Siang tadi sedang merogoh recehan di dompet. Sederhana tapi menegaskan! Saya tidak ingat, siapa yang menulis dan terjadi kapan. Tapi saya berterima kasih pada Anda.
Siang tadi sedang merogoh recehan di dompet. Sederhana tapi menegaskan! Saya tidak ingat, siapa yang menulis dan terjadi kapan. Tapi saya berterima kasih pada Anda.
Akhirnya refleksi seminggu ini tersadar: Kebanyakan dari kita hidup tidak menghidupi, karena ada di mode bertahan.
Padahal, bertahan hidup tanpa menjalaninya adalah sebuah kesia-siaan.
Tulisan ini mengambil perspektif yang berbeda dari kejadian di Ngada...
Kami diajarkan bahwa Gereja berdiri di pihak yang miskin,
bahwa para suster, frater, dan romo meninggalkan kenyamanan dunia
demi melayani manusia, terutama mereka yang kecil dan tersisih.
Namun hari ini, iman terasa semakin mahal,
dan pendidikan justru menjadi barang mewah.
Sekolah-sekolah Katolik yang dibangun di bawah naungan susteran dan frater
berlomba berdiri megah,
namun uang SPP-nya menjulang tinggi,
tak terjangkau oleh anak-anak dari keluarga miskin.
Di mana letak keberpihakan itu?
Di mana suara Injil yang berkata:
“Biarkanlah anak-anak datang kepada-Ku”?
Kami bertanya dengan sedih, bukan dengan kebencian:
apakah para biarawan sungguh masih peduli pada kemiskinan
yang nyata di depan mata?
Ataukah misi kemanusiaan kini kalah oleh kebutuhan lembaga
dan kenyamanan hidup?
Ada anak di Ngada yang memilih mengakhiri hidupnya
karena orang tuanya tak sanggup membeli buku tulis dan pulpen.
Setiap hari ia makan umbi dan pisang,
sementara sekolah—yang seharusnya menjadi jalan harapan—
justru menjadi tembok yang tak bisa ia lewati.
Peristiwa ini bukan sekadar angka,
ini adalah luka kemanusiaan yang dalam.
Di saat yang sama,
kami melihat sebagian suster, romo, dan frater hidup berkecukupan:
makan enak, tidur nyaman, bepergian dengan mobil.
Kami tahu mereka juga manusia,
mereka juga butuh hidup.
Namun apakah wajar bila kenyamanan itu dibayar
dengan tertutupnya pintu pendidikan bagi yang miskin?
BAHKAN ADA DRAMA YG LAGI TREND... REAL BENAR TERJADI DI SD/SMP KATOLIK FAFORIT
KALAU TIDAK LUNASI UANG Sekolah TIDAK BOLEH IKUT UJIAN....!!! ANAK YG TDK LUNAS TERPAKSA GIGIT JARI !!KASIHAN......😭😭
Kritik ini lahir dari cinta,
dari harapan agar Gereja kembali pada wajah aslinya:
wajah yang sederhana,
wajah yang berpihak,
wajah yang berani menggratiskan pendidikan
demi masa depan anak-anak kecil.
Jika Gereja kehilangan kepekaan pada tangisan orang miskin,
maka bangunan sekolah semegah apa pun
akan terasa kosong.
Karena iman tanpa kemanusiaan
hanyalah simbol tanpa jiwa.
Miris, sungguh miris.
RIP (Yohanes Bastian Roja)
Bahagia bersama para kudus di Surga
Tak semua catatan memiliki fakta, dan tak semua fakta memiliki catatan.
Terbayang, jika kita melihat sebuah kebenaran berdasarkan dari satu sisi saja. Apalagi jika mengambil kesimpulan, berasal dari sebuah "katanya".
Buku memang jendela dunia, namun bisa juga karangan fakta.
Gw curiga yg suka ngerusak dan ngerecokin umat kristiani (secara khusus katolik) itu bukan manusia, tapi evil 👿 or demon. Org yg beragama ga mungkin menyakiti penganut agama lain, kecuali evil or demon yg nyamar jadi manusia.