasil autopsi mengungkapkan, ada lebih dari 40 kilogram sampah di perut paus muda ini. Meliputi kantung plastik belanja, empat karung pisang, dan 16 karung beras.
https://t.co/2AGT3J0RUR
Benua-benua yang ada di Bumi sebenarnya merupakan patahan-patahan lempeng batuan yang bergerak, bahkan termasuk yang ada di bawah laut. Inilah yang dikenal sebagai Lempeng Tektonik. https://t.co/UEiqVCnMHp
Dilihat dari posisinya, Pulau Jawa itu cenderung tegak lurus, sedangkan Pulau Sumatera miring. Saat tertabrak lempeng, yang posisinya miring cenderung sensitif bergerak dibandingkan yang tegak lurus. https://t.co/bvMEmHlyNg
Sebagian besar orang berenang di kolam renang umum. Tapi pernahkah terbesit pertanyaan di benak Anda, berapa banyak urine yang mungkin terkandung di dalamnya? https://t.co/JbJTTn9z5g
@hodopurwoko@gojekindonesia Ceritanya @hodopurwoko bagus bgt tentang semangat seorang gojek cari nafkah di jalan.. tapi era digital saat ini seringkali balasannya jadi template dan apa adanya jadi gak sebanding sama penghargaannya
@gojekindonesia tolong bahasanya lebih sesuai dengan konteks dan kontennya