dimarahin kan? yaudah
yaudah saya juga dimarahin
yaudah berarti lu dimarahin gara gara ngelawan mak lu sama bapak lu, bener ga?
emang gua ngelawan? ngelawan apa coba? ga ngebales, ga ngebales mukul kan?
saya juga ngga mukul, ni tadi pagi buktinya apa tuh, yoga! mandi!
“yaudah, kalau ngga bisa beli bensin jalan kaki aja”
TROTOAR LU NOHHHHH BOLONG BOLONGGGG trotoar aja dipake buat parkir liar segala gala nyuruh jalan kaki
Video ini bahas kondisi ekonomi Indonesia versi para ekonom (bukan versi pemerintah)
Buat yang males dengerin bapak2 yapping 1 jam, ini rangkuman-nya:
> 23% penerimaan pajak habis cuma buat bayar bunga utang. Bukan utangnya, bunganya doang. Dan utang itu bukan untuk investasi produktif.
> Pemerintah denial. Narasi "ekonomi baik-baik saja" nggak cocok sama data lapangan. Menurut para ekonom ini, sikap sugar coating justru bikin investor kabur dan kepercayaan pasar runtuh.
> Krisis 1998 vs sekarang beda dinamikanya. Sekarang hedge fund (lembaga keuangan non-bank) jauh lebih dominan. Tekanan ke surat utang pemerintah lebih berat, lebih cepat, dan lebih susah dikontrol.
> Kelas menengah bawah mulai jebol. Kredit macet di pinjol legal naik. Kartu kredit dipakai buat beli kebutuhan sehari-hari, bukan barang mewah.
Yang harus dilakukan pemerintah menurut mereka:
- Akui kondisinya apa adanya. Trust publik dan pasar nggak bisa pulih kalau komunikasi pemerintah terus defensif.
- Potong belanja yang nggak produktif. Ruang fiskal makin sempit, nggak ada pilihan lain.
- Data harus jujur. Kalau diagnosanya salah karena data dimanipulasi, "obat" yang dikasih juga salah.
- Pakai soft power, bukan konfrontasi. Rangkul semua elemen masyarakat lewat dialog. Solidaritas sosial itu aset yang nyata.
Kesimpulan: Kalau currency crisis ini nggak ditangani serius, urutannya bisa panjang: dari krisis moneter, ke krisis finansial, ke krisis ekonomi, sampai krisis sosial.