@Arieragraha@zandisini@ardisatriawan Lha ya memang, itu kalo pikirannya bener begitu. Masalahnya kan Presiden ente ngomongnya MBG ini utk stunting. Dibalikin sama Media, kalo stunting jadi latar belakang MBG kok sebarannya gak ngikutin prevalensi stunting. Intinya MBG ini emang ngaco aja gak ada dasar teknokratisnya
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Situasi yang dialami Bursa Efek Indonesia (BEI) & Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hari-hari ini bukan semata soal teknis permintaan dan penawaran. Tetapi, hendaknya dibaca sebagai reaksi ekosistem ekonomi atas merosotnya tata kelola, hilangnya prudensi dalam pengelolaan fiskal dan moneter, maraknya tindak tanduk kekuasaan yang diwarnai oleh konflik kepentingan, dan hancurnya meritokrasi oleh nepotisme yang kian telanjang.
Sistem yang rapuh tidak mungkin mampu menjaga beban dan kompleksitas yang terus meningkat.
Hendaknya para pengurus negara mulai introspeksi dengan sungguh-sungguh, dan mulai menumbuhkan keinsyafan bahwa kegilaan tidak bisa berlangsung selama-lamanya.
Bagus Muljadi, profesor termuda Indonesia yang kini mengajar di University of Nottingham, menyentil satu hal penting:
pendidikan kita mahal, tapi arahnya murahan.
Di luar negeri, kampus meringankan biaya dan memamerkan alumni sukses sebagai pertanggungjawaban moral.
Di Indonesia, mahasiswa bayar mahal dulu. Soal masa depan, silakan cari sendiri.
*Indonesia dihukum atas karena tidak transparan*
Harga Saham di Indonesia turun - sementara harga saham negara lain naik.
Ini terjadi karena Bursa Indonesia dianggap tidak transparan. Ini diduga karena permainan Oligarki menyembunyikan data pemegang saham sebenarnya di perusahaan masing-masing.
OJK harus ikut tanggung jawab.
OJK salah satu lembaga yang GAGAL.
Hampir semua tanggung jawab pengawasan @ojkindonesia seperti Pinjol, Judol, Bursa, dan perbankan gagal. Sementara mereka digaji ratusan juta perbulan dan bagi-bagi CSR ke anggota DPR.
Dari zaman Orde Baru sampai 2014, kita punya sistem pemasokan suplai bensin se-Indonesia yang aneh.
Apabila bensin dari Timur Tengah mau masuk Indonesia, ia tidak boleh masuk lewat sembarang kapal tanker, tetapi harus lewat suatu Perusahaan Misterius X.
Monopoli pengimporan ini memberikan kekuasaan bagi Organisasi Hitam Jahat Misterius itu untuk menetapkan biaya pengimporan bensin nasional secara asal-asalan dan sesukanya.
Monopoli ini sudah ada sejak zaman Orde Baru. Pada saat itu, keluarga Cendana yang berkuasa telah menjadi the Lord of Crime di Indonesia.
Untuk setiap liter bensin yang masuk ke Indonesia, harganya dinaikkan serampangan oleh gerombolan mafia ini.
Keutungan perusahaan mafia ekspor impor ini tentu fantastis. Ratusan triliun per tahun.
Perusahaan ini jelas merampok langsung dari rakyat secara gila-gilaan. Setiap kita beli bensin, sebagian uangnya dirampok oleh Perusahaan Misterius X ini.
Mereka seperti hewan parasit cacing pita berbahaya yang menyedot ekonomi nasional secara gila-gilaan.
Setiap tahun, uang sebanyak ratusan triliun mereka rampok.
Setelah puluhan tahun, ribuan triliun dirampok.
Uangnya mereka hamburkan untuk berjudi, hidup bermewah-mewahan di mansion-mansion, menyogok dan mendanai sebanyak-banyaknya orang / parpol / ormas yang perlu disogok, serta dengan paranoid membiayai usaha pembasmian terhadap siapapun yang berani membongkar.
Jika usaha ini termasuk mendanai kekacauan besar-besaran yang menggoyang kestabilan nasional setelah 2014, maka ya dilakukan.
Siapakah perusahaan ini? Siapa bos-bos mafia misterius ini?
OK jawabannya sudah jelas. Perusahaannya adalah Petral. Nama yang muncul dalam catatan sejarah adalah Tommy Soeharto, Bob Hasan, dan lalu Riza Chalid.
- Tommy Soeharto adalah anak Soeharto. Selain Petral, ia juga terlibat dan skema Perampokan Nasional fantastis lain seperti monopoli cengkeh BPPC. Ketika gabut ia juga terlibat skema-skema yang lebih kecil, tidak cerdas, dan langsung rampok seperti pencurian nilai aset tanah negara.
Tommy sendiri tertangkap dan divonis sebagai dalang pembunuhan jaksa Syafiuddin Kartasasmita yang berusaha mengusutnya pada masa Reformasi. Syafiuddin dibunuh dengan brutal menggunakan senjata api hingga tewas berlubang-lubang.
Pada saat yang sama, Tommy Soeharto juga berusaha membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman dan Menteri Industri dan Perdagangan Luhut B. Pandjaitan dengan bom karena dianggap membahayakan pundi-pundi kekayaan raksasa keluarganya.
Pada saat yang sama, tim investigasi di masa kepresidenan Gus Dur mengumumkan bahwa Tommy Soeharto adalah dalang pengeboman Bursa Efek di Jakarta, yang dilakukan untuk merusak kestabilan nasional, membuat investor kabur, dan mencegah pengusutan lebih lanjut terhadap keluarga Cendana. Salah satu gerombolan ormas preman yang dipelihara Soeharto juga terlibat langsung dalam eksekusi pengeboman ini.
"Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh." Tim tersebut juga menduga bahwa Tommy terlibat dalam berbagai pengeboman teroris lain, bukan hanya Bursa Efek. Gus Dur sendiri kemudian digulingkan dari kursi kepresidenan.
- Bob Hasan "si raja hutan" adalah operator bisnis keluarga Cendana yang sudah beraktivitas kriminal dengan Soeharto sejak mereka masih sibuk merampok hasil gula Jawa Tengah pada akhir 1950an. Ia adalah salah satu dari dua oligarki terbesar zaman Orde Baru. Oligarki satunya adalah Sudono Salim.
- Riza Chalid sangat misterius.
Ormas preman kalah rampok dibanding Brownies. Brownies kalah rampok dibanding Mafia Ekspor Impor. Dalam hal ini Petral adalah final boss dari Ekonomi Preman Indonesia.
Tetapi apa iya yang terlibat hanyalah ketiga nama yang sering muncul ini?
Siapa antek-antek mereka?
Ketika SBY menaikkan harga BBM sehingga didemo besar-besaran, berapa persenkah dari harga BBM itu yang sebenarnya mereka rampok?
Ketika Soeharto menaikkan harga BBM tahun 1998 yang memicu demo meluas oleh rakyat miskin dan menderita, berapa persenkan dari harga BBM itu yang masih saja dengan serakah mereka rampok?
(Note: Pada Maret 1998, Bob Hasan ditunjuk Soeharto menjadi Menteri Industri dan Perdagangan. Merampok sampai akhir.)
Apa yang mereka lakukan dengan uang itu?
Kemanakah semua uang itu mengalir? Kok para politisi terima-terima saja dengan gerombolan preman ekspor impor migas raksasa ini sih?
Apakah sistem ini masih ada hari ini?
---
Selama puluhan tahun, Petral merampok ribuan triliun dari Indonesia.
Dalam beberapa tahun saja, mafia judi online merampok ribuan triliun dari Indonesia. Ternyata ada final boss True Ending yang baru.
Indonesia juga sedang dirampok lagi sebanyak ratusan triliun per tahun lewat MBG. Habis Petral terbitlah MBG.