@AkemiNekomachi if test DNA = DNA ayam -> ih serem banget tipu daya kuyang. Berarti kalau siang dia menjelma menjadi ayam.
if test DNA = DNA orang yang nyebarin berita kuyang -> Ya tuhan berarti saya sudah ketempelan kuyang.
else = kan bener itu darah kuyang buktinya aja gak kedeksi sama tes DNA
@guzman_sige Ya karena bulenya bos gak sih? Bisanya country representative dari head officenya. Gak mungkin alasannya inklusifitas. Kemungkinan besar alasannya “ini company gua, lu ikut aturan gua”. Indonesia punya inferiority complex karena emang inferior.
Agak unpopular, S2 dalam beberapa case agak gambling. Karena ngerasa kerjaan ga secure, jadi ambil S2. Ada potensi waktu S2 itu ngebuang waktu & umur. Setelah lulus ga ada jaminan karir moncer. Cewenya ngomong begitu ya rude memang, tapi understandable.
Saya nulis dari perspektif cowo yang waktu ngejalanin hubungan serius, malah lanjut S2, ended up bubar
This MBG stuff could be a really good motion for collegiate level debate competition. There are so many points of interest for arguments on either pro or against side. @alsaecomp
Gini ya Nil.. walaupun saya ragu, kamu bisa nulis itu, namun saya akan kasih pelurusan.
1. Stop jualan angka Rp769 Triliun seolah-olah itu prestasi heroik pemerintah. Sesuai Amandemen UUD 1945, anggaran pendidikan WAJIB minimal 20% dari APBN. Kalau APBN kita naik, ya otomatis angka nominalnya naik. Itu namanya kewajiban, bukan kemurahan hati.
2. Di poin 2/ kamu bilang MBG 'menambah postur' tapi di poin 1/ angka Rp769 T itu sudah termasuk Badan Gizi Nasional (Rp223,5 Triliun). Ini namanya Creative Accounting. Uang makan siang dimasukkan ke kantong pendidikan supaya kewajiban 20% tadi terpenuhi secara angka, tapi fungsinya melenceng. Kenapa nggak pakai pos Anggaran Perlindungan Sosial saja?.
3. Naik dari Rp203 T ke Rp211 T (naik Rp8 T) itu tipis banget kalau dibandingin sama inflasi dan jumlah guru honorer yang masih luntang-lantung. Anggaran Badan Gizi malah dapat Rp223 T. Masa anggaran makan lebih besar daripada anggaran gaji dan kesejahteraan guru se-Indonesia? Prioritasnya di mana?
4. Klaim 'revitalisasi terbesar sepanjang sejarah' sebesar Rp23,06 T itu sebenarnya jomplang banget kalau dibandingin sama anggaran makan Rp223,5 T. Jadi, anggaran buat memperbaiki bangunan sekolah yang ambruk di pelosok cuma 10% dari anggaran makan siang? Prioritas macam apa ini?
5.Lucu kalau bilang hapus birokrasi tapi malah bikin lembaga baru bernama Badan Gizi Nasional dengan anggaran fantastis. Itu kan nambah birokrasi baru namanya! Kalau mau efisien, mending perbaiki sistem yang sudah ada daripada bikin pos anggaran raksasa yang rawan penyimpangan.
6. Stop pakai istilah moralistik seperti 'Pahlawan'. Ini urusan tata negara dan penggunaan APBN, bukan drama kolosal. Rakyat bayar pajak supaya negara punya sistem pengawasan (BPK, KPK, Inspektorat) yang bekerja. Kalau ujung-ujungnya rakyat yang harus 'pasang badan' jagain nasi kotak biar nggak dikorupsi, ya buat apa kita bayar gaji pejabat dan lembaga pengawas? Hotline , baik. Tapi lembaga resmi juga yang harus jadi yang paling aktif.
@hamoomindan Anggaplah ada 100 agama di dunia. Kalau kamu mempercayai 1 agama, berarti kamu tidak mempercayai 99 agama lain. Sementara ateis tidak mempercayai 100 agama. Jadi kamu dan ateis tidak beda jauh, cuma selilsih 1 agama aja