Jika suatu saat orang2 meninggalkan karena dirimu masih berproses. Biarkan saja, itu hak mereka dan juga bukan kesalahanmu. Jangan biarkan standart orang lain mempengaruhi semua langkah dan keputusanmu
@txtharihariWNI Orang indo ini selain munafik dan bodoh, gatau bagaimana cara untuk memberi empati. Minta maaf dikit langsung dicabut laporan. Maafin boleh, tapi konsekuensi tetap harus berjalan. Itu sebabnya koruptor di negeri ini mudah memanipulasi masyarakat indon.
@ContextmattersX@Huijsenmania Maluku udah gaada pencuri rempah2 bg. Kaya kah? Aceh bali provinsi yg gapernah di jajah dan kaya sumber daya, kaya raya kah? Bangsa ini tidak kaya bukan cuma pure penjajah. Tapi cara pikir manusianya kaya anda ini
Honestly, it’s messed up that some companies still reward you just for surviving the longest, rather than actually being good at your job and having a moral compass.
Gue baru nulis artikel soal X Algorithm 2026 dan cara kerja Grok Phoenix di For You feed.
Versi lengkapnya ada di artikel.
Tapi gue rangkum poin pentingnya di bawah, pakai bahasa yang lebih mudah dipahami biar kamu paham.
Ingin mencintai pekerjaan saat ini, tapi dari budaya, manajerial, kebijakan bahkan keputusan strategisnya tidak ada yang bisa buat puas dan pantas untuk di cintai
Jujur itu mahal! Orang yang terbiasa berbohong akan terus berbohong bahkan untuk hal2 kecil sekalipun, percayalah...
Jika orang tua, bahkan keluarganya saja terbiasa untuk dibohongi, apalagi cuma sekedar rekan kerja atau partner bisnis? Apalagi cuma sekedar teman?
Mereka mengambil roti yang menjadi hakmu,
lalu menyisakan remahan untukmu,
dan mereka mengatakan
“kau seharusnya berterima kasih kepadaku.
Berkat aku, kau tidak mati kelaparan”
cc:threadalek.zidan
@NurAlamSyhClcap@akumall_ Dengan dia belajar disana, itu berhubungan dengan mental nya. Merantau di negeri orang yang butuh adaptasi dari budaya hingga bahasa. Mental nya beda. Jaringan beda. Dan bisa jadi akreditasinya jauh diatas UIN. Kau udah tolol, berbicara pula. Mental kepiting kau idiot!
Lebih baik melakukan sesuatu meskipun kamu tidak tahu itu akan berhasil atau gagal, daripada melakukan kebanyakan yang dilakukan orang lain. Apa itu? Tidak melakukan apa-apa
Hanya karena kita mampu mengangkat sesuatu, bukan berarti itu tidak berat. Hanya karena kita tidak pernah mengeluh, bukan berarti semuanya baik-baik saja
Dalam psikologi sosial, sentimen kelompok kognitif rendah terhadap kognitif tinggi, bisa disebut dengan Anti-Intelektualisme. Kelompok yang merasa tertinggal secara kognitif atau pendidikan sering kali mengembangkan rasa tidak percaya atau permusuhan terhadap kelompok "elit intelektual."
Menurut Social Identity Theory (Tajfel & Turner), setiap kelompok berusaha mempertahankan citra positif tentang diri mereka. Ketika kelompok kognitif tinggi dianggap sebagai standar "kesuksesan," kelompok lain mungkin merasa terancam secara psikologis.
Kelompok kognitif rendah sering memandang kelompok kognitif tinggi sebagai sosok yang sombong, tidak praktis, atau tidak peka terhadap realitas hidup orang biasa. Hal ini menciptakan jarak emosional yang memicu kebencian.
Untuk menyeimbangkan rasa rendah diri kognitif, kelompok ini sering menekankan nilai-nilai lain seperti "moralitas," "kejantanan," "akal sehat (common sense)," atau "kepatuhan pada tradisi" sebagai bentuk keunggulan mereka atas kelompok intelektual.
Penelitian oleh Hodson dan Busseri (2012) menunjukkan adanya korelasi antara kemampuan kognitif yang lebih rendah dengan tingkat prasangka yang lebih tinggi terhadap "outgroups" (kelompok luar).
Hal ini dikarenakan individu dengan kognitif rendah cenderung lebih menyukai struktur yang kaku dan hierarki sosial yang jelas untuk merasa aman di dunia yang kompleks.
Kritik yang logis memaksa seseorang untuk berpikir lebih keras (cognitive strain). Menyingkirkan pengkritik intelektual adalah cara termudah bagi kognitif rendah untuk kembali ke kondisi "nyaman" di mana keyakinan mereka tidak dipertanyakan.
Jika dominasi kelompok rendah didasarkan pada dogma atau narasi tertentu, maka intelektualitas adalah ancaman eksistensial. Menyingkirkan intelektual adalah bentuk mekanisme pertahanan diri kelompok.
Kelompok kognitif tinggi akan diberi label negatif seperti "elitis," "sok tahu," "tidak nasionalis," atau "pengkhianat rakyat." Ini bertujuan untuk merusak kredibilitas mereka di mata publik sebelum argumen mereka sempat didengar.
Dalam organisasi atau pemerintahan, kelompok mayoritas mungkin menerapkan sistem seleksi yang lebih mengutamakan loyalitas dan keseragaman daripada kompetensi atau kecerdasan. Orang-orang cerdas yang kritis sengaja tidak diberi ruang agar tidak "mengganggu" arus utama.
Ketika kelompok kognitif rendah berhasil menyingkirkan pengaruh kelompok kognitif tinggi, masyarakat tersebut biasanya mengalami fenomena yang disebut The Race to the Bottom atau kemunduran standar.
Karena kritik dianggap sebagai gangguan, tidak ada ruang untuk perbaikan. Kesalahan yang sama diulang terus-menerus karena tidak ada yang berani (atau mampu) mengoreksinya.
Individu-individu cerdas di dalam kelompok tersebut akan memilih untuk diam (silent majority) atau pergi ke lingkungan lain yang lebih menghargai kecerdasan (brain drain), yang pada akhirnya semakin memperlemah kelompok tersebut.
Ini hampir mirip dengan kejadian tahun 60-an di mana 1 generasi intelektual hilang hanya gara-gara politik "kelompok kognisi rendah."
Tidak disangka, hari ini kita akan mengalaminya lagi. 1 generasi dipersekusi, diusir, dan akan "hilang" digantikan dengan perut yang kenyang (MBG).
@tanyakanrl Kalian tolol apa gmna sih? Atau gapunya temen dekat apa gmna? Apa nyari atensi doang karena gabut? Jaman skrg milih wanita tuh harus pande2, klo dapet modelan gini musibah bgt
@LambeSahamjja Biarin aja min dia dengan keluh kesahnya. Rata2 PNS-BUMN ini merasa kerjaan mereka paling berat. Gapernah kerja di swasta yaa gtu. Gapunya tolak ukur