Koperasi yang saya tahu:
1) Dimodalin dengan iuran anggota
2) Usahanya dijalankan oleh anggota
3) Jenis usahanya ditentukan oleh anggota: misal Koperasi Simpan Pinjam atau Warung Sederhana, tergantung mana yang profitable.
4) Profitnya dibagikan ke anggota lewat sisa hasil usaha (SHU)
5) Sebagian dipakai buat lanjutin usaha.
Digaung-gaungkan oleh Hatta waktu itu, karena bikin rakyat independen dan mandiri.
Koperasi desa merah putih:
1) Dimodalin APBN, banyak pula
2) Usahanya dijalankan oleh Parjo, sampai manajer yang direkrut disuruh latian militer
3) Jenis usahanya ditentukan oleh pemerintah: mini market, mau ngalahin Indomaret sama Alfamart
4) Emang ada profitnya? Minimarket dibangun di tengah sawah sama di hutan gitu?
5) Kalaupun ada profitnya gak tau dikemanain,
Koperasi macam apa itu?
#intinyadeh dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta dipecat abis lapor dugaan publikasi jurnal predator ke Kemendiktisaintek, libatkan belasan dosen, pejabat kampus, guru besar.
Sempet dipanggil Rektorat, dibilang rusak nama baik kampus, alih2 dilindungi sbg whistleblower.
(1/2)
Sedang menunggu cuitan dari leftist-leftist berkulit putih penghamba Cina dan Rusia yang mengatakan bahwa demo-demo mahasiswa di Indonesia itu didalangi oleh CIA, NED, dan Open Society Foundation
liat di threads tadi ada kak gabriellaocv, yg ngenotice ada orang di atas gedung
Ngeliat mahasiswa demo ❌
Mencari org org sus di atas gedung ✅
So far uda nemu 3 org di pinggir gedung tinggi, di atas Hotel Indonesia, UOB, Graha Mandiri
Kalau tidak bisa turun aksi hari ini, boleh ikut berdonasi untuk bersolidaritas dan saling jaga.
Ada beberapa QRIS yang udah dikumpulkan oleh teman-teman Social Justice Indonesia, buat donasi ke:
1. LBH Jakarta, yang biasanya advokasi utk teman-teman yang dikriminalisasi;
2. LBH APIK, untuk teman-teman perempuan;
3. LBH Masyarakat, untuk teman-teman dari kelompok marjinal.
Jatah kopi hari ini bolehlah kita sisihkan untuk bersolidaritas😄
Makanya aku dukung ada perkawinan sipil sekuler & aku tolak pemidanaan hubungan seksual di luar ikatan perkawinan yang sah.
Yang kena tuh kelompok marjinal lagi. Contohnya ya begini 👇
Sebagai orang yang pro-aborsi, gue tau kalo sebenernya di banyak kota-kota di Indonesia ada komunitas yang bisa bantuin perempuan yang hamil tidak direncanakan (baca: aborsi). Komunitas ini akan ngedampingin, ngejagain kesehatan fisik maupun mental, dan mastiin perempuan tsb dapet dukungan yang dibutuhin. Tapi komunitas-komunitas ini nggak bisa go public, jadi susah diakses karena cuman ytta, karena liat aja respon orang-orang masih begini.
Gue nggak minta kalian berubah jadi pro-aborsi. Silakan kalo mau lanjutin stigma dan penghakiman kalian, wahai pemegang kunci surga. Silakan kalo mau terus salahin perempuan-perempuan tsb tanpa kasih mereka solusi; nyatanya setiap hari akan tetap ada yang hamil di luar nikah/tidak direncanakan, terlepas dari setuju atau enggaknya kalian terhadap aborsi.
Btw aksi kalian hanya menyebabkan perempuan-perempuan ini jadi takut dan berakhir mencari jalan yang nggak aman, atau bayi yang dilahirin akhirnya terpaksa ditelantarin/dib*nuh. Dan masih banyak juga resiko lainnya kedepannya kayak dipaksa menikah dll yang ujung-ujungnya malah bikin semua pihak jadi sengsara, dst, nggak bisa gue jabarin satu-satu. So keep going, karena it shows you guys don't actually care (and it's not my responsibility to make you care). And while you're at it, don't forget to blame the men too. Karena kehamilan tidak direncanakan nggak pernah terjadi oleh satu orang.
Berarti pro dg Prancis yg larang hijab & niqab? Setuju jg dg AS yg nangkep & deportasi penduduk non-white? Sepakat jg dg israel yg ganggu ibadah umat Kristen & Islam?
Di mana bumi dipijak yadda yadda, kan?
It's called scapegoating. Di waktu krisis, pemerintah butuh kambing hitam. Biasanya kelompok yg bisa disalahin buat ngalihin amarah publik. Mereka harus berbeda & lemah secara politik. Mereka sama sekali ga salah, yg penting semua orang marah ke mereka, bukan ke pemerintah